← Beranda
Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Dipadamkan? Api Bisa Menjalar di Bawah Tanah
Nanda Prayoga• Sabtu, 17 Oktober 2026 | 16.16 WIB
Petugas patroli pencegahan karhutla memadamkan kebakaran lahan gambut di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Bayu Pratama/Antara

JawaPos.com - Kebakaran lahan gambut memiliki tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga bisa merambat ke lapisan organik di bawah tanah. 

Kondisi ini membuat pemadaman membutuhkan penanganan khusus, terutama untuk memastikan sumber api benar-benar dapat dikendalikan.

Guru Besar Bidang Ilmu Kimia dan Pengolahan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Benito Heru Purwanto, menjelaskan bahwa gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Material organik tersebut rentan mengalami kerusakan ketika kondisi air yang menjaga kelembapan lahan terganggu.

Baca Juga: Jadwal Waktu Shalat Hari Ini Sabtu, 17 Oktober 2026 Untuk Wilayah Cirebon dan Sekitarnya

Menurut Benito, pengeringan gambut akibat pembangunan kanal maupun pengelolaan lahan yang menurunkan muka air tanah dapat meningkatkan risiko kebakaran. Ketika kondisi gambut mengering, api berpotensi menjalar hingga ke bagian bawah permukaan tanah.

“Apinya bukan berasal dari gambut, tetapi aktivitas kita,” kata Benito seperti dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (17/10).

Pernyataan tersebut menyoroti peran aktivitas manusia dalam memicu kebakaran. Karena itu, pengelolaan lahan perlu memperhatikan kondisi hidrologi gambut agar kelembapannya tetap terjaga dan tidak mudah terbakar.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Virgo 17 Oktober 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan

Benito menjelaskan, karakteristik kebakaran gambut membuat pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan metode yang biasa digunakan untuk mengatasi api di permukaan. Penyiraman dari udara atau water bombing, misalnya, dinilai tidak cukup efektif apabila sumber api berada di bawah tanah.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah pembasahan kembali atau rewetting. Upaya ini bertujuan memulihkan kondisi gambut agar tetap basah sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.

Pencegahan juga perlu dilakukan sebelum memasuki musim kemarau. Menurut Benito, pengelolaan tata air dan pemeliharaan kelembapan gambut sebaiknya dimulai sejak musim hujan, bukan menunggu sampai kebakaran terjadi.

 

Selain menyulitkan pemadaman, kebakaran gambut juga menimbulkan kerusakan ekologis yang membutuhkan waktu lama untuk pulih. Api dapat mempercepat hilangnya material organik dan menyebabkan permukaan tanah mengalami penurunan.

“Mengingat pembentukan gambut membutuhkan waktu sangat lama, kerusakan akibat kebakaran menjadi persoalan ekologis yang pemulihannya tidak dapat dilakukan secara singkat,” tegasnya.

Baca Juga: Jadwal Waktu Shalat Hari Ini Sabtu, 17 Oktober 2026 Untuk Wilayah Bandung dan Sekitarnya

Oleh karena itu, menjaga gambut tetap basah menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Pengelolaan tata air sejak dini diperlukan untuk mengurangi risiko api menjalar sekaligus melindungi ekosistem gambut dari kerusakan berkepanjangan.

EDITOR: Bintang Pradewo