JawaPos.com - Ada satu perubahan besar dalam kehidupan orang tua yang sering kali datang secara perlahan: anak-anak yang dahulu kita ajari tentang dunia, suatu hari justru mulai mengajari kita tentang dunia.
Ketika mereka masih kecil, kita mengajari mereka berbicara, berjalan, makan, mengambil keputusan, menghormati orang lain, dan menghadapi kegagalan. Kita merasa bahwa kitalah sumber pengetahuan dan pengalaman bagi mereka.
Namun, waktu berjalan.
Anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa. Mereka mulai memiliki pekerjaan, hubungan, tanggung jawab, pandangan hidup, pengalaman sosial, dan cara berpikir sendiri. Mereka mungkin mengenal teknologi yang tidak kita pahami, memiliki perspektif tentang kehidupan yang berbeda dari kita, dan menghadapi persoalan yang belum pernah kita alami.
Pada titik tertentu, hubungan orang tua dan anak dapat berubah.
Bukan lagi sekadar "orang tua mengajari anak", tetapi menjadi "dua orang dewasa yang saling belajar."
Dalam psikologi, perubahan seperti ini berkaitan erat dengan perkembangan sepanjang rentang kehidupan. Manusia tidak berhenti berkembang ketika mencapai usia dewasa. Kita tetap dapat belajar, mengubah perspektif, membangun keterampilan emosional, dan menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah.
Karena itu, anak-anak kita yang sudah dewasa sebenarnya dapat menjadi salah satu guru kehidupan yang paling dekat dengan kita—jika kita bersedia mendengarkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (7/10), terdapat enam cara yang dapat membantu kita belajar lebih banyak dari anak-anak yang sudah dewasa.
1. Berhenti Menganggap Diri Selalu Lebih Tahu
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Selama puluhan tahun, identitas kita sebagai orang tua dibangun di atas satu peran penting: mengetahui apa yang terbaik bagi anak.
Ketika anak masih kecil, hal tersebut memang diperlukan. Anak membutuhkan arahan, batasan, perlindungan, dan keputusan dari orang dewasa.
Tetapi ketika anak sudah dewasa, hubungan tersebut perlu mengalami perubahan.
Anak yang berusia 30 atau 40 tahun bukan lagi anak kecil yang membutuhkan instruksi untuk setiap keputusan hidupnya.
Ia mungkin memiliki pengetahuan yang tidak kita miliki.
Ia mungkin memahami bidang pekerjaan tertentu lebih baik daripada kita.
Ia mungkin memiliki pengalaman sosial yang berbeda.
Ia mungkin memahami teknologi, budaya, komunikasi, atau dinamika kehidupan modern yang tidak pernah kita alami ketika seusianya.
Masalahnya, sebagian orang tua sulit melakukan perubahan posisi tersebut.
Secara tidak sadar, mereka masih menggunakan pola komunikasi ketika anak berusia 10 tahun untuk berbicara dengan anak yang sudah berusia 30 tahun.
"Papa lebih tahu."
"Seharusnya kamu melakukan ini."
"Kalau Mama jadi kamu..."
Kalimat-kalimat tersebut mungkin muncul dari rasa sayang. Tetapi bagi anak dewasa, kalimat seperti itu dapat terasa seperti penolakan terhadap kemampuan mereka untuk mengambil keputusan sendiri.
Belajarlah mengatakan:
"Menurutmu bagaimana?"
Pertanyaan sederhana ini memiliki kekuatan yang besar.
Daripada langsung memberikan nasihat, kita memberikan ruang kepada anak untuk menjelaskan pikirannya.
Misalnya, ketika anak bercerita tentang pekerjaannya, kita tidak langsung mengatakan:
"Kalau menurut Papa, kamu harus pindah kerja."
Kita dapat bertanya:
"Menurut kamu, apa pilihan yang paling masuk akal?"
Dengan begitu, kita tidak hanya mendengarkan jawaban anak.
Kita juga belajar cara berpikir anak.
Dan terkadang, itulah pelajaran yang paling berharga.
2. Dengarkan Anak Tanpa Selalu Berusaha Memperbaiki Masalahnya
Salah satu kebiasaan orang tua adalah ingin segera menyelesaikan masalah anak.
Anak berkata:
"Aku sedang stres di kantor."
Orang tua langsung menjawab:
"Ya sudah, jangan dipikirkan."
Atau:
"Kalau memang tidak cocok, berhenti saja."
Atau:
"Dulu Papa juga pernah mengalami yang lebih berat."
Niatnya baik.
Kita ingin membantu.
Namun, tidak semua cerita membutuhkan solusi.
Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Dalam hubungan dengan anak dewasa, kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi menjadi semakin penting.
Anak mungkin tidak sedang meminta kita menyelesaikan masalahnya.
Ia mungkin hanya ingin mengatakan:
"Aku ingin kamu tahu apa yang sedang aku alami."
Perbedaan ini sangat penting.
Ketika kita selalu buru-buru memberikan solusi, kita kehilangan kesempatan untuk memahami dunia batin anak.
Cobalah mengganti respons:
"Kalau menurut Mama, kamu harus..."
menjadi:
"Kedengarannya kamu sedang menghadapi situasi yang tidak mudah. Bagian mana yang paling berat buat kamu?"
Pertanyaan kedua membuka percakapan.
Anak mungkin kemudian menceritakan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia ceritakan.
Dan dari sana, kita belajar.
Kita belajar bagaimana generasi yang lebih muda menghadapi tekanan.
Kita belajar bagaimana mereka melihat pekerjaan.
Kita belajar bagaimana mereka memahami hubungan.
Kita belajar bagaimana mereka memandang kebahagiaan.
Bahkan kita mungkin belajar bahwa cara kita dahulu menghadapi masalah bukan satu-satunya cara yang benar.
3. Izinkan Mereka Memperkenalkan Dunia yang Berubah
Dunia tempat anak-anak kita tumbuh dewasa mungkin sangat berbeda dari dunia ketika kita seusia mereka.
Teknologi berubah.
Cara bekerja berubah.
Cara berkomunikasi berubah.
Pandangan tentang karier berubah.
Hubungan sosial berubah.
Bahkan definisi tentang kehidupan yang dianggap "sukses" pun dapat berubah.
Orang tua kadang merasa bahwa perubahan tersebut terlalu cepat.
Akibatnya, kita mudah mengatakan:
"Zaman sekarang anak-anak terlalu manja."
"Anak muda sekarang tidak tahan bekerja."
"Teknologi membuat orang tidak mau berkomunikasi."
"Zaman dulu lebih baik."
Mungkin ada sebagian hal yang memang lebih baik di masa lalu.
Tetapi ada juga banyak hal yang dapat kita pelajari dari masa kini.
Anak dewasa dapat menjadi jembatan kita untuk memahami perubahan tersebut.
Misalnya, mintalah mereka menjelaskan teknologi yang mereka gunakan.
Bukan karena kita harus menguasai semuanya, tetapi karena rasa ingin tahu membuat kita tetap berkembang.
Tanyakan:
"Bagaimana sebenarnya cara kerja aplikasi itu?"
"Kenapa anak-anak sekarang berkomunikasi seperti itu?"
"Menurutmu, apa yang berubah dalam dunia kerja?"
"Kenapa generasimu melihat masalah ini dengan cara yang berbeda?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.
Kita juga bisa menjadi murid.
Dan menjadi murid di usia berapa pun bukan tanda kelemahan.
Justru kemampuan untuk tetap belajar merupakan salah satu bentuk fleksibilitas psikologis.
Orang yang merasa sudah mengetahui semuanya akan lebih sulit berkembang.
Sebaliknya, orang yang mampu berkata "Aku belum tahu, ajari aku" membuka pintu untuk pengalaman baru.
4. Belajar dari Cara Mereka Menetapkan Batas
Salah satu hal yang mungkin paling sulit bagi orang tua adalah menerima bahwa anak dewasa memiliki batas.
Dahulu, kita terbiasa mengetahui hampir semua hal tentang kehidupan mereka.
Kita tahu kapan mereka pulang.
Kita tahu dengan siapa mereka bermain.
Kita tahu masalah sekolah mereka.
Kita tahu apa yang mereka makan.
Kita tahu hampir seluruh kehidupan mereka.
Tetapi ketika mereka dewasa, keadaan berubah.
Mereka memiliki ruang pribadi.
Mereka memiliki pasangan.
Mereka memiliki pekerjaan.
Mereka memiliki keputusan finansial.
Mereka memiliki kehidupan sosial.
Dan mereka mungkin tidak menceritakan semuanya kepada orang tua.
Bagi sebagian orang tua, hal ini terasa seperti kehilangan kedekatan.
Padahal, belum tentu demikian.
Bisa jadi anak sedang belajar menjadi pribadi yang mandiri.
Di sinilah kita dapat belajar sesuatu yang sangat penting:
kedekatan tidak selalu berarti mengetahui semuanya.
Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak dewasa justru dapat dibangun melalui penghormatan terhadap batas.
Misalnya, jika anak mengatakan:
"Aku belum mau membicarakan hal itu."
Kita dapat belajar menjawab:
"Baik. Kalau suatu saat kamu ingin cerita, Mama ada di sini."
Kalimat tersebut jauh lebih kuat daripada memaksa.
Mengapa?
Karena kita mengirimkan pesan:
"Aku menghormati kamu sebagai orang dewasa."
Dan ketika seseorang merasa dihormati, kemungkinan besar ia justru merasa lebih aman untuk membuka diri.
Dengan demikian, anak dapat mengajarkan kita bahwa cinta tidak selalu berarti mendekat.
Kadang-kadang cinta juga berarti tahu kapan harus memberi ruang.
5. Belajar Menerima bahwa Anak Boleh Memiliki Nilai yang Berbeda
Orang tua sering berharap anak memiliki nilai kehidupan yang sama.
Kita mungkin berharap mereka memiliki definisi kesuksesan yang sama.
Kita ingin mereka memilih pekerjaan yang menurut kita aman.
Kita mungkin ingin mereka hidup dengan cara yang menurut kita benar.
Tetapi anak dewasa adalah individu.
Mereka mungkin memilih kehidupan yang berbeda.
Mereka mungkin tidak ingin mengejar karier seperti yang kita harapkan.
Mereka mungkin lebih menghargai waktu luang daripada status.
Mereka mungkin memilih tinggal di kota lain.
Mereka mungkin memiliki cara berbeda dalam mengatur uang.
Mereka mungkin memandang pernikahan, keluarga, pekerjaan, atau kehidupan sosial secara berbeda.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti kita gagal mendidik mereka.
Bisa jadi itu adalah bagian normal dari perkembangan identitas mereka sebagai manusia dewasa.
Ada pelajaran penting di sini:
kita dapat mencintai seseorang tanpa harus menyetujui semua pilihannya.
Ini bukan berarti orang tua harus membiarkan anak melakukan apa saja.
Jika ada keputusan yang benar-benar berbahaya, tentu kita masih dapat menyampaikan kekhawatiran.
Tetapi ada perbedaan antara:
"Aku tidak setuju dengan pilihanmu."
dan
"Karena pilihanmu berbeda dari keinginanku, berarti kamu salah."
Yang pertama masih memberikan ruang bagi hubungan.
Yang kedua dapat menciptakan jarak.
Cobalah mengatakan:
"Kalau Mama mungkin akan memilih berbeda. Tapi Mama ingin memahami kenapa kamu memilih itu."
Kalimat sederhana seperti ini dapat membuka percakapan yang jauh lebih dalam.
Kita mungkin akhirnya menemukan bahwa anak tidak sedang memberontak.
Ia hanya sedang menjalani hidup berdasarkan nilai yang berbeda.
Dan dari sana, kita dapat belajar tentang keberagaman cara manusia mencari makna.
6. Biarkan Mereka Mengajarkan Kita Cara Menjadi Orang Tua bagi Orang Dewasa
Ini mungkin pelajaran yang paling dalam.
Menjadi orang tua bukan hanya belajar bagaimana membesarkan anak.
Menjadi orang tua juga berarti belajar bagaimana melepaskan anak untuk menjadi dirinya sendiri.
Ketika anak kecil, kita memegang tangannya agar ia tidak jatuh.
Ketika remaja, kita mulai belajar melepaskan tangan itu.
Ketika ia dewasa, kita mungkin harus belajar berjalan di sampingnya.
Bukan selalu di depan.
Bukan selalu menentukan arah.
Tetapi berjalan berdampingan.
Perubahan ini membutuhkan kematangan emosional.
Kita harus menerima bahwa anak mungkin melakukan kesalahan yang tidak bisa kita cegah.
Kita harus menerima bahwa ia akan mengambil keputusan yang tidak selalu kita sukai.
Kita harus menerima bahwa suatu hari ia mungkin memiliki cara mendidik anaknya sendiri yang berbeda dari cara kita dulu.
Dan kita harus menerima bahwa peran kita telah berubah.
Kita tidak kehilangan posisi sebagai orang tua.
Kita hanya memasuki bentuk hubungan yang baru.
Dulu anak membutuhkan kita terutama sebagai pelindung.
Kemudian sebagai pengarah.
Lalu sebagai pendukung.
Dan akhirnya, dalam banyak hal, sebagai teman belajar kehidupan.
Mengapa Anak Dewasa Bisa Menjadi Guru yang Sangat Baik?
Ada alasan psikologis mengapa hubungan ini dapat menjadi sangat berharga.
Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan yang berbeda.
Orang tua membawa pengalaman hidup yang panjang.
Anak membawa pengalaman dari dunia yang lebih baru.
Jika keduanya saling terbuka, terjadi pertukaran pengetahuan.
Orang tua dapat mengajarkan ketahanan, pengalaman, kesabaran, dan perspektif jangka panjang.
Anak dapat mengajarkan fleksibilitas, teknologi, cara melihat perubahan, keterbukaan terhadap gagasan baru, dan perspektif generasi mereka.
Tidak ada pihak yang harus selalu menjadi guru.
Dan tidak ada pihak yang harus selalu menjadi murid.
Hubungan terbaik justru terjadi ketika keduanya dapat bergantian melakukan kedua peran tersebut.
5 Pertanyaan yang Bisa Kita Ajukan kepada Anak Dewasa
Jika ingin mulai belajar lebih banyak dari anak-anak kita, cobalah mengajukan pertanyaan yang benar-benar membuka percakapan.
1. "Apa hal yang menurutmu generasi kami kurang pahami?"
Pertanyaan ini membutuhkan kerendahan hati.
Anak mungkin memberikan jawaban yang membuat kita berpikir ulang.
2. "Apa yang paling kamu sukai dari kehidupanmu sekarang?"
Kita mungkin menemukan bahwa kebahagiaan anak tidak selalu berasal dari hal-hal yang kita kira.
3. "Apa yang kamu harapkan bisa lebih kami pahami sebagai orang tua?"
Ini mungkin pertanyaan yang sulit.
Tetapi jawabannya bisa sangat berharga.
4. "Apa hal yang menurutmu bisa kami pelajari dari generasimu?"
Pertanyaan ini mengubah hubungan.
Kita memberi izin kepada anak untuk menjadi guru.
5. "Apa yang bisa kami lakukan supaya hubungan kita tetap dekat tanpa membuatmu merasa kehilangan ruang?"
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya ingin mempertahankan hubungan.
Kita ingin membuat hubungan itu sehat bagi kedua pihak.
Jangan Takut Jika Anak Mengajarkan Sesuatu yang Tidak Kita Sukai
Tidak semua pelajaran dari anak akan terasa nyaman.
Kadang-kadang anak mungkin menunjukkan sesuatu tentang diri kita yang tidak ingin kita lihat.
Ia mungkin berkata:
"Kalau Mama marah, aku jadi tidak mau cerita."
Atau:
"Papa sering memberi nasihat sebelum mendengarkan."
Atau:
"Aku merasa harus selalu mengikuti keinginan kalian."
Respons pertama kita mungkin defensif.
Kita mungkin ingin menjelaskan:
"Papa melakukan itu karena sayang."
Dan memang mungkin benar.
Namun, ada perbedaan antara niat dan dampak.
Niat kita mungkin baik.
Tetapi dampaknya mungkin tetap membuat anak merasa tidak didengar.
Mendengarkan hal seperti ini membutuhkan keberanian.
Kita tidak harus langsung mengakui bahwa semua yang dikatakan anak benar.
Tetapi kita dapat mengatakan:
"Terima kasih sudah mengatakan itu. Aku perlu memikirkannya."
Kalimat tersebut menunjukkan kedewasaan emosional.
Kita tidak sedang kehilangan kewibawaan.
Justru kita sedang menunjukkan bahwa kita cukup kuat untuk menerima masukan.
Pada Akhirnya, Anak Tidak Hanya Tumbuh—Kita Juga Harus Tumbuh
Banyak orang berpikir bahwa tugas orang tua selesai ketika anak sudah dewasa.
Sebenarnya, hubungan hanya berubah bentuk.
Anak yang sudah dewasa masih dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan kita sebagai manusia.
Mereka dapat mengajarkan kita tentang dunia baru.
Mereka dapat mengajarkan kita untuk lebih fleksibel.
Mereka dapat menunjukkan bahwa ada lebih dari satu cara menjalani kehidupan.
Mereka dapat mengajarkan kita bahwa mendengarkan sering kali lebih penting daripada memberikan nasihat.
Dan mungkin yang paling penting, mereka dapat mengajarkan kita bahwa cinta yang matang bukan tentang mengendalikan seseorang agar hidup sesuai dengan keinginan kita.
Cinta yang matang adalah kemampuan untuk berkata:
"Aku mungkin tidak selalu memahami pilihanmu, tetapi aku ingin memahami kamu."
Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak dewasa yang sehat bukanlah hubungan antara seseorang yang selalu tahu dan seseorang yang selalu belajar.
Melainkan hubungan antara dua manusia yang sama-sama terus belajar.
Kita mengajari mereka ketika mereka kecil.
Mereka mungkin mengajari kita ketika mereka dewasa.
Dan di antara keduanya, ada satu hal yang tidak pernah berhenti:
kesempatan untuk tumbuh bersama.