← Beranda
Krisis Air Bersih Perburuk Penanganan Karhutla di Kalimantan dan Sumatra
Tazkia Royyan Hikmatiar• Rabu, 14 Oktober 2026 | 18.50 WIB
Kondisi lahan di Desa Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Kamis (3/9) usai pemadaman karhutla yang dilanjutkan pendinginan. (BPBD Jambi)

JawaPos.com - Kekeringan parah dan ketiadaan sumber air bersih membuat relawan kesulitan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut di Kalimantan dan Sumatra. Sejumlah warga terpaksa pasrah menunggu api mendekati kebun mereka karena tidak memiliki sarana memadai untuk melakukan pemadaman.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belqis Habiba mengatakan, kondisi karhutla tahun ini lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak ia terlibat dalam penanganan kebakaran pada 2019. 

Selain kebakaran, ia menyebut khususnya masyarakat di Kalimantan Barat hingga wilayah Kalimantan lainnya juga menghadapi kekeringan ekstrem.

Baca Juga: Indonesia Gagal Tangani Karhutla, Ratusan Hektare Itu Besar Apalagi di Gambut

”Bahkan satu bulan saya di Kalimantan Barat itu air bersih nggak ada. Air yang ada itu adalah air asin, bahkan PDAM-nya pun asin,” ujar Belqis saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (14/10).

Ia menjelaskan, ketersediaan air menjadi kendala utama karena kebakaran di lahan gambut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Sementara itu, fungsi gambut sebagai penyimpan air terganggu akibat pengeringan lahan melalui pembangunan kanal, termasuk untuk kepentingan perkebunan.

Air yang dialirkan keluar dari kawasan gambut membuat lahan semakin kering dan rentan terbakar. Ketika api muncul, relawan kesulitan mendapatkan sumber air untuk memadamkannya.

”Relawannya ada yang mau memadamkan, tapi sumber airnya nggak ada. Bagaimana mereka bisa memadamkan?” katanya.

Belqis menyebut, pemadaman dengan cara memukul api hanya memungkinkan dilakukan pada titik kebakaran kecil. Ketika api membesar, relawan tidak memiliki banyak pilihan karena keterbatasan air dan sarana pemadaman.

Kondisi tersebut juga membuat upaya water bombing menghadapi tantangan. Menurutnya, gambut yang sudah sangat kering membutuhkan air dalam jumlah besar agar dapat menyerapnya kembali.

”Makanya kemudian banyak relawan yang menyerah karena sumber air nggak ada,” ungkapnya.

Kesulitan itu, lanjut Belqis, tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat. Di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, keterbatasan komunitas pemadam dan sarana pendukung membuat warga semakin sulit menghadapi kebakaran yang mendekati permukiman maupun lahan perkebunan mereka.

Ia mencontohkan kondisi warga di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang memiliki kebun karet di kawasan terdampak karhutla. Karena tidak memiliki cukup air untuk memadamkan api, warga memilih membersihkan area di sekitar kebun untuk mengurangi material yang mudah terbakar.

”Akhirnya apa? Warga pasrah. Kebun-kebun mereka, kan warga itu punya kebun,” kata Belqis.

Warga membuat jarak sekitar satu hingga dua meter dari area yang diperkirakan akan dilalui api. Daun-daun kering yang berpotensi menjadi bahan bakar dibersihkan agar warga memiliki ruang untuk berupaya memukul api jika kebakaran mendekati lahan mereka.

Menurut Belqis, langkah tersebut menjadi pilihan di tengah keterbatasan air dan sulitnya akses pemadaman. Padahal, warga yang tinggal jauh dari pusat layanan juga menghadapi kendala untuk mendapatkan bantuan kesehatan akibat paparan asap.

Ia mengatakan, sebagian masyarakat kesulitan menjangkau puskesmas untuk memperoleh layanan kesehatan maupun masker. Dampak karhutla pun tidak berhenti pada persoalan pemadaman, tetapi turut menyangkut keselamatan dan kesehatan warga yang terus menghirup asap.

”Jadi sebenarnya dampaknya itu multiplier, nggak cuma soal bagaimana api itu dipadamkan, tapi bagaimana kemudian warga yang menghirup asap berlarut-larut ini juga mendapatkan bantuan,” tandasnya

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah