← Beranda
DDMF: Transisi Energi Buka Peluang Industri Otomotif RI
Dinarsa Kurniawan• Senin, 12 Oktober 2026 | 04.15 WIB
Managing Director Development Investment PT DDMF, M. Rachmat Kaimuddin (kiri). (Danantara)

 

 

JawaPos.com - Industri kendaraan listrik (EV) Indonesia berpeluang menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi, mulai dari produksi baterai, pengolahan mineral, hingga manufaktur komponen otomotif.

Pengembangan ekosistem tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.

Danantara Development Management Fund (DDMF) melihat transisi energi dan hilirisasi sebagai salah satu strategi untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Managing Director Development Investment PT DDMF, M. Rachmat Kaimuddin, menyampaikan pandangan tersebut dalam sesi Executive Interview: How Does the Energy Transition Help Indonesia Escape the Middle Income Trap? pada BloombergNEF Forum Jakarta 2026.

“Transisi energi bagi Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan peluang untuk mencapai kemakmuran dan memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Rachmat.

Menurut dia, Indonesia memiliki sumber daya alam dan pasar domestik yang besar untuk mengembangkan industri berbasis energi bersih. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun rantai pasok kendaraan listrik, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi baterai dan komponen otomotif.

“Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor, meningkatkan nilai ekspor melalui hilirisasi, menarik investasi, serta menciptakan industri dan lapangan kerja baru,” katanya.

Peluang tersebut tercermin dari realisasi investasi hilirisasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp584,1 triliun. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, angka itu meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menyumbang 30,2 persen dari total investasi nasional sebesar Rp 1.931,2 triliun.

Sementara itu, BloombergNEF melalui Indonesia Transition Factbook 2025 memperkirakan transformasi Indonesia menuju ekonomi dengan emisi nol bersih membuka peluang ekonomi senilai 3,8 triliun dollar AS hingga 2050.

Bagi industri otomotif, peluang tersebut mencakup pengembangan kendaraan listrik, baterai, pengolahan mineral, dan manufaktur komponen pendukung. Namun, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas produksi, penguasaan teknologi, serta kesiapan rantai pasok domestik agar manfaat ekonominya dapat dinikmati secara luas.

Elektrifikasi transportasi juga berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang masih diimpor. Meski demikian, pertumbuhan kendaraan listrik perlu didukung pasokan listrik dan infrastruktur pengisian daya yang memadai.

Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sekitar 76 persen atau 52,9 GW di antaranya berasal dari energi baru dan terbarukan serta sistem penyimpanan energi.

Program tersebut diperkirakan membuka peluang investasi hingga Rp2.133,7 triliun. Ketersediaan listrik menjadi faktor penting untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, fasilitas pengisian daya kendaraan listrik, maupun kegiatan manufaktur.

Namun, besarnya peluang investasi membutuhkan persiapan proyek yang matang agar menarik investor jangka panjang. Rachmat menilai tantangan utama tidak hanya terletak pada ketersediaan dana, tetapi juga kemampuan menyiapkan proyek yang layak secara bisnis.

“Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, melainkan bagaimana menyiapkan proyek yang layak investasi,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, DDMF menjalankan mandat investasi untuk mendukung proyek strategis nasional, terutama di bidang ketahanan dan kedaulatan nasional, infrastruktur esensial, serta hilirisasi dan industrialisasi.

DDMF turut berperan dalam pengembangan dan penyiapan proyek agar memenuhi kelayakan investasi, sekaligus membuka peluang partisipasi modal swasta.

“DDMF akan berperan dalam pengembangan dan penyiapan proyek strategis, sekaligus berpartisipasi melalui penempatan modal,” kata Rachmat.

Bagi industri otomotif, sinergi antara transisi energi, hilirisasi, dan investasi berpotensi mendorong Indonesia berkembang dari pasar kendaraan menjadi basis produksi dengan nilai tambah lebih tinggi. Namun, realisasi peluang tersebut bergantung pada kesiapan teknologi, infrastruktur, dan kemampuan industri lokal untuk bersaing.

Baca Juga: Fokus Percepat Swasembada Energi, Danantara Bakal Investasi Pabrik Etanol

Integrasi energi bersih dan industrialisasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong Indonesia menuju kelompok negara berpendapatan tinggi pada 2045. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan