← Beranda
Nvidia Bidik Teknologi Otomatisasi, Peluang Kerja Programmer Pemula Terancam
Mellyna Putri Diniar• Rabu, 14 Oktober 2026 | 04.25 WIB
CEO Nvidia Jensen Huang memimpin ekspansi perusahaan ke teknologi AI dan otomatisasi perangkat lunak di tengah kekhawatiran atas peluang kerja programmer pemula (The Guardian)

 


JawaPos.com -
Nvidia, perusahaan semikonduktor yang menjadi pemasok utama chip untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), dikabarkan menjajaki investasi tambahan atau akuisisi Reflection AI, perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi otomatisasi perangkat lunak. Langkah ini berpotensi memperkuat kendali Nvidia atas ekosistem AI sekaligus menambah tekanan terhadap kesempatan kerja programmer pemula.

Dilansir dari TheStreet, Selasa (13/10/2026), pembicaraan tersebut masih tahap awal dan belum tentu menghasilkan kesepakatan. Reuters pada 10 Oktober melaporkan bahwa opsi yang dipertimbangkan mencakup akuisisi penuh, penambahan investasi, atau perekrutan karyawan utama Reflection AI disertai lisensi teknologinya. Nvidia dan Reflection AI belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters. 

Nvidia sebelumnya telah menginvestasikan USD 800 juta atau sekitar Rp14,34 triliun, dengan kurs Rp17.920 per dolar AS, ke Reflection AI. Perusahaan yang didirikan pada 2024 oleh mantan peneliti Google DeepMind itu mengembangkan teknologi untuk mengotomatisasi pekerjaan pemrograman. Model AI terbarunya, Beam, dirancang untuk membantu penulisan kode dan menjalankan agen AI, sedangkan pendekatan open-weight memungkinkan perusahaan menyesuaikan model sesuai kebutuhan.

Ekspansi ini memperlihatkan strategi Nvidia untuk memperluas pengaruhnya dari perangkat keras ke perangkat lunak yang berjalan di atas chip buatannya. Sebelumnya, Nvidia mengakuisisi SchedMD, penyedia perangkat lunak pengelolaan beban komputasi, pada Desember 2025 dan melisensikan teknologi inferensi Groq pada bulan yang sama. Pada September 2026, perusahaan juga mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi Hugging Face senilai sekitar USD 12,9 miliar atau Rp231,17 triliun, meski transaksi itu belum rampung.

Baca Juga: Trump Dipuji Bos Nvidia, Elon Musk Jadi Saksi di Tengah Pertemuan Elite AI

Bagi tenaga kerja, persoalannya bukan semata-mata apakah AI dapat menulis kode, melainkan siapa yang masih memperoleh kesempatan untuk memulai karier. Data Indeed Hiring Lab menunjukkan lowongan pengembangan perangkat lunak di Amerika Serikat meningkat hampir 15 persen sejak Februari 2025. Namun, posisi senior menyumbang 71 persen dari kenaikan lowongan antara Mei 2025 dan Mei 2026, sementara jumlah lowongan masih 27,5 persen di bawah tingkat sebelum pandemi.

Tekanan terhadap pekerja teknologi juga berlangsung di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Challenger, Gray & Christmas mencatat 165.925 pengurangan pekerjaan di sektor teknologi hingga September 2026, naik 54 persen dibandingkan setahun sebelumnya. AI disebut sebagai faktor dalam 120.136 pengumuman PHK di seluruh industri Amerika Serikat. Meski demikian, angka tersebut tidak membuktikan bahwa seluruh pekerja yang kehilangan pekerjaan telah digantikan mesin.

Amazon, misalnya, memangkas hampir 30.000 pekerjaan pada periode Oktober 2025 hingga Januari 2026. CEO Andy Jassy menyebut ekspansi berlebihan telah menciptakan terlalu banyak lapisan manajemen. Microsoft juga menghapus sekitar 4.800 posisi pada Juli 2026, sedangkan Oracle mengakui adopsi AI sebagai salah satu faktor restrukturisasi. Sebaliknya, Salesforce memberikan contoh langsung dampak otomatisasi terhadap kebutuhan tenaga kerja.

CEO Salesforce Marc Benioff mengatakan perusahaannya mengurangi jumlah pekerja layanan pelanggan dari 9.000 menjadi sekitar 5.000 orang.

"Saya menguranginya dari 9.000 orang menjadi sekitar 5.000 karena saya membutuhkan lebih sedikit orang," kata Benioff, dikutip San Francisco Chronicle pada 2 September 2025. 

Ia juga mengingatkan, "Model bahasa besar ini dapat melakukan banyak hal, tetapi tidak dapat melakukan semuanya." 

Meski demikian, prospek profesi pengembang perangkat lunak belum sepenuhnya suram. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat memproyeksikan pekerjaan pengembang perangkat lunak, analis jaminan kualitas, dan penguji perangkat lunak tumbuh 10 persen pada 2025–2035, dengan sekitar 106.100 lowongan setiap tahun. Survei Stack Overflow 2026 juga menunjukkan 66 persen responden menggunakan asisten atau agen AI untuk pemrograman, tetapi hanya 7 persen yang memercayai hasil AI untuk keputusan kerja penting.

Penelitian Stanford menemukan bahwa tingkat pekerjaan pekerja berusia 22–25 tahun di profesi yang sangat terpapar AI berada 19 persen di bawah perkiraan berdasarkan tren kelompok yang lebih sedikit terpapar. Temuan itu belum membuktikan AI sebagai penyebab kesenjangan. 

Baca Juga: Jensen Huang Sebut AGI Telah Hadir, Nvidia Siapkan 400.000 Cip Baru

Namun, ekspansi Nvidia di bidang otomatisasi menegaskan tantangan yang lebih mendasar: ketika mesin mengambil alih tugas rutin, perusahaan tetap perlu menentukan bagaimana programmer muda memperoleh pengalaman, mengasah penilaian teknis, dan berkembang menjadi tenaga ahli.

EDITOR: Candra Mega Sari