JawaPos.com - Sekolah internasional berbahasa Inggris semakin diminati keluarga kaya di Kamboja yang mencari pendidikan berkualitas bagi anak-anak mereka. Peluang ini turut menarik perusahaan Jepang untuk masuk ke pasar pendidikan dengan menawarkan sistem pembelajaran yang menggabungkan kurikulum internasional dan nilai-nilai pendidikan Jepang.
Dilansir dari Kyodo, Jumat (9/10), lebih dari 80 sekolah internasional telah beroperasi di Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Meningkatnya interaksi dengan warga asing membuat kemampuan berbahasa Inggris semakin bernilai di negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada investasi asing dan pariwisata.
Salah satu proyek terbaru adalah pembangunan Japan International School Phnom Penh (JISPP). Peletakan batu pertama sekolah tersebut digelar pada September di kawasan pinggiran Phnom Penh yang sedang berkembang dan juga menjadi lokasi pusat perbelanjaan milik perusahaan Jepang.
Perusahaan Wonderfy yang berbasis di Tokyo akan memimpin proyek tersebut dengan nilai investasi sekitar JPY 3 miliar atau setara Rp339 miliar. Pendanaan juga melibatkan perusahaan dari sejumlah negara lain.
JISPP dijadwalkan mulai beroperasi pada musim panas tahun depan. Sekolah tersebut akan menerapkan kurikulum yang mengacu pada International Baccalaureate (IB), program pendidikan yang digunakan di berbagai negara.
Hal yang tidak biasa dari proyek ini adalah rencana pemindahan Japanese School of Phnom Penh ke kampus yang sama. Sekolah tersebut selama ini melayani anak-anak warga Jepang yang tinggal di Kamboja.
Presiden Japanese Association of Cambodia Koji Tezuka mengatakan sekolah Jepang itu saat ini memiliki sekitar 50 siswa. Kondisi bangunan lama yang semakin menua mendorong pengelola memindahkan kegiatan belajar ke kampus baru dengan menyewa ruang di sana.
Mayoritas siswa JISPP diperkirakan berasal dari keluarga Kamboja.
Meski kegiatan belajar kedua sekolah akan berlangsung secara terpisah, Kepala Divisi Sekolah Dasar JISPP Moe Funamizu mengatakan para siswa akan memiliki kesempatan mengikuti kegiatan bersama.
"Kami ingin mereka mengikuti kegiatan klub dan acara sekolah bersama, sekaligus memperkenalkan sejumlah aspek positif pendidikan Jepang, seperti keterlibatan siswa dalam kegiatan bersih-bersih dan makan siang di sekolah," katanya.
Kemampuan bahasa Inggris menentukan peluang penghasilan
Kemampuan berbahasa Inggris dapat berpengaruh besar terhadap tingkat gaji di Kamboja. Negara tersebut mengandalkan investasi asing dan pariwisata sebagai penopang penting perekonomiannya.
Perdana Menteri Hun Manet merupakan lulusan Akademi Militer Amerika Serikat di West Point dan melanjutkan pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat serta Inggris. Banyak pejabat senior pemerintah Kamboja juga pernah menempuh pendidikan di luar negeri.
Namun, pengajaran bahasa Inggris di sekolah negeri masih terbatas, hanya beberapa jam dalam sepekan. Kamboja juga berada di kelompok terbawah di antara negara anggota ASEAN dalam penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Biaya menjadi salah satu penghalang utama untuk mengakses pendidikan internasional. Uang sekolah tahunan di institusi internasional termahal di Kamboja dapat mencapai USD 30.000 atau sekitar Rp528,9 juta. Sementara itu, JISPP berencana menetapkan biaya sekitar USD 10.000 atau Rp176,3 juta per tahun.
Seorang reporter lokal mengatakan sistem pendidikan Kamboja saat ini "jelas terbagi" antara keluarga kaya yang mampu membayar sekolah internasional dan rumah tangga berpenghasilan menengah hingga rendah yang pilihannya sebagian besar terbatas pada sekolah negeri.
Warisan sejarah ikut memengaruhi pendidikan
Tingginya kebutuhan akan pendidikan berkualitas juga tidak terlepas dari sejarah kelam Kamboja. Pada era Khmer Merah pada 1970-an, banyak kaum intelektual, termasuk guru, dibantai. Sistem pendidikan publik negara itu pun mengalami kehancuran besar.
Lima dekade kemudian, dampak periode tersebut masih terasa. Seorang sumber diplomatik mengatakan Kamboja masih memiliki jumlah tenaga berpendidikan tinggi yang relatif terbatas, termasuk guru.
Di tengah keterbatasan tersebut, orang tua yang memiliki kemampuan finansial terus mengeluarkan biaya besar demi memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi penyedia pendidikan internasional, termasuk perusahaan Jepang, untuk memperluas kehadirannya di Kamboja.