JawaPos.com - Manchester City masih menunggu kelanjutan dari kasus panjang terkait dugaan pelanggaran aturan keuangan Premier League.
City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 tuduhan yang diajukan Premier League pada Februari 2023. Klub tersebut tetap membantah melakukan pelanggaran dan diperkirakan akan menempuh proses banding.
Sambil menunggu perkembangan berikutnya, perhatian pun beralih kepada satu pertanyaan besar: hukuman seperti apa yang mungkin diterima Manchester City?
Sejumlah kemungkinan telah muncul, mulai dari denda, pengurangan poin, larangan transfer, pencabutan gelar, hingga degradasi.
Namun, sepak bola sudah memiliki sejumlah contoh ketika klub menerima hukuman berat karena persoalan finansial atau pelanggaran regulasi.
Melansir Mirror, berikut beberapa di antaranya.
Swindon Town – 1990
Swindon Town menjadi salah satu contoh hukuman berat akibat pembayaran ilegal kepada pemain. Hanya 10 hari setelah mengalahkan Sunderland 1-0 di Wembley untuk memastikan promosi ke Divisi Pertama, Swindon dinyatakan bersalah melakukan pembayaran ilegal.
Hukuman awalnya sangat berat. Promosi mereka dicabut dan Sunderland ditempatkan di divisi teratas. Swindon bahkan diturunkan ke divisi ketiga.
Tranmere Rovers seharusnya menggantikan Swindon di divisi kedua, tetapi setelah banding, hukuman tersebut dikurangi. Swindon akhirnya hanya mengalami degradasi satu divisi.
Tottenham Hotspur – 1994
Tottenham juga pernah menerima hukuman berat setelah dinyatakan bersalah melakukan pembayaran ilegal kepada pemain di bawah kepemilikan sebelumnya.
Spurs awalnya didenda £600.000, dikeluarkan dari Piala FA, serta mendapat pengurangan 12 poin. Tottenham kemudian mengajukan banding dan berhasil membatalkan larangan tampil di Piala FA serta pengurangan poin.
Namun, sebagai gantinya, denda mereka justru dinaikkan menjadi £1,5 juta. Kasus ini menunjukkan bahwa proses banding dapat mengubah bentuk hukuman secara signifikan.
Luton Town – 2008
Luton Town pernah menerima salah satu hukuman pengurangan poin terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.
Menjelang musim 2008-09, mereka awalnya mendapat pengurangan 10 poin dan denda £50.000 setelah dinyatakan melanggar aturan EFL terkait proses keluar dari administrasi.
Liga kemudian menawarkan kesempatan kepada Luton untuk tetap bermain di League Two dengan syarat tambahan pengurangan 20 poin.
Luton mengajukan banding, tetapi upaya tersebut ditolak. Dengan total pengurangan 30 poin, Luton akhirnya finis di dasar klasemen dan terdegradasi ke sepak bola non-profesional untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Rangers – 2012
Rangers memberikan contoh lain mengenai seberapa jauh konsekuensi finansial dapat memengaruhi posisi sebuah klub dalam sistem liga. Pada Juli 2012, Rangers ditolak masuk ke Liga Utama Skotlandia setelah mengalami likuidasi.
Para klub kemudian melakukan pemungutan suara untuk menentukan posisi Rangers di sistem kompetisi. Sebanyak 25 dari 30 klub memilih agar Rangers ditempatkan di divisi keempat.
Selain harus memulai dari level terbawah, Rangers juga menerima larangan transfer selama 12 bulan. Namun, mereka mampu bangkit dengan cepat. Rangers promosi dua kali secara beruntun sebelum akhirnya kembali ke divisi teratas pada 2016.
Queens Park Rangers – 2018
Queens Park Rangers menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam kasus Financial Fair Play di sepak bola Inggris.
QPR diperintahkan membayar denda £40 juta pada 2017 setelah kalah dalam perselisihan selama tiga tahun terkait pelanggaran aturan Financial Fair Play pada musim 2013-14.
Setahun kemudian, QPR mencapai kesepakatan dengan EFL dan setuju membayar total £42 juta.
Kesepakatan tersebut terdiri dari denda £17 juta, biaya hukum EFL sebesar £3 juta, serta penghapusan utang pinjaman pemegang saham klub senilai £22 juta.
QPR sebelumnya berpendapat bahwa aturan Financial Fair Play yang digunakan tidak sah. Klub tersebut juga sempat menerima larangan transfer singkat.
Manchester City – 2020
Menariknya, Manchester City sendiri pernah merasakan hukuman terkait Financial Fair Play. Pada Februari 2020, UEFA menjatuhkan larangan tampil selama dua tahun di kompetisi klub Eropa kepada City setelah menyatakan klub melakukan "pelanggaran serius" terhadap aturan Financial Fair Play antara 2012 dan 2016.
Namun, City kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga. Lima bulan kemudian, hukuman tersebut dibatalkan. City juga dibebaskan dari tuduhan menyamarkan dana ekuitas sebagai kontribusi sponsor.
Denda mereka turut dikurangi secara signifikan, dari €30 juta menjadi €10 juta. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa hukuman awal tidak selalu menjadi hukuman akhir setelah proses banding selesai.
Juventus – 2023
Juventus juga menghadapi konsekuensi besar dalam beberapa tahun terakhir akibat persoalan finansial dan regulasi.
Pada 2023, UEFA menyatakan Juventus melanggar kerangka regulasi finansial mereka serta ketentuan dalam perjanjian penyelesaian yang sebelumnya telah disepakati.
Juventus kemudian dikeluarkan dari Conference League untuk musim 2023-24. Tempat mereka diberikan kepada Fiorentina, yang kemudian melaju hingga final.
UEFA juga memerintahkan Juventus membayar denda sebesar £17,14 juta. Namun, hanya separuh dari jumlah tersebut yang harus dibayar apabila catatan keuangan klub dalam tiga tahun berikutnya memenuhi ketentuan.
Hukuman tersebut datang setelah Juventus sebelumnya juga mendapat pengurangan 15 poin di Serie A dalam kasus berbeda yang berkaitan dengan manipulasi laporan keuangan.
Mantan presiden Andrea Agnelli dan sejumlah anggota dewan juga mengundurkan diri setelah klub dinyatakan bersalah dalam kasus pembukuan palsu.
Dampaknya bahkan menjalar kepada mantan pejabat klub. Fabio Paratici, yang kemudian bekerja sebagai direktur pelaksana sepak bola Tottenham, sempat menerima larangan beraktivitas di seluruh dunia selama 30 bulan dari FIFA.
Apa artinya bagi Manchester City?
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa pelanggaran aturan finansial dapat menghasilkan hukuman dengan bentuk yang sangat beragam.
Ada klub yang kehilangan poin, ada yang terdegradasi, ada yang dilarang mengikuti kompetisi, ada pula yang hanya menerima denda. Dalam beberapa kasus, hukuman awal juga berubah setelah proses banding.
Karena itu, belum tepat untuk menyimpulkan hukuman apa yang akhirnya akan diterima Manchester City. Proses hukum dan banding masih dapat memengaruhi keputusan akhir.
Yang jelas, sejarah sepak bola menunjukkan bahwa persoalan finansial tidak selalu berakhir dengan sekadar denda. Konsekuensinya dapat menyentuh posisi klub di kompetisi, aktivitas transfer, hingga hak tampil di turnamen domestik maupun Eropa.
***