← Beranda
Sam Altman Minta Dunia Terima Dampak Buruk AI demi Manfaat yang Lebih Besar
Mellyna Putri Diniar• Rabu, 7 Oktober 2026 | 05.42 WIB
Sam Altman mengatakan pendekatan OpenAI terhadap aturan keselamatan AI berbeda jauh dari perusahaan pesaing (The Guardian)

 

JawaPos.com - CEO OpenAI Sam Altman mengatakan dunia perlu menerima sebagian dampak buruk kecerdasan buatan (AI) demi manfaat yang jauh lebih besar. Dalam wawancara dengan Politico's Decoded, dia menyebut peretasan, penipuan, penyalahgunaan, dan risiko lain sebagai konsekuensi yang menurutnya tidak realistis untuk dihapus seluruhnya. 

Dilansir dari The Guardian, Selasa (6/10/2026), Altman menegaskan perbedaan OpenAI dengan kelompok yang mendorong keselamatan AI lebih ketat. "Menurut saya, terdapat perbedaan pandangan yang sangat lebar," katanya. Dia menilai masyarakat harus menerima sebagian hal buruk demi manfaat AI dan kebebasan masyarakat untuk menggunakannya secara luas. 

Dia juga membela pendekatan regulasi yang lebih longgar. "Saya memang berpandangan bahwa sikap regulasi yang lebih ringan yang kami anjurkan berarti menerima kenyataan bahwa sejumlah hal buruk akan terjadi ketika masyarakat membangun ketahanan," ujarnya. Menurut Altman, manfaat AI akan jauh melampaui kerugiannya. 

Baca Juga: Sam Altman Bantah Pusat Data AI Boros Air, Tapi Hadapi Krisis Kepercayaan Publik

"“Saya tidak akan memilih kesepakatan yang menjamin tidak ada peretasan besar, tidak ada penyalahgunaan teknologi, tidak ada penipuan, atau hal buruk lainnya," kata Altman. Dia beralasan masyarakat akan mendapatkan "jauh lebih banyak manfaat daripada keburukan AI." Sikap itu muncul ketika Anthropic justru menyerukan perlambatan pengembangan AI. 

Perdebatan tersebut segera berubah menjadi persoalan politik. Gubernur Florida Ron DeSantis menolak jika perusahaan teknologi diberi keleluasaan menentukan sendiri batas risiko AI yang harus diterima masyarakat.

"Saya tidak setuju dengan gagasan bahwa segelintir oligarki teknologi dapat membuat keputusan itu untuk kita semua," kata DeSantis. Pemerintah Florida pekan lalu juga meminta pengadilan melarang OpenAI mengembangkan model AI baru tanpa pengaman yang telah disetujui pihak ketiga.

Kritik lainnya juga langsung muncul setelah pernyataan Altman. Gary Marcus, akademisi dan pengkritik AI, menilai sikap tersebut pada dasarnya meminta masyarakat menerima dampak buruk AI agar perusahaan teknologi dapat terus memperluas kekuasaan dan keuntungan.

Dia menyindir Altman dengan mengatakan bahwa CEO OpenAI itu "mengatakan secara terang-terangan hal yang selama ini disembunyikan: terima saja, agar kami bisa menjadi lebih kaya raya dan berkuasa."

Sementara itu, dalam wawancara berbeda dengan Vanity Fair, Altman kemudian kembali menyinggung hubungannya dengan Elon Musk, yang turut mendirikan OpenAI pada 2015.

Ketika ditanya apakah industri AI dapat bekerja sama, Altman mengatakan, "Saya tidak menyukai perundung, dan saya pikir Elon adalah seorang perundung." Meski begitu, dia mengatakan tetap bersedia bekerja sama dengan Musk dan menilai sesekali seseorang perlu "memukul balik perundung."

Hubungan keduanya memang telah lama retak. Musk sebelumnya menggugat Altman, OpenAI, dan Presiden OpenAI Greg Brockman dengan tuduhan memperkaya diri secara tidak adil dan melanggar kesepakatan pendirian. Gugatan itu kemudian ditolak hakim dan juri. Di saat yang sama, OpenAI menghadapi insiden keamanan ketika sekelompok agen AI keluar dari "sandbox", menipu dan mencoba meretas Hugging Face, sementara agen lain mengakses data pemerintah Australia. 

Kekhawatiran itu berhadapan dengan dorongan politik AS menuju pengaturan mandiri. Presiden Donald Trump, Altman, dan CEO Anthropic Dario Amodei menandatangani pakta di Gedung Putih yang mengandalkan perusahaan untuk "mengawasi diri sendiri" guna membatasi risiko serangan siber dan senjata biologis. Reuters juga melaporkan Trump menolak aturan baru yang dinilai dapat menghambat persaingan AS dengan Tiongkok. 

Namun, peringatan dari kalangan keselamatan AI justru mengeras. Geoffrey Irving, mantan peneliti OpenAI dan Google DeepMind, mengatakan, "Ada sekitar 50 persen kemungkinan kita semua tewas akibat pengembangan sistem AI yang lebih cerdas daripada manusia," seraya memperingatkan bahwa keputusan yang diambil dalam dua hingga 10 tahun ke depan akan menentukan.

Baca Juga: Penolakan Pusat Data AI Guncang Sam Altman, Ekspansi OpenAI Hadapi Krisis Kepercayaan Publik

Tak hanya itu, mantan staf keselamatan OpenAI David Robinson juga menyebut perusahaan AI "tidak cukup berhati-hati", sementara Miles Brundage menyesalkan gagasan "penerapan bertahap" yang menurutnya tak lagi masuk akal ketika risiko telah meningkat. OpenAI sendiri membatalkan peluncuran model mutakhir dan kini bergerak menuju pencatatan saham, membuat perdebatan soal batas risiko semakin mendesak. 

 

EDITOR: Candra Mega Sari