
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar wisuda ke-22 dengan meluluskan 1.038 wisudawan hari ini, Selasa (29/9/2026) di Surabaya. (Istimewa).
JawaPos.com - Wisuda ke-22 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang digelar hari ini (29/9) bukan sekadar seremoni melepas lulusan. Di balik toga yang dikenakan, ada perjalanan pendidikan yang mempertemukan keberagaman, prestasi, kesiapan kerja, dan pengalaman global.
Di antara 1.038 wisudawan, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Menariknya, sebanyak 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.
Angka itu menjadi bagian dari cerita Unusa sebagai perguruan tinggi yang membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar, berprestasi, dan tumbuh bersama. Karena pendidikan tidak berhenti pada perbedaan.
Pendidikan mempertemukan manusia dalam kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik. Hal itu antara lain diungkapkan oleh Meylani Fernanda Bessie, wisudawan asal Kupang yang merupakan anak tunggal.
Meylani memilih Unusa karena menyediakan kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memudahkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Selain sistem perkuliahan yang dinilainya tidak menyulitkan mahasiswa, dia juga merasakan dukungan dan toleransi dari para dosen.
Pengalaman yang paling membekas bagi Meylani terjadi ketika dirinya diminta memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum perkuliahan dimulai. ’’Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,” ungkap Meylani.
Meylani Fernanda Bessie, wisudawan Unusa Surabaya asal Kupang. (Istimewa)
Sementara itu, Maria Franciska Xaveria memilih Unusa setelah terlebih dahulu mencari informasi dari sejumlah alumni. Sebelum mendaftar, dia secara khusus menanyakan bagaimana pengalaman mahasiswa non-Muslim yang berkuliah di Unusa. Jawaban positif dari para alumni kemudian membuatnya mantap mengambil keputusan.
Menurut Maria Franciska, suasana tersebut menjadi alasan kuat untuk merekomendasikan Unusa kepada orang lain. ’’Di Unusa, meskipun non-Muslim, kami tidak dibedabedakan. Saling menghargai dan toleransi yang tinggi membuat kami nyaman berkuliah,” katanya.
Pada peristiwa wisuda hari ini, Unusa juga membuktikan pendidikan tinggi harus dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Di sejumlah program studi Unusa, pengalaman bekerja bahkan telah menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa sebelum mereka mengenakan toga.
Pada Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), misalnya, lebih dari separuh mahasiswa telah bekerja sebelum diwisuda. Mereka juga telah dibekali Sertifikat Kompetensi Ahli K3 Muda dari LSP Unusa. Fenomena serupa juga terlihat pada sejumlah program studi lainnya, termasuk S-1 Gizi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022