JawaPos.com - Sebanyak 50 siswa SMA dari Jabodetabek mengembangkan berbagai solusi untuk persoalan lingkungan dan sosial sehari-hari.
Mulai dari keterbatasan air bersih, limbah makanan dan tekstil, hingga kebutuhan energi alternatif.
Salah satu inovasi yang keluar sebagai pemenang bahkan mencoba mengubah kelembapan udara menjadi air bersih.
Baca Juga: Lulusan Kampus Tak Cukup Hanya Siap Kerja, Pengalaman Bisnis Jadi Bekal Ciptakan Lapangan Kerja
Gagasan tersebut dikembangkan Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta melalui inovasi bernama O2H: Atmospheric Water Harvesting System.
Tim tersebut terpilih sebagai pemenang National Innovation Challenge setelah mempresentasikan solusi di hadapan dewan juri dari kalangan dunia usaha, pendidikan, dan praktisi keberlanjutan.
Inovasi para siswa menjadi bagian dari program Young Voices for a Sustainable Future, Innovation Challenge for a Just Transition, yang merupakan kolaborasi BASF Indonesia dan Prestasi Junior Indonesia (PJI).
Baca Juga: Kemendikdasmen Berharap Pembelajaran Coding dan AI Kian Masif, Sebut Baru 25 % Sekolah Mengajarkan
Dari Masalah Sehari-hari Menjadi Inovasi
Persoalan yang diangkat peserta cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ada tim yang menyoroti limbah makanan, limbah tekstil dan organik, pencemaran lingkungan, serta akses air bersih.
Peserta lainnya mencari alternatif untuk kebutuhan energi yang lebih berkelanjutan.
Berbagai persoalan tersebut kemudian diolah menggunakan pendekatan STEAM yang mencakup sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika.
Enam tema menjadi fokus inovasi para finalis, yakni aksi iklim, air dan sanitasi, konsumsi bertanggung jawab, ekonomi sirkular dan pengurangan limbah, energi berkelanjutan, serta solusi digital untuk keberlanjutan.
Sejumlah tim memanfaatkan material sisa menjadi produk bernilai tambah.
Baca Juga: Mahasiswa Unusa Kembangkan Rambu Evakuasi Tsunami, Bisa Pantau Kondisi secara Real-Time
Ada pula yang mengembangkan teknologi pengelolaan air dan energi serta menggunakan kecerdasan buatan, sensor, aplikasi digital, dan analisis data.
Pemenang Angkat Masalah Akses Air Bersih
Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta mengembangkan O2H setelah melihat persoalan keterbatasan akses air bersih yang masih dihadapi sebagian rumah tangga dan komunitas, terutama ketika musim kemarau.
Perangkat tersebut dirancang untuk mengambil kelembapan dari udara, kemudian mengolahnya melalui proses penyaringan dan sterilisasi agar menghasilkan air yang dapat dimanfaatkan.
Baca Juga: Gandeng UI, Advokat Ingin Wujudkan Pendidikan Berkualitas
“O2H: Atmospheric Water Harvesting System berawal dari kepedulian kami terhadap keterbatasan akses air bersih yang dialami sejumlah rumah tangga dan komunitas, terutama saat musim kemarau,"
ujar Muhammad Rizqi Sugianto, perwakilan Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta.
Gagasan tersebut menunjukkan bagaimana persoalan akses air dapat didekati dari sisi teknologi.
Namun, seperti inovasi lain yang masih berada pada tahap pengembangan, solusi semacam ini tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas.
Baca Juga: Transformasi Industri Makin Digital, Kampus Didorong Siapkan SDM Adaptif
Bukan Sekadar Menghasilkan Produk
Rurry Fatchurrachman, Kasubtim Peserta Didik, Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut, program ini memberi ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
"Melalui proses mengenali persoalan dan mengembangkan solusi, siswa mengasah penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Pengalaman belajar seperti ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewujudkan delapan dimensi profil lulusan,” ungkap dia bangga.
Keterampilan yang diasah tidak berhenti pada kemampuan teknis.
Peserta juga dituntut menyampaikan gagasan secara jelas, menerima masukan, bekerja dalam tim, melakukan riset, dan memperbaiki rancangan berdasarkan persoalan yang ditemukan.
Baca Juga: ASSA Apresiasi Sekolah dan Guru Hadirkan Inovasi Pembelajaran Berbasis AI
Tantangan Keberlanjutan Butuh Generasi yang Bisa Memecahkan Masalah
Sementara itu, Presiden Direktur BASF Indonesia Dr. Christofer Arisandy mengatakan transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan perkembangan teknologi.
Menurut dia, dibutuhkan generasi muda yang mampu membaca persoalan sekaligus melihat peluang untuk menghasilkan solusi.
Melalui program Young Voices for a Sustainable Future, para siswa dipacu untuk menunjukkan bahwa inovasi dapat berawal dari permasalahan sehari-hari.
Baca Juga: Pergeseran Kekuatan Akademik, Tsinghua Tiongkok Salip Kampus Terbaik Eropa di Ranking Dunia
"Potensi tersebut perlu terus didorong dan dikembangkan guna mendukung terwujudnya masa depan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar dia.
Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati menilai kesempatan untuk mengalami langsung proses pemecahan masalah penting bagi generasi muda.
Dia meyakini, generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang masalah lingkungan.
Baca Juga: Cetak Lulusan Profesional dan Kompeten, Unusa Melepas 1.038 Wisudawan Hari Ini
"Pengalaman ini menunjukkan kepada siswa bahwa pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah dapat digunakan untuk membantu menjawab kebutuhan masyarakat. Proses tersebut juga membangun keterampilan dan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi masa depan,” ujar Utami.