
BENUA BIRU: Darbotz berdiri membelakangi gedung berhias mural karyanya di Berlin, Jerman. (Darbotz FOR JAWA POS)
DARBOTZ. Hanya itu yang dia ingin publik tahu tentang dirinya. Nama samaran. Seniman mural yang karyanya bisa dijumpai di beberapa negara selain Indonesia itu memang misterius. Bahkan, setiap tampil di hadapan publik, dia selalu menutup wajahnya.
Ada karya Darbotz di Berlin, Tokyo, Hongkong, Taiwan, dan banyak negara lain. Di dalam negeri, dia menorehkan street art di Mandalika pada tahun ini. ’’Saya itu mulai menggambar pada 2004 atau 2005,’’ katanya saat berbincang dengan Jawa Pos pada pertengahan Mei lalu.
Ketika itu street art booming di berbagai belahan dunia. Namun, tidak banyak anak muda Indonesia yang serius menekuninya. Darbotz adalah salah satunya.
Kreasi yang lantas identik dengan Darbotz adalah Cumi Kong atau monster cumi-cumi. Warnanya sederhana saja. Perpaduan hitam dan putih. Dia sengaja memilih dua warna kontras tersebut sebagai ciri khas Cumi Kong karena menurutnya Jakarta sudah terlalu warna-warni.
Dari mana Darbotz mengawali karier mancanegaranya? Jawabannya adalah Singapura. Saat itu dia diajak untuk terlibat dalam sebuah event seni bertema street art. Setelah itu, dia juga merambah Malaysia. Bermula dari dua negara tetangga tersebut, karya Darbotz lantas mengglobal.
Laki-laki yang tinggal di Jakarta itu memang gemar menggambar sejak kecil. ’’Tetapi, bukan menggambar yang realis. Ada kertas kosong, dicoret-coret. Di meja, di dinding juga,’’ katanya.
Darbotz menyatakan, meski kini karyanya dikenal di seluruh dunia, bukan berarti dirinya adalah seniman mural paling jago di Indonesia. Menurut dia, ada banyak yang skill-nya lebih bagus daripada dirinya. Dia menyebut Bandung dan Jogjakarta sebagai dua kota produsen seniman mural.
Darbotz menyebut karyanya yang populer dan dikenal sampai ke Benua Amerika dan Eropa sebagai kebetulan. Momennya pas. Kini, atas apresiasi positif masyarakat itu, Darbotz harus mampu mempertahankan reputasi baiknya. ’’Konsistensi dijaga. Kemudian, selalu berinovasi,’’ tegasnya.
Photo
MENYUDUT: Street art Darbotz di gedung bertingkat di Taiwan. (Darbotz FOR JAWA POS)
Darbotz menuturkan, seniman pun perlu menerima pandangan-pandangan atau teknologi yang baru. Kemajuan teknologi, menurut dia, memudahkan seniman seperti dirinya untuk unjuk gigi. Tinggal mengunggah karya di media sosial (medsos) agar dilihat para pemakai medsos lain di seluruh dunia. Lantas, hukum rimba berlaku. Seleksi alam. Hanya yang terbaik yang akan bertahan.
Karya Darbotz tidak hanya menghiasi dinding. Komponen beberapa produk komersial pun menjadi kanvasnya lewat kontrak kerja. Ekspresi seninya lantas mendatangkan uang. Kreasi Darbotz tersemat di tas punggung, sepatu DC Shoes, atau bagian belakang ponsel Oppo Reno. Sampai sekarang, dia aktif memajang karya-karyanya di medsos. Itu menjadi etalase yang memikat publik luas.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
