
Rizal melintas di kawasan Kayoon, Surabaya, di tengah cuaca panas yang menyelimuti Kota Pahlawan. Teriknya matahari menjadi tantangan bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com – Di Surabaya, panas bukan lagi sekadar urusan cuaca. Ia menjelma menjadi tamu yang tak tahu diri: menyelinap lewat celah jendela, berdiam di sudut-sudut rumah, lalu menempel di kulit bahkan ketika kipas angin berputar tanpa henti.
Ia membuat keringat jatuh lebih cepat daripada jarum mesin jahit bergerak, memaksa orang mencari kesejukan dengan segala cara, dan diam-diam ikut menguras isi dompet. Di kota ini, matahari tak hanya membakar aspal dan dinding bangunan, tetapi juga menguji daya tahan mereka yang harus tetap bekerja di bawah teriknya.
Berikut lima seri cerita mendalam yang dihimpun dua wartawan JawaPos.com, Dadang Kurnia dan Ardini Pramitha, untuk merekam bagaimana panas mengubah kehidupan warga Surabaya dari hari ke hari.
Deru mesin jahit di ruang tamu mungil itu berpacu dengan putaran dua kipas angin yang menyala bersamaan. Hembusannya mengarah langsung ke tubuh Warni (56), warga Bronggalan, Surabaya. Namun, angin buatan itu tak cukup mengusir hawa panas yang menyelimuti ruangan.
Tangan ibu dua anak itu terus bergerak di atas kain. Sesekali, ia mengusap keringat yang membasahi dahinya. Pekerjaan harus tetap berjalan, meski udara terasa semakin gerah.
"Sumuk (panas). Aktivitas sebentar saja sudah berkeringat," keluh Warni saat ditemui JawaPos.com, Minggu (4/10).
Bagi Warni, cuaca Surabaya belakangan ini terasa semakin menyengat. Kipas angin di lantai bawah dan atas rumahnya bukan lagi sekadar pelengkap untuk mengusir gerah. Keduanya menjadi penopang agar ia tetap bisa bekerja di tengah suhu yang tak nyaman.
Bahkan, dua kipas angin itu terkadang belum cukup. Pendingin ruangan atau air conditioner (AC) yang biasanya hanya dinyalakan menjelang tidur, kini harus bekerja pada siang hari.
"Sekarang kalau siang nyalakan AC, nggak kuat panasnya," ucap Warni, di samping dua kipas angin duduk besar berwarna hitam.
Warni, 56, warga Bronggalan, Surabaya, menggunakan dua kipas angin sekaligus saat menjahit untuk membantu mengusir hawa panas di dalam rumah. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)
Pintu dan ventilasi rumah dibiarkan terbuka lebar agar udara bisa mengalir. Namun, segala upaya untuk mencari kesejukan itu membawa konsekuensi lain: tagihan listrik yang ikut membengkak.
Sebagai pelanggan listrik berdaya 900 VA, Warni biasanya mengeluarkan sekitar Rp 100 ribu untuk pemakaian selama tiga minggu. Belakangan, jumlah itu meningkat menjadi Rp 200 ribu untuk periode yang sama.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022