← Beranda
8 Kebiasaan Anak yang Dibesarkan Orang Tua Emosional Meledak-ledak Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 2 Oktober 2026 | 22.42 WIB
Kebiasaan anak yang dibesarkan orang tua emosional meledak-ledak menurut psikologi./Magnific/ bearfotos

JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa dukungan emosional menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang seorang anak.

Orang tua yang mencontohkan emosi positif di rumah cenderung membesarkan anak dengan pengaturan emosi yang baik.

Sayangnya, tidak semua anak dibesarkan dalam lingkungan seperti itu sehingga mereka mengembangkan kebiasaan bertahan tertentu.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (1/10), berikut delapan kebiasaan yang biasa dibawa hingga dewasa oleh anak yang dibesarkan orang tua dengan emosi meledak-ledak.

1. Mampu merasakan perubahan suasana dalam ruangan

Tumbuh bersama orang tua yang emosinya tidak stabil dapat mengubah cara seseorang memandang dunia sekitarnya.

Sejak kecil, mereka terus-menerus waspada menunggu momen ketika seseorang mungkin akan marah kepadanya.

Sebagai anak, mereka berharap dapat menenangkan situasi sebelum ledakan emosi besar benar-benar terjadi.

Kewaspadaan berlebihan ini terus terbawa hingga dewasa sebagai cara mereka membaca situasi di sekitarnya.

2. Berusaha menyenangkan semua orang

Ketika orang tua marah, sebagian anak melakukan apa pun untuk menenangkan suasana yang tegang tersebut.

Mereka memahami betapa cepat situasi bisa memburuk sehingga menyenangkan orang tua menjadi cara menciptakan ketenangan.

Kebiasaan menyenangkan orang lain ini terus terbawa hingga dewasa sebagai satu-satunya cara menjaga kedamaian.

Dorongan ini muncul karena mereka tidak pernah tahu kapan orang tuanya akan kembali marah.

3. Menutup diri saat menghadapi konflik

Anak yang mengalami trauma masa kecil cenderung mengembangkan kecemasan sosial ketika tumbuh dewasa nanti.

Mereka tidak pernah merasa nyaman berada di rumah atau di dekat orang tuanya sejak kecil.

Konflik yang sering terjadi membuat mereka belajar bahwa diam menjadi cara paling aman untuk bertahan.

Kebiasaan menutup diri ini terus berlanjut hingga dewasa sebagai cara menghindari perselisihan lebih lanjut.

4. Tidak pernah meminta bantuan orang lain

Meminta bantuan membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Anak yang tidak pernah merasa didukung di rumah cenderung kesulitan besar untuk mencari bantuan.

Mereka tumbuh menjadi pribadi yang sangat mandiri karena meyakini hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

Orang tua yang terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri membuat anak belajar memendam emosinya tanpa bantuan.

5. Selalu menunggu datangnya kabar buruk

Seseorang yang selalu waspada dapat merasa tertekan justru ketika berada dalam lingkungan yang tenang.

Mereka tumbuh bersama orang tua yang bisa marah kapan saja tanpa peringatan yang jelas.

Ketika hidup terasa relatif tanpa konflik, mereka justru merasa curiga dan terus menunggu ledakan berikutnya.

Perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi membuat mereka sulit merasa tenang sepenuhnya.

6. Terus-menerus menjelaskan diri secara berlebihan

Orang tua dengan emosi tidak stabil membuat suasana rumah terasa sulit diprediksi bagi anaknya.

Hal kecil yang sebelumnya bukan masalah bisa berubah menjadi hukuman serius tanpa peringatan sebelumnya.

Anak yang dibesarkan dalam kondisi ini berusaha menjelaskan alasannya secara berlebihan demi menghindari masalah.

Kebiasaan ini terus terbawa hingga dewasa sebagai cara membuat orang lain memahami tindakannya.

7. Selalu bertanya apakah orang lain marah kepadanya

Trauma masa kecil akibat dibesarkan orang tua yang tidak stabil dapat memengaruhi kepercayaan diri seseorang.

Orang tua tersebut mudah tersulut emosinya, entah karena stres kerja atau situasi lain di rumah.

Anak sering kali tidak memahami alasan di balik kemarahan orang tuanya yang muncul tiba-tiba.

Kondisi ini membuat mereka terus meragukan hubungan dan bertanya-tanya apakah dirinya telah menyakiti orang lain.

8. Meminta maaf meski tidak melakukan kesalahan

Menjaga kedamaian di rumah dengan orang tua yang meledak-ledak tidak pernah menjadi hal yang mudah.

Anak-anak dalam situasi ini terus-menerus meminta maaf demi menyenangkan orang-orang di sekitarnya.

Mereka merasa selalu melakukan kesalahan sehingga segera meminta maaf untuk mencegah ledakan emosi berikutnya.

Kebiasaan ini bertahan hingga dewasa, membuat mereka meminta maaf bahkan atas hal yang bukan kesalahannya.

EDITOR: Hanny Suwindari