
Ruang utama sekaligus tuang tv dan lorong kecil di samping.--Foto: Imam Husein/Jawa Pos
JawaPos.com - Rumah panggung menjadi pilihan Muhamad Erik dan Imelda Indirawati. Mereka ingin membangun rumah idaman, tapi juga harus sesuai dengan peraturan Kawasan Bandung Utara (KBU). Luas bangunan tidak boleh lebih dari 20 persen total luas lahan.
Butuh waktu tiga bulan bagi Regi Kusnadi dan Antonius Setha Pramudya sebagai arsitek untuk membangun rumah Erik dan Imelda. Rumah panggung dipilih karena menyesuaikan aturan pemerintah setempat.
Yakni, masyarakat yang tinggal di Kawasan Bandung Utara tidak diizinkan memiliki bangunan dengan luas lebih dari 20 persen total luas lahan. Bukan tanpa sebab. Daerah Cihanjuang adalah area resapan. Untuk menjaga kualitas air, bangunan tak boleh dibangun di seluruh luas lahan. ’’Kalau dibuat panggung, luas bangunan menjadi lebih dari 20 persen. Itu tidak apa-apa. Karena bangunan nggak langsung menyentuh tanah,’’ papar Regi saat ditemui 7 Desember lalu di Bandung.
Ada tiga tantangan yang dihadapi arsitek selama proses pembangunan hunian dua lantai tersebut. Pertama, pengerjaan detail lantai kayu. Salah pemasangan, lantai akan rusak. Rumah Erik dan Imelda full dengan kayu meranti. Menurut arsitek lulusan Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu, lantai kayu bisa memberi kehangatan bagi pemilik rumah. Terutama ketika cuaca mendadak dingin. Saat malam atau hujan, misalnya.
Photo
Tempat bersantai di belakang rumah. (Imam Husein/Jawa Pos)
Yang kedua, lanjut Regi, detail atap. Atap berbentuk sandar atau skillion milik Erik dan Imelda memang eye-catching. Unik. Atap sandar sering digunakan rumah-rumah dengan gaya kontemporer. Tepi atas pada desain atap standar menempel dengan tembok vertikal. Menurut pria kelahiran Bandung itu, atap tersebut juga digunakan untuk mengalirkan air hujan ke sisi samping halaman rumah. ’’Jadi bukan ke sisi rumah tetangga. Air hujan jatuhnya ke rumah sendiri,’’ jelasnya.
Tantangan terakhir adalah pengerjaan roster pada fasad. Roster itu difungsikan sebagai penghawaan pasif. Menurut Regi, bangunan tersebut mempunyai penghawaan pasif dari roster dan lantai kayu di lantai bawah.
Rumah bergaya minimalis tropis dipilih karena tipe bangunan yang tipis. Dengan konsep itu, udara akan mudah mengalir dan cahaya alami siang hari lebih maksimal dari pemasangan kaca.
Untuk tone warna, abu-abu tua menjadi andalan karena kesannya down to earth. Warna tersebut juga sulit kotor. Selanjutnya, untuk pagar, dipilih warna cokelat supaya selaras.
Photo
Tampak depan(Imam Husein/Jawa Pos)
Pagar tidak dipasang penuh pada bagian depan rumah. Antonius menyebutkan, pagar menggunakan besi holo. ’’Kami mengakomodasi material favorit pemilik, yaitu batu. Ada setengah pagar dan setengah lagi tembok dikasih batu,’’ ujarnya.
Material yang digunakan dalam rumah ada kayu, batu, besi, dan kaca. Empat jenis material itu menjadi favorit pemilik rumah. Erik menuturkan, dirinya dan sang istri suka dengan rumah yang natural. Makanya, material yang digunakan untuk rumahnya harus senatural-naturalnya. ’’Kayu dan kaca ada di bagian dalam rumah. Tidak sekat yang kaku,’’ katanya.
Erik dan Imelda sering kedatangan tamu dari orang terdekat hingga saudara. Karena senang dengan konsep ngariung alias ngumpul, keduanya sepakat tidak menggunakan kursi dan meja di ruang tamu. Ruang tamu dan ruang keluarga digabung. Hanya ada satu kamar di rumah itu. ’’Kami tak suka berdiam di kamar. Kami sukanya bareng-bareng. Kalau ada tamu, bisa di halaman belakang atau dalam rumah,’’ terang Erik.
Photo
Tampak samping (Imam Husein/Jawa Pos)
Di lantai 1 terdapat sembilan tiang dengan kawat bronjong yang dipasang di samping sisi kanan rumah (jika dari arah masuk depan rumah). Setiap tiang diisi dengan batu kali berdiameter 15–20 cm. Jarak antartiang sekitar 30 cm. ’’Tinggi bronjong sekitar 2,4 meter. Jadi, privasi pemilik rumah masih tetap terjaga meski di bagian bawah rumah dipasangi kaca,’’ kata Regi Kusnadi, arsitek.
AREA MEMORABILIA
Photo
Sejumlah pajangan terpampang di ruang tv.(Imam Husein/Jawa Pos)
Di sebelah TV yang menempel di tembok, ada area memorabilia keluarga. Foto-foto keluarga terpasang di sana. Di sampingnya ada hiasan berupa dinding dan piring kecil suvenir dari luar negeri.
ROSTER FASAD RUMAH
Photo
Dinding rooster di depan rumah.(Imam Husein/Jawa Pos)
Regi Kusnadi memilih roster jenis beton dan memiliki sembilan lubang. Tinggi area roster mencapai 9 meter dan lebar 1 meter. Di bagian dalam, roster dilapisi dengan kawat untuk meminimalkan binatang dan debu masuk. Selain untuk unsur estetis, roster tersebut bermanfaat buat sirkulasi udara di lantai 2.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
