← Beranda
Pertimbangkan Skema Kuliah Gratis di PTN, Wamendikti Bandingkan dengan Tiongkok-AS 
Tazkia Royyan Hikmatiar• Senin, 12 Oktober 2026 | 20.11 WIB
Wamenristekdikti Stella Christie. (Dimas Choirul/Jawapos.com)

 


JawaPos.com - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christi masih mempertimbangkan skema perguruan tinggi negeri (PTN) gratis yang akan diberlakukan di Indonesia. 

Menurutnya, skema kuliah PTN gratis mesti memperhatikan keseimbangan antara kualitas pendidikan, keterjangkauan biaya, dan kuantitas mahasiswa. Menurutnya, pemerintah perlu menentukan strategi agar biaya kuliah yang murah atau gratis tidak mengorbankan kualitas pendidikan tinggi.

"Kita inginnya UKT murah atau bahkan gratis, tapi gaji dosen harus tinggi dan juga dana riset harus banyak,” ujar Stella dalam unggahan di akun Instagramnya, dikutip Senin (12/10).

Stella membandingkan strategi pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan di Indonesia. Ia menilai, setiap negara memiliki pilihan strategi berbeda dalam menyeimbangkan kualitas, keterjangkauan, dan jumlah mahasiswa yang dapat mengakses pendidikan tinggi.

Secara umum, menurutnya perguruan tinggi menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tiga aspek tersebut. Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas akses dan menekan biaya kuliah membutuhkan anggaran yang sangat besar.

”Perguruan tinggi itu rumit, kenapa? Karena segitiga yang tidak bisa ditutup atau sulit ditutup, yaitu dari kualitas, keterjangkauan, dan kuantitas,” jelasnya.

Stella menegaskan, kebijakan kuliah gratis tidak boleh membuat kualitas pendidikan tinggi menurun. Pemerintah perlu memastikan perguruan tinggi tetap mampu memberikan pendidikan berkualitas meskipun biaya yang dibebankan kepada mahasiswa rendah atau bahkan gratis.

”Tentu saja kita tidak mau perguruan tinggi kita itu gratis tapi abal-abal,” tegasnya.

Sebagai perbandingan, Stella mencontohkan Amerika Serikat yang lebih mengutamakan kualitas dan kuantitas pendidikan tinggi. Namun, konsekuensinya, biaya kuliah di negara tersebut relatif mahal.

”Misalnya Amerika Serikat memilih strategi lebih kepada kualitas dan kuantitas. Bagus kualitasnya, kuantitasnya juga lumayan banyak, tetapi kalian tahu kuliah di Amerika Serikat itu mahalnya luar biasa!” ungkap Stella.

Sementara itu, Tiongkok disebut memilih strategi yang lebih menitikberatkan pada kualitas dan keterjangkauan biaya pendidikan. Konsekuensinya, jumlah mahasiswa yang dapat ditampung dibatasi.

”Sementara Tiongkok memilih strategi yang lebih ke arah kualitas dan keterjangkauan, tetapi kuantitasnya dibatasi,” katanya.

Stella pun meminta masyarakat memberikan masukan mengenai posisi pendidikan tinggi Indonesia saat ini serta arah kebijakan yang seharusnya dipilih. Masukan tersebut diharapkan membantu pemerintah merumuskan kebijakan pendidikan tinggi secara bijaksana, termasuk dalam mempertimbangkan wacana PTN gratis.

Baca Juga: Wacana Kuliah Gratis PTN, Pakar Ingatkan Potensi Salah Sasaran dan Ketimpangan 

”Menurut kalian, Indonesia perguruan tingginya harusnya ke mana di dalam segitiga ini? Ayo jawab, karena ini sangat membantu kita untuk memikirkan kebijakan kita dengan sebijaksana mungkin,” ungkap dia. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan