← Beranda
Bantuan Pemadaman Karhutla di Kalimantan, Helikopter Chinook Jepang Sudah Jatuhkan 22 Ton Air
Syahrul Yunizar• Rabu, 30 September 2026 | 21.22 WIB
Sebanyak 3 Helikopter Chinook milik Jepang berada di Kalimantan untuk melakukan pemadaman karhutla. (TNI)

 

JawaPos.com - Selama bertugas dalam misi kemanusiaan bantuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Helikopter CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) sudah terlibat dalam 40 operasi udara. Total, mereka menjatuhkan 220 ton air melalui water bombing. 

Secara resmi, Pemerintah Jepang mengakhiri dukungan pemadaman karhutla di Kalimantan pada Selasa (29/9). Tugas itu dituntaskan setelah lebih kurang 2 pekan pasukan dari Jepang berada di Indonesia. Operasi bantuan tersebut dihentikan setelah Kementerian Pertahanan Jepang mengeluarkan perintah.

”Militer Jepang atau Self-Defense Forces (JSDF) menyiagakan 3 helikopter jumbo CH-47 Chinook untuk melakukan pengeboman air atau water bombing. Pengakhiran ini diputuskan oleh Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan dalam keterangan resminya pada Rabu (30/9). 

Selama beroperasi di Kalimantan, Pasukan Bela Diri Jepang membantu Pemerintah Indonesia mencegah meluasnya kebakaran hutan. Dalam operasi yang dilakukan 2 pekan belakangan, 3 unit helikopter Chinook milik Jepang sudah melakukan 40 kali operasi udara dengan menjatuhkan lebih dari 220 ton air. 

”Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengapresiasi dukungan SDF dalam membantu pemadaman karhutla lahan gambut di wilayah Kalimantan,” kata Berton.

Operasi yang tergabung dalam Satuan Tugas Udara tersebut dimulai sejak 16 September 2026 lalu. Pengeboman air dilakukan dengan menggunakan armada Chinook di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) seperti Pontianak dan Ketapang. Bantuan tersebut merupakan pertama kalinya militer Jepang melakukan operasi pemadaman karhutla dalam misi luar negeri. 

Untuk sampai di Kalimantan, kapal pengangkut Chinook dan personel bertolak dari Pelabuhan Kure di Prefektur Hiroshima pada 30 Agustus 2026 lalu. Mereka tiba di Pelabuhan Kijing, Kalbar, pada 10 September 2026 dan langsung bersiap melaksanakan operasi.

”Bantuan militer Jepang ini merupakan wujud konkret kerja sama antara Kementerian Pertahanan dua negara untuk memperluas operasi pertahanan, termasuk latihan militer dan operasi kemanusiaan,” imbuhnya.

Berdasar informasi dari Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Sekretariat Jenderal (Setjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) dukungan yang diberikan oleh Jepang merupakan implementasi konkret Defense Cooperation Arrangement (DCA) Indonesia–Jepang, khususnya dalam bidang Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). 

Baca Juga: Kejagung Terima 172 SPDP Kasus Pidana Karhutla Sejak Januari-September 2026

”Melalui kerangka tersebut, kedua negara memperkuat kerja sama dalam pengelolaan bencana, termasuk koordinasi bantuan kemanusiaan, dukungan logistik, dan pemanfaatan aset transportasi dalam situasi darurat,” ungkap Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.

 

EDITOR: Kuswandi