JawaPos.com - Membuat anak remaja bersemangat pergi sekolah tidak selalu mudah.
Ada pagi-pagi ketika mereka bangun dengan wajah murung, sulit diajak bicara, enggan mandi, menunda-nunda sarapan, atau bahkan mengatakan, “Aku malas sekolah.”
Bagi orang tua, situasi seperti ini bisa membuat frustrasi. Apalagi ketika hampir setiap pagi harus diwarnai dengan teguran.
“Cepat bangun!”
“Jangan lama-lama!”
“Sekolah itu kewajiban.”
“Kalau terus malas, nanti kamu mau jadi apa?”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin keluar karena orang tua ingin anaknya bertanggung jawab. Namun, dari sudut pandang psikologi, cara kita berbicara kepada remaja dapat memengaruhi bagaimana mereka memandang sekolah, orang tua, bahkan dirinya sendiri.
Masa remaja memang merupakan periode yang penuh perubahan. Mereka sedang belajar menjadi lebih mandiri, ingin dihargai pendapatnya, mengalami perubahan emosi, sekaligus menghadapi tuntutan akademik dan sosial.
Karena itu, membuat remaja bersemangat pergi sekolah bukan sekadar menyuruh mereka untuk “jangan malas”.
Yang jauh lebih penting adalah membantu mereka memiliki alasan untuk berangkat, merasa aman, merasa dihargai, dan melihat sekolah sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki makna.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (2/10). terdapat enam cara yang dapat dilakukan orang tua berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.
1. Jangan Awali Pagi dengan Bentakan, Awali dengan Hubungan yang Hangat
Cara anak memulai pagi dapat memengaruhi suasana hatinya sepanjang hari.
Bayangkan seorang remaja baru membuka mata, tetapi hal pertama yang didengarnya adalah suara keras:
“Bangun! Sudah siang!”
“Berapa kali Mama harus membangunkan kamu?”
“Kalau begini terus, kapan kamu bisa disiplin?”
Mungkin anak akhirnya bangun.
Namun, bangun bukan berarti ia menjadi bersemangat.
Ia bisa saja bangun karena takut dimarahi.
Ini adalah dua hal yang berbeda.
Anak yang melakukan sesuatu karena takut mendapatkan hukuman belum tentu memiliki motivasi dari dalam dirinya.
Karena itu, cobalah mengubah suasana pagi.
Daripada langsung memberikan tekanan, orang tua bisa membuka percakapan dengan nada yang lebih tenang.
Misalnya:
“Selamat pagi. Tidurnya cukup?”
Atau cukup dengan:
“Pagi. Semoga hari ini menyenangkan.”
Kalimat sederhana seperti itu mungkin terlihat sepele. Namun, bagi remaja, pengalaman merasa diterima dan dihargai dapat membantu menciptakan suasana emosional yang lebih positif.
Tentu saja, ini bukan berarti orang tua harus membiarkan anak bangun sesuka hati.
Disiplin tetap penting.
Bedanya adalah disiplin tidak harus selalu disampaikan melalui kemarahan.
Orang tua tetap dapat menetapkan aturan tidur, waktu bangun, dan persiapan sekolah, tetapi menyampaikannya dengan tenang dan konsisten.
Misalnya:
“Jam 6.30 kita harus sudah berangkat. Jadi kamu bisa atur sendiri kapan harus mandi dan sarapan.”
Kalimat seperti ini memberikan batas sekaligus memberikan ruang bagi remaja untuk belajar bertanggung jawab.
Mengapa ini penting?
Remaja semakin membutuhkan hubungan yang menghargai mereka sebagai individu yang sedang tumbuh.
Ketika rumah menjadi tempat yang aman secara emosional, sekolah tidak lagi terasa seperti satu-satunya tempat yang penuh tuntutan.
Pagi hari pun dapat dimulai dengan perasaan yang lebih positif.
2. Berikan Remaja Pilihan agar Mereka Merasa Memiliki Kendali
Salah satu perubahan besar pada masa remaja adalah meningkatnya kebutuhan akan kemandirian.
Mereka mulai ingin menentukan pakaian sendiri, memilih teman, mengatur waktu, menentukan hobi, bahkan memiliki pendapat sendiri tentang masa depan.
Karena itu, orang tua yang terlalu mengontrol setiap hal dapat membuat remaja merasa bahwa hidupnya bukan miliknya.
Misalnya:
“Bangun sekarang!”
“Mandi sekarang!”
“Pakai baju yang ini!”
“Jangan makan itu!”
“Berangkat sekarang!”
“Pulang sekolah langsung belajar!”
Jika hampir semua keputusan dibuatkan, anak mungkin menjadi patuh, tetapi belum tentu belajar bertanggung jawab.
Cobalah memberikan pilihan sederhana.
Misalnya:
“Kamu mau sarapan sekarang atau setelah mandi?”
“Besok mau berangkat lebih pagi atau seperti biasa?”
“Untuk belajar, kamu lebih nyaman sore atau malam?”
Pilihan-pilihan kecil seperti ini dapat membantu remaja merasa bahwa mereka memiliki kendali terhadap kehidupannya.
Yang perlu diperhatikan adalah pilihan tersebut tetap berada dalam batas yang sehat.
Bukan:
“Kamu mau sekolah atau tidak?”
Jika sekolah memang merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan, jangan menjadikan kewajiban itu sebagai pilihan.
Lebih baik berikan pilihan pada hal-hal yang memang bisa mereka tentukan.
Dari “kamu harus” menjadi “kamu memilih”
Perbedaan bahasa ini mungkin terlihat kecil, tetapi dapat mengubah cara anak memandang tanggung jawab.
“Kamu harus belajar karena Mama menyuruh.”
berbeda dengan:
“Kamu memilih belajar sekarang supaya nanti malam bisa lebih santai.”
Pada kalimat kedua, orang tua membantu anak melihat hubungan antara pilihan dan konsekuensi.
Inilah salah satu bentuk pembelajaran tanggung jawab yang penting selama masa remaja.
3. Cari Tahu Mengapa Mereka Tidak Bersemangat Sekolah
Sebelum mengatakan anak malas, cobalah bertanya:
“Sebenarnya apa yang membuat kamu tidak bersemangat pergi sekolah?”
Pertanyaan ini sangat penting.
Sebab, perilaku yang terlihat sebagai “malas” bisa memiliki banyak penyebab.
Mungkin anak sedang kelelahan.
Mungkin ia merasa pelajaran terlalu sulit.
Mungkin ia takut menghadapi ujian.
Mungkin ia sedang mengalami konflik dengan teman.
Mungkin ia merasa tidak cocok dengan lingkungan sekolah.
Mungkin ia merasa tertinggal secara akademik.
Atau mungkin ada masalah lain yang belum sanggup ia ceritakan.
Karena itu, jangan buru-buru memberikan ceramah.
Dengarkan terlebih dahulu.
Misalnya:
“Akhir-akhir ini kamu kelihatannya kurang semangat sekolah. Ada sesuatu yang bikin kamu tidak nyaman?”
Kemudian berikan kesempatan kepada anak untuk berbicara.
Tidak harus langsung memberikan solusi.
Kadang-kadang, yang dibutuhkan remaja bukan nasihat panjang.
Mereka hanya ingin didengarkan tanpa langsung dihakimi.
Jika anak mengatakan:
“Aku capek.”
Jangan langsung menjawab:
“Semua orang juga capek.”
Cobalah:
“Bagian mana yang paling bikin kamu capek?”
Jika anak mengatakan:
“Aku nggak suka sekolah.”
Jangan langsung:
“Kamu itu harus bersyukur bisa sekolah.”
Cobalah:
“Apa yang paling kamu nggak suka dari sekolah?”
Pertanyaan lanjutan seperti ini membuka ruang dialog.
Dengarkan sebelum memperbaiki
Orang tua sering memiliki naluri untuk segera memperbaiki masalah anak.
Namun, hubungan yang sehat terkadang dimulai dari kemampuan untuk mendengarkan.
Setelah memahami penyebabnya, barulah orang tua dapat menentukan apakah masalah tersebut membutuhkan perubahan rutinitas, dukungan akademik, komunikasi dengan guru, atau bantuan profesional.
4. Bantu Anak Menemukan Makna di Balik Sekolah, Bukan Hanya Nilai
Jika satu-satunya alasan seorang anak pergi sekolah adalah:
“Supaya dapat nilai bagus.”
lama-kelamaan sekolah dapat terasa seperti perlombaan yang melelahkan.
Padahal, pendidikan memiliki banyak tujuan lain.
Sekolah adalah tempat untuk belajar bekerja sama, mengenal kemampuan diri, menemukan minat, menghadapi kegagalan, membangun pertemanan, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang lebih luas.
Karena itu, cobalah menghubungkan sekolah dengan hal-hal yang memang penting bagi anak.
Misalnya, jika anak menyukai teknologi:
“Kalau kamu memang suka komputer, pelajaran tertentu mungkin bisa membantu kamu memahami dasar-dasarnya.”
Jika anak menyukai olahraga:
“Sekolah juga bisa menjadi tempat kamu mengembangkan kemampuan bekerja sama dan disiplin.”
Jika anak ingin memiliki pekerjaan tertentu di masa depan, orang tua dapat membantu menunjukkan hubungan antara keterampilan yang dipelajari sekarang dengan tujuan tersebut.
Tidak perlu mengatakan:
“Kalau kamu tidak sekolah, masa depanmu hancur.”
Lebih baik:
“Menurut kamu, kemampuan apa yang ingin kamu punya beberapa tahun lagi?”
Kemudian diskusikan bagaimana sekolah dapat menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Jangan membuat masa depan menjadi ancaman
Kalimat seperti:
“Kalau nilaimu jelek, kamu tidak akan sukses.”
mungkin dimaksudkan untuk memotivasi.
Tetapi ketakutan tidak selalu menghasilkan motivasi yang sehat.
Sebaliknya, bantu anak melihat masa depan sebagai sesuatu yang bisa dibangun sedikit demi sedikit.
Sekolah bukan sekadar kewajiban yang harus dilewati.
Ia bisa menjadi salah satu tempat bagi remaja untuk mengenal dirinya sendiri.
5. Berikan Apresiasi pada Usaha, Bukan Hanya Prestasi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua hanya memberikan perhatian ketika anak mendapatkan hasil yang bagus.
Nilai 90 dipuji.
Nilai 60 dimarahi.
Juara dipuji.
Kalah dianggap mengecewakan.
Akibatnya, anak dapat belajar bahwa dirinya berharga ketika berhasil dan mengecewakan ketika gagal.
Padahal, proses belajar tidak selalu menghasilkan prestasi yang sempurna.
Karena itu, cobalah memberikan apresiasi terhadap usaha, strategi, dan perkembangan.
Misalnya:
“Kamu kelihatannya benar-benar berusaha memahami materi itu.”
“Atau kamu sekarang lebih rajin mengerjakan tugas dibanding sebelumnya.”
“Kamu tadi tetap berangkat meskipun sedang tidak bersemangat. Itu tanggung jawab yang bagus.”
Perhatikan bahwa pujian tersebut tidak mengatakan:
“Kamu memang anak paling pintar.”
Tetapi lebih menyoroti perilaku yang dapat dikendalikan anak.
Ini penting karena remaja perlu memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap.
Mereka dapat berkembang melalui latihan, strategi, dan pengalaman.
Rayakan kemajuan kecil
Tidak semua perubahan harus besar.
Jika sebelumnya anak selalu terlambat dan sekarang mulai bisa mempersiapkan tas pada malam hari, itu merupakan perkembangan.
Jika sebelumnya ia selalu menghindari pelajaran tertentu dan sekarang mulai berani bertanya kepada guru, itu juga perkembangan.
Jika sebelumnya ia selalu mengeluh setiap pagi tetapi sekarang mulai bisa menjalani rutinitas tanpa banyak konflik, itu pun layak diapresiasi.
Perubahan kecil yang konsisten sering kali lebih berarti daripada motivasi besar yang hanya bertahan satu atau dua hari.
6. Ciptakan Rutinitas Pagi yang Membuat Anak Tidak Merasa Sekolah sebagai Beban
Terkadang masalah bukan semata-mata kurangnya motivasi.
Bisa jadi rutinitas pagi memang terlalu kacau.
Tidur terlalu larut.
Bangun terlambat.
Tidak sempat sarapan.
Buku belum dimasukkan ke tas.
Seragam belum disiapkan.
Akhirnya, setiap pagi menjadi perlombaan melawan waktu.
Dalam kondisi seperti itu, wajar jika sekolah terasa melelahkan bahkan sebelum anak meninggalkan rumah.
Karena itu, buatlah rutinitas yang sederhana dan realistis.
Misalnya:
Malam hari:
menyiapkan seragam,
memasukkan buku ke tas,
menyelesaikan tugas yang penting,
menentukan waktu tidur,
mengurangi aktivitas yang membuat sulit tidur.
Pagi hari:
bangun pada waktu yang relatif konsisten,
mandi,
sarapan,
memeriksa tas,
berangkat tanpa terburu-buru.
Jika memungkinkan, berikan anak tanggung jawab terhadap sebagian besar rutinitas tersebut.
Orang tua tidak harus menjadi “alarm berjalan” setiap pagi.
Tujuannya bukan agar anak selalu bergantung pada orang tua, tetapi agar ia secara bertahap mampu mengelola dirinya sendiri.
Jadikan pagi sebagai waktu yang menyenangkan
Tidak harus selalu serius.
Sesekali, bercanda.
Putar musik yang disukai keluarga.
Sarapan bersama.
Bicarakan hal ringan.
Tanyakan:
“Menurutmu hari ini bakal ada kejadian lucu di sekolah?”
atau:
“Pelajaran apa yang paling kamu tunggu hari ini?”
Hal-hal kecil seperti ini dapat membuat keberangkatan sekolah terasa sebagai bagian normal dari kehidupan, bukan sebuah hukuman.
Yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua
Selain melakukan enam cara di atas, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya dikurangi.
1. Membandingkan dengan anak lain
“Lihat anak tetangga, dia rajin sekali.”
Perbandingan seperti ini dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.
Lebih baik bandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri.
“Dulu kamu sering menunda tugas, sekarang kamu sudah mulai bisa mengaturnya.”
2. Memberikan label “malas”
Ketika orang tua terus mengatakan:
“Kamu memang pemalas.”
anak dapat mulai melihat “malas” sebagai bagian dari identitas dirinya.
Lebih baik fokus pada perilaku:
“Belakangan kamu sering menunda bangun. Menurutmu apa yang membuatnya sulit?”
Perilaku dapat diubah.
Label terasa jauh lebih sulit untuk dilepaskan.
3. Menggunakan sekolah sebagai ancaman
“Kalau kamu tidak mau sekolah, nanti kamu akan gagal.”
Sekolah seharusnya tidak selalu dikaitkan dengan ketakutan.
Anak perlu belajar bahwa pendidikan memiliki nilai, bukan sekadar sesuatu yang harus dilakukan agar tidak dimarahi.
4. Mengabaikan tanda-tanda masalah yang lebih serius
Jika anak terus-menerus tidak ingin sekolah, sering mengeluh sakit sebelum sekolah, mengalami perubahan perilaku yang mencolok, menarik diri dari teman dan keluarga, atau terlihat sangat tertekan, jangan langsung menyimpulkan bahwa ia hanya malas.
Cari tahu apa yang sedang terjadi.
Dalam kondisi tertentu, orang tua dapat mempertimbangkan berbicara dengan guru, konselor sekolah, psikolog, atau tenaga profesional lain yang sesuai.
Pada Akhirnya, Anak Tidak Selalu Membutuhkan Ceramah
Ada satu hal penting yang sering dilupakan orang tua.
Remaja tidak selalu membutuhkan orang tua untuk mengatakan apa yang harus mereka lakukan.
Kadang-kadang mereka membutuhkan seseorang yang membantu mereka memahami apa yang sedang mereka rasakan.
Mereka perlu tahu bahwa rumah bukan tempat mereka hanya dinilai berdasarkan nilai, prestasi, atau seberapa cepat mereka mengikuti perintah.
Mereka perlu merasa bahwa ketika mengalami kegagalan, mereka masih diterima.
Ketika mereka bingung, mereka boleh bertanya.
Ketika mereka lelah, mereka boleh bercerita.
Dan ketika mereka melakukan kesalahan, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
Karena itu, jika ingin anak lebih bersemangat pergi sekolah, jangan hanya bertanya:
“Sudah belajar belum?”
Sesekali tanyakan:
“Hari ini bagaimana?”
Jangan hanya bertanya:
“Nilaimu berapa?”
Tanyakan juga:
“Kamu merasa senang dengan hasil usahamu?”
Dan jangan hanya mengatakan:
“Kamu harus sekolah.”
Bantu mereka memahami:
“Apa yang ingin kamu pelajari dan menjadi seperti apa kamu di masa depan?”
Motivasi yang sehat tidak selalu muncul karena anak didorong lebih keras.
Sering kali, motivasi tumbuh ketika anak merasa memiliki tujuan, memiliki sedikit kendali atas hidupnya, merasa mampu berkembang, dan merasa didukung oleh orang-orang terdekatnya.
Jadi, enam langkah yang dapat mulai dilakukan orang tua adalah:
Awali pagi dengan hubungan yang hangat, bukan bentakan.
Berikan pilihan agar remaja belajar memiliki kendali dan tanggung jawab.
Cari tahu alasan sebenarnya ketika anak kehilangan semangat sekolah.
Bantu mereka menemukan makna di balik pendidikan, bukan hanya mengejar nilai.
Apresiasi usaha dan perkembangan, bukan hanya prestasi.
Bangun rutinitas pagi yang teratur, sederhana, dan tidak penuh konflik.
Tidak ada satu cara yang berhasil untuk semua anak.
Setiap remaja memiliki karakter, kebutuhan, lingkungan, dan tantangan yang berbeda.
Namun, satu prinsip dapat menjadi titik awal:
Jangan hanya berusaha membuat anak mau pergi sekolah. Berusahalah membuat mereka merasa bahwa mereka mampu menjalani sekolah, memiliki alasan untuk belajar, dan memiliki seseorang di rumah yang selalu berada di pihak mereka.
Karena terkadang, anak tidak membutuhkan orang tua yang terus berkata, “Ayo, kamu pasti bisa!”
Mereka membutuhkan orang tua yang terlebih dahulu menunjukkan:
“Kalau kamu sedang kesulitan, kita cari jalan keluarnya bersama.