← Beranda
Mahasiswa Unusa Kembangkan Rambu Evakuasi Tsunami, Bisa Pantau Kondisi secara Real-Time
Ardini Pramitha• Sabtu, 3 Oktober 2026 | 04.06 WIB
Lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengembangkan Safe Light Tsunami Route, prototipe rambu evakuasi berbasis sensor yang dirancang untuk memberikan informasikondisi bahaya secara adaptif dan real-time. (Humas Unusa)

JawaPos.com - Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana tsunami terus dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi. 

Lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menciptakan prototipe rambu evakuasi yang mampu merespons kondisi lingkungan berdasarkan data sensor.

Inovasi bernama SafeLight Tsunami Route tersebut dikembangkan oleh lima mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). 

Baca Juga: Salah Isi BBM di SPBU Jangan Panik, Ambil Langkah Tepat Hindari Mesin Rusak

Mereka ialah Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho, dengan dosen pembimbing Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.

Berkat inovasi itu, kelima mahasiswa 

mendapatkan pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 dari Kemdiktisaintek.

Salah satu anggota tim Rofiq Arroyan, mengatakan ide pengembangan SafeLight Tsunami Route berangkat dari kebutuhan akan sistem rambu evakuasi yang tidak hanya memberikan petunjuk arah, tetapi juga mampu menyampaikan kondisi bahaya kepada masyarakat secara lebih cepat.

Baca Juga: DAYDRM Rilis “SHINE!”, Lagu Pop Dance Ajak Anak Indonesia Berani Kejar Mimpi

“Rambu evakuasi selama ini pada umumnya bersifat statis. Kami mencoba mengembangkan sistem yang bisa memberikan informasi berdasarkan kondisi yang terdeteksi di lingkungan,” kata Rofiq, Jumat (2/10). 

Rofiq menjelaskan cara kerja perangkat tersebut adalah menggabungkan sensor, sistem monitoring, serta indikator berupa lampu dan suara. 

 

Dengan kombinasi itu, masyarakat diharapkan dapat memperoleh gambaran mengenai tingkat kewaspadaan ketika terjadi aktivitas yang berpotensi berkaitan dengan bencana.

SafeLight Tsunami Route memiliki dua bagian sistem, yakni subsistem darat dan subsistem laut. Pada bagian darat, tim menggunakan mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 untuk membaca aktivitas atau getaran yang berkaitan dengan gempa.

Sementara pada bagian laut, digunakan sensor pelampung yang berfungsi memantau perubahan muka air laut. 

Baca Juga: Jadi Anggota Wantimpres, Agum Gumelar Siap Beri Masukan Terarah kepada Prabowo

"Data dari kedua bagian tersebut kemudian diproses untuk menentukan indikator kondisi yang ditampilkan perangkat," jelasnya. 

Rofiq menjelaskan, sistem indikator dibagi menjadi tiga kondisi. Lampu hijau menunjukkan situasi aman. 

Ketika sistem mendeteksi kondisi kewaspadaan akibat gempa, indikator berubah menjadi kuning dan disertai bunyi sirine.

Sementara lampu merah yang disertai sirine dengan intensitas lebih tinggi menjadi tanda adanya indikasi potensi tsunami sehingga masyarakat perlu segera mengikuti prosedur evakuasi.

Baca Juga: Pengawasan Tempat Hiburan Diperketat, Eri Cahyadi Sebut Tidak Ada Tambahan Diskotek di Surabaya

“Indikator kami buat sesederhana mungkin supaya informasi bisa lebih mudah dipahami ketika masyarakat berada dalam situasi darurat,” ujarnya.

Tak hanya memberikan peringatan melalui lampu dan suara, prototipe tersebut juga dilengkapi sistem monitoring. 

Data sensor dikirim menggunakan modem MiFi menuju sistem pemantauan sehingga kondisi yang terdeteksi dapat dipantau secara real-time.

"Sistem tersebut juga menampilkan tingkat intensitas guncangan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI). Informasi itu menjadi bagian dari data yang digunakan untuk menggambarkan kondisi getaran yang terbaca oleh perangkat," katanya. 

Dari sisi sumber energi, SafeLight Tsunami Route dirancang menggunakan panel surya. Energi yang dihasilkan kemudian diatur melalui solar charge controller dan disimpan dalam baterai sebelum digunakan untuk memenuhi kebutuhan perangkat elektronik.

“Karena konsepnya untuk wilayah pesisir, kami juga mempertimbangkan kebutuhan perangkat agar bisa ditempatkan di lingkungan tersebut. Komponen elektronik utama kami tempatkan dalam box pelindung,” jelas Rofiq.

Baca Juga: Pengawasan Tempat Hiburan Diperketat, Eri Cahyadi Sebut Tidak Ada Tambahan Diskotek di Surabaya

Pengembangan prototipe dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari perakitan hingga pengujian. 

Dari proses tersebut, tim melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap beberapa bagian, termasuk rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring, serta tampilan informasi tingkat guncangan.

Rofiq menyebut pengembangan SafeLight Tsunami Route menjadi pengalaman bagi tim untuk menerapkan ilmu K3 tidak hanya dalam konteks keselamatan di tempat kerja, tetapi juga dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana.

“Bagi kami, K3 juga berkaitan dengan bagaimana keselamatan bisa diterapkan di masyarakat. Melalui teknologi ini, kami ingin ikut mendukung penyampaian informasi ketika terjadi kondisi darurat,” tuturnya.

Ke depan, tim berharap prototipe tersebut masih dapat dikembangkan, baik dari sisi teknologi maupun penerapannya. 

"SafeLight Tsunami Route diharapkan dapat menjadi salah satu perangkat pendukung sistem informasi evakuasi, terutama di kawasan pesisir yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami," katanya. 

Pengembangan tersebut memadukan sensor, Internet of Things (IoT), indikator visual dan suara, sistem monitoring real-time, serta pemanfaatan energi surya dalam satu perangkat.

EDITOR: Bintang Pradewo