← Beranda
Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak
Ardini Pramitha• Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19.00 WIB
Rizal melintas di kawasan Kayoon, Surabaya, di tengah cuaca panas yang menyelimuti Kota Pahlawan. Teriknya matahari menjadi tantangan bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan. (Riana Setiawan/Jawa Pos)

JawaPos.com – Di Surabaya, panas bukan lagi sekadar urusan cuaca. Ia menjelma menjadi tamu yang tak tahu diri: menyelinap lewat celah jendela, berdiam di sudut-sudut rumah, lalu menempel di kulit bahkan ketika kipas angin berputar tanpa henti.

Ia membuat keringat jatuh lebih cepat daripada jarum mesin jahit bergerak, memaksa orang mencari kesejukan dengan segala cara, dan diam-diam ikut menguras isi dompet. Di kota ini, matahari tak hanya membakar aspal dan dinding bangunan, tetapi juga menguji daya tahan mereka yang harus tetap bekerja di bawah teriknya.

Berikut lima seri cerita mendalam yang dihimpun dua wartawan JawaPos.com, Dadang Kurnia dan Ardini Pramitha, untuk merekam bagaimana panas mengubah kehidupan warga Surabaya dari hari ke hari.


Deru mesin jahit di ruang tamu mungil itu berpacu dengan putaran dua kipas angin yang menyala bersamaan. Hembusannya mengarah langsung ke tubuh Warni (56), warga Bronggalan, Surabaya. Namun, angin buatan itu tak cukup mengusir hawa panas yang menyelimuti ruangan.

Tangan ibu dua anak itu terus bergerak di atas kain. Sesekali, ia mengusap keringat yang membasahi dahinya. Pekerjaan harus tetap berjalan, meski udara terasa semakin gerah.

"Sumuk (panas). Aktivitas sebentar saja sudah berkeringat," keluh Warni saat ditemui JawaPos.com, Minggu (4/10).

Bagi Warni, cuaca Surabaya belakangan ini terasa semakin menyengat. Kipas angin di lantai bawah dan atas rumahnya bukan lagi sekadar pelengkap untuk mengusir gerah. Keduanya menjadi penopang agar ia tetap bisa bekerja di tengah suhu yang tak nyaman.

Bahkan, dua kipas angin itu terkadang belum cukup. Pendingin ruangan atau air conditioner (AC) yang biasanya hanya dinyalakan menjelang tidur, kini harus bekerja pada siang hari.

"Sekarang kalau siang nyalakan AC, nggak kuat panasnya," ucap Warni, di samping dua kipas angin duduk besar berwarna hitam.
Warni, 56, warga Bronggalan, Surabaya, menggunakan dua kipas angin sekaligus saat menjahit untuk membantu mengusir hawa panas di dalam rumah. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)
Warni, 56, warga Bronggalan, Surabaya, menggunakan dua kipas angin sekaligus saat menjahit untuk membantu mengusir hawa panas di dalam rumah. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

Pintu dan ventilasi rumah dibiarkan terbuka lebar agar udara bisa mengalir. Namun, segala upaya untuk mencari kesejukan itu membawa konsekuensi lain: tagihan listrik yang ikut membengkak.

Baca Juga: Saat Keringat Tak Bisa Berhenti, Nafkah Harus Tetap Dicari

Sebagai pelanggan listrik berdaya 900 VA, Warni biasanya mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu untuk pemakaian selama tiga minggu. Belakangan, jumlah itu meningkat menjadi Rp 200 ribu untuk periode yang sama.

Panas bukan hanya membuat tubuhnya lebih cepat berkeringat. Ada pula biaya tambahan yang harus ditanggung agar pekerjaan sehari-hari tetap bisa berlangsung.

Dari rumah yang kepanasan, toko kipas angin kebanjiran pembeli

Di tengah keluhan warga seperti Warni, cuaca panas justru membawa berkah bagi sebagian pedagang. Ketika suhu meningkat, kipas angin menjadi salah satu barang yang banyak dicari untuk membuat rumah terasa lebih nyaman.

Di sebuah toko perabotan rumah tangga di Jalan Jetis Kulon, Wonokromo, Surabaya, pelanggan datang silih berganti. Barang yang mereka buru bukan panci atau wajan, melainkan kipas angin.

Yuni, staf administrasi toko tersebut, mengaku penjualan kipas angin meningkat sejak awal Agustus. Barang yang sebelumnya terjual belasan unit sehari, kini bisa mencapai dua puluh unit.

"Kalau belum panas, biasanya laku sekitar 15 kipas sehari. Kalau sekarang bisa sampai 20 unit," ungkap Yuni sambil menunjukkan kipas angin baru yang masih tertutup plastik.

Karyawan toko perabotan rumah tangga di Jalan Jetis Kulon, Surabaya, melayani konsumen yang mencari kipas angin di tengah cuaca panas. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)
Karyawan toko perabotan rumah tangga di Jalan Jetis Kulon, Surabaya, melayani konsumen yang mencari kipas angin di tengah cuaca panas. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

Kenaikan itu terlihat pada berbagai jenis kipas angin. Mulai dari kipas lantai seharga Rp 70 ribu hingga kipas dinding dengan harga Rp 450 ribu, semuanya memiliki pembeli.

Tidak ada satu merek atau tipe tertentu yang mendominasi permintaan. Bagi pelanggan, kipas angin menjadi pilihan untuk menghadapi suhu panas yang mengganggu aktivitas di rumah.

Di satu sisi, panas membuat sebagian warga harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk listrik. Di sisi lain, kondisi yang sama mendatangkan peningkatan penjualan bagi pedagang perlengkapan rumah tangga.

Dua pengalaman yang berbeda itu bertemu pada satu persoalan yang sama: kebutuhan untuk mencari kesejukan di tengah cuaca yang semakin menyengat.

Baca Juga: Ancaman Kesehatan Mengintai Warga Surabaya, Kasus Heat Stroke Meningkat

Konsumsi listrik Jawa Timur naik hingga 10 persen

Pengalaman Warni yang harus menambah pemakaian pendingin ruangan dan meningkatnya penjualan kipas angin di toko Yuni sejalan dengan kenaikan konsumsi listrik di Jawa Timur.

General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur Eric Rossi Priyo Nugroho mengatakan, cuaca panas mendorong masyarakat menggunakan AC dan kipas angin lebih lama. Kondisi itu turut meningkatkan beban sistem kelistrikan.

"Pada saat musim panas ini di seluruh Jawa Timur, disparitasnya (lonjakan beban) mencapai 600 sampai 700 megawatt dibandingkan dengan musim dingin. Secara persentase, kenaikan konsumsi listrik ini di angka 9 hingga 10 persen," jelas Eric saat ditemui JawaPos.com.

Meski demikian, Eric mengaku belum bisa merinci angka kenaikan konsumsi listrik khusus untuk Kota Surabaya. Data yang disampaikannya merupakan akumulasi konsumsi di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Di tengah kenaikan kebutuhan listrik tersebut, PLN memastikan pasokan daya masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Eric menyebut kesiapan daya pembangkit di Jawa Timur mencapai sekitar 10.290 megawatt (MW). Sementara itu, beban puncak saat ini berada di kisaran 7.600 MW.

Kesiapan mesin pembangkit kita kurang lebih di angka 10.290 MW. Dengan beban puncak saat ini yang mencapai 7.600 MW, kita masih memiliki spare (cadangan) daya yang sangat aman, sekitar 2.600 hingga 2.700 MW

Angka tersebut menunjukkan bahwa kenaikan konsumsi listrik belum membuat cadangan daya Jawa Timur berada dalam kondisi kritis. Namun, bagi rumah tangga seperti milik Warni, peningkatan pemakaian listrik tetap terasa langsung pada pengeluaran sehari-hari.

General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Eric Rossi Priyo Nugroho, mengernyitkan dahi di tengah teriknya cuaca Surabaya. (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)
General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur, Eric Rossi Priyo Nugroho, mengernyitkan dahi di tengah teriknya cuaca Surabaya. (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)

Baca Juga: Saat Keringat Tak Bisa Berhenti, Nafkah Harus Tetap Dicari

Mengapa Surabaya terasa semakin menyengat?

Di balik keringat warga dan meningkatnya kebutuhan listrik, ada faktor cuaca yang turut menjelaskan mengapa suhu di Surabaya terasa begitu tinggi.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Diah Novita Astuti, menjelaskan bahwa September dan Oktober merupakan periode suhu maksimum di Jawa Timur, termasuk Surabaya.

Pada September, suhu maksimum tercatat mencapai 36,7 derajat Celsius. Memasuki Oktober, suhu diperkirakan berada pada kisaran 36 hingga 38 derajat Celsius.

Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah posisi semu matahari. Pada periode ekuinoks yang terjadi sekitar 23 September, matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa sebelum bergerak menuju belahan bumi selatan.

Pergerakan semu matahari itu berlanjut hingga periode kulminasi utama atau fenomena hari tanpa bayangan di sejumlah wilayah. Di Jawa Timur, fenomena tersebut diperkirakan berlangsung pada rentang 11–14 Oktober.

Namun, suhu tinggi tidak hanya berkaitan dengan posisi matahari. Kondisi atmosfer dan minimnya hujan juga ikut memengaruhi cuaca yang dirasakan masyarakat.

Diah menjelaskan, minimnya curah hujan membuat udara tidak memperoleh jeda dari kondisi panas yang berlangsung. Ia juga menyebut debu di atmosfer sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses pemanasan.

"Hampir tidak ada curah hujan yang turun sesekali untuk menyapu debu di atmosfer. Padahal, debu-debu ini bersifat memerangkap panas matahari," papar Diah.

Selain faktor meteorologis, perubahan suhu yang dirasakan tubuh juga memengaruhi persepsi masyarakat terhadap cuaca.

Warga Jawa Timur sebelumnya melewati periode bediding, yakni kondisi suhu yang terasa lebih dingin pada puncak musim kemarau, terutama pada Juli hingga Agustus. Setelah itu, suhu kembali meningkat memasuki September dan Oktober.

Perubahan dari periode yang relatif dingin menuju suhu yang lebih panas membuat kondisi saat ini terasa semakin kontras. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, sehingga panas yang datang setelah periode bediding dapat dirasakan lebih menyengat.

Baca Juga: Ancaman Kesehatan Mengintai Warga Surabaya, Kasus Heat Stroke Meningkat

Loading...

Bagi Warni, perubahan itu bukan sekadar angka pada termometer atau penjelasan tentang pergerakan matahari. Panas hadir di ruang tamunya, menemani deru mesin jahit, memaksanya menyalakan pendingin ruangan lebih lama, dan menambah pengeluaran rumah tangga.

Di tempat lain, kondisi serupa membuat kipas angin semakin dicari pembeli. Sementara itu, data PLN memperlihatkan bagaimana kebutuhan untuk mendinginkan ruangan ikut meningkatkan konsumsi listrik dalam skala yang lebih luas.

Cuaca panas mungkin berlangsung sebagai bagian dari siklus tahunan. Namun, bagi warga yang harus tetap bekerja di tengahnya, dampaknya terasa setiap hari: pada keringat yang terus mengalir, waktu istirahat yang terganggu, dan biaya tambahan untuk mendapatkan sedikit kesejukan.

Lantas, bagaimana warga Surabaya bertahan ketika panas tak hanya menguras tenaga, tetapi juga menambah pengeluaran sehari-hari? Selanjutnya, simak kisah para pekerja informal yang harus tetap berjuang mencari nafkah di tengah terik jalanan kota. Baca terus seri “Surabaya Panas!” di kanal Topik Pilihan JawaPos.com.


Tentang Penulis:

Dadang Kurnia lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 1990. Ia memiliki ketertarikan pada peliputan politik, ekonomi, dan isu-isu kedaerahan. Ia dapat dihubungi melalui Instagram dan TikTok di @siodongtea.

Ardini Pramtha merupakan lulusan S1 Jurnalistik dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (STIKOSA-AWS) pada 2021. Ia memulai karier jurnalistiknya di media lokal Surabaya pada 2020, sebelum bergabung dengan JawaPos.com pada Agustus 2026.

Ardini menekuni dunia jurnalistik karena memberinya kesempatan untuk bertemu dan menggali cerita dari berbagai tokoh penting di Indonesia.

Baca Juga: Surabaya Makin Panas, Jerapah di Kebun Binatang Lebih Sering Berteduh

EDITOR: Hendra