Pekerja informal beraktivitas di tengah teriknya cuaca Surabaya. Bagi penjual makanan, pengemudi ojek online, hingga juru parkir, panas menjadi tantangan tersendiri saat mereka harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
Bagi mereka, panas bukan alasan untuk berhenti. Ada dagangan yang harus terjual, penumpang yang harus diantar, dan kendaraan yang harus ditata. Di balik peluh yang membasahi pakaian, ada kebutuhan sehari-hari yang tak bisa menunggu cuaca membaik.
Sugianto (55) adalah salah satu dari mereka. Warga Kecamatan Jambangan itu masih setia mendorong gerobak kayu berukuran 60 x 120 sentimeter dengan lapisan vernis kecokelatan. Roda gerobaknya berderit menyusuri jalanan Jambangan hingga Karah, menempuh rute sekitar 4–5 kilometer setiap hari.
Sudah empat tahun ia menjalani rutinitas tersebut. Bukan karena sejak awal bercita-cita menjadi penjual soto, melainkan setelah pabrik tempatnya bekerja memberhentikannya lebih awal akibat dampak pandemi Covid-19.
Kini, di usianya yang ke-55, ia harus mengandalkan tenaga sendiri untuk memastikan dagangannya sampai kepada pembeli. Sementara itu, cuaca panas membuat pekerjaan yang sudah menguras tenaga terasa semakin berat.
"Ancen panase ra umum (emang panasnya luar biasa)," keluh Sugianto sembari menyeka keringat di wajahnya dengan handuk kecil lusuh yang bertengger di pundak. Ia ditemui JawaPos.com pada Sabtu (3/10).
Bagi Sugianto, menghadapi panas bukan perkara bisa atau tidak bisa bekerja. Ia harus mencari cara agar tetap mampu berkeliling tanpa memaksakan kondisi tubuh.
Kaus lengan panjang, topi yang warnanya mulai pudar, dan persediaan air putih menjadi bekal sehari-hari. Ketika matahari terasa semakin menyengat, ia memilih memarkir gerobak di bawah pohon rindang atau berteduh di warung kopi terdekat sambil menunggu pembeli.
Namun, bertahan di tengah cuaca panas tidak serta-merta membuat dagangannya laris. Justru, di tengah suhu yang meningkat, perputaran ekonomi yang ia rasakan semakin melambat.
Sugianto biasanya mulai berkeliling sekitar pukul 07.00. Ia baru berbalik arah untuk pulang ketika azan Asar berkumandang, kecuali jika sotonya habis lebih awal. Waktu panjang di jalan itu tak selalu sebanding dengan uang yang dibawa pulang.
Penjual soto keliling, Sugianto (55) saat melayani pembeli di bawah pohon rindang di sekitar Kelurahan Jambangan, Surabaya. (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)
Satu porsi sotonya dijual Rp 13 ribu. Namun, selama setahun terakhir, mangkuk-mangkuk yang dibawanya semakin sering tersisa.
"Dulu rasanya untuk bisa pulang bawa uang Rp 300 ribu itu gampang. Sekarang, mau dapat Rp 150 ribu sehari saja kadang susah," lirihnya sambil menyesap dalam-dalam rokok filter putih.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Newcastle Jets vs Gamba Osaka di AFC Champions League Elite: Tim Tamu Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Lens vs Sporting Lisbon di Liga Champions: Kedua Tim Incar Kemenangan Beruntun
Prediksi Skor Buriram United vs Beijing Guoan: The Imperial Guards Terancam Tertahan
Prediksi Skor Newcastle Jets vs Gamba Osaka: Pertahanan Rapuh Tuan Rumah Jadi Celah!
TPG Guru Non-ASN Belum Cair, PGRI Desak Kemendikdasmen dan Kemenkeu Berikan Kepastian
Prediksi Skor Pohang Steelers vs Johor Darul Ta’zim: Harimau Selatan Siap Terkam Tuan Rumah
Prediksi Skor Kyoto Sanga vs Ratchaburi: Duel Tim Pesakitan Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Al Sadd vs Al Hilal: The Blue Waves Siap Menang Tipis di Doha
Prediksi Susunan Pemain Arsenal vs Lille: Gabriel Magalhaes Tetap Andalan Lini Belakang The Gunners

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022