JawaPos.com - Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memiliki peran mendasar dan strategis dalam menggerakkan pariwisata desa berbasis ekologi dan komunitas. Tak hanya dituntut menjaga kelestarian lingkungan serta kearifan lokal, para pengelola wisata desa kini juga didorong untuk meningkatkan kompetensi komunikasi internasional.
Peningkatan kemampuan bahasa Inggris bagi anggota Pokdarwis dinilai menjadi kunci utama dalam mendongkrak kualitas layanan, kepuasan pengunjung, serta daya saing desa wisata di kancah global.
Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi Ni Komang Ayu Agustini menegaskan penguasaan bahasa Inggris sangat penting. Terutama bagi desa wisata yang mulai dilirik wisatawan mancanegara (Wisman).
"Dengan menguasai bahasa Inggris, anggota Pokdarwis dapat memberikan informasi tentang objek wisata, fasilitas, aturan, dan kegiatan wisata dengan lebih jelas sehingga wisatawan asing lebih mudah memahami informasi yang diberikan," ungkap Ni Komang Ayu, Senin (12/10).
Ni Komang Ayu membeberkan dalam aktivitas pemanduan wisata (tour guiding), kecakapan berbahasa Inggris membantu pemandu lokal menjelaskan sejarah, akar budaya, potensi alam, serta keunikan desa kepada wisatawan internasional secara lebih mendalam.
Selain itu, komunikasi yang lancar memungkinkan anggota Pokdarwis menyajikan pelayanan yang ramah, cepat, dan presisi sesuai kebutuhan wisatawan.
Langkah ini sekaligus menjadi sarana efektif dalam mengedukasi wisatawan asing mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan menghormati tradisi masyarakat setempat.
"Peningkatan kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat citra desa wisata, dan mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan," jelasnya.
Guna mewujudkan Pokdarwis yang mahir berbahasa Inggris, Ni Komang Ayu memaparkan beberapa strategi konkret yang dapat diterapkan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.
Pertama, kemitraan dengan perguruan tinggi. Dalam hal ini, Pokdarwis bisa menjalin kerja sama dengan akademisi melalui program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada materi English for Tourism.
Kedua, pelatihan rutin percakapan wisata. Akademisi nantinya bisa membuatkan modul praktis menyambut tamu, penyampaian informasi, hingga teknik memandu tur secara berkala, yang nantinya diterapkan anggota Pokdarwis.
Selain itu, kata dia, bisa juga dengan memanfaatan aplikasi belajar berbasis ponsel agar anggota Pokdarwis dapat mengasah kemampuan secara mandiri kapan saja.
Ni Komang Ayu melanjutkan, langkah yang juga bisa diambil adalah dengan membentuk kelompok belajar bersama, praktik percakapan, serta melibatkan relawan bahasa.
Ia menekankan, dukungan dari pemerintah melalui penyediaan fasilitas belajar, pendanaan, serta pembukaan akses kerja sama dengan pelaku industri pariwisata sangat dibutuhkan agar peningkatan kompetensi ini berjalan optimal.