
Puluhan Bonek yang diamankan pada Kamis (10/11) malam saat menggela demo di beberapa sudut Surabaya.
JawaPos.com – Ada kejadian menarik saat anggota Polrestabes Surabaya mengamankan puluhan bonek yang menggelar aksi demo Kamis (10/11) malam. Pasalnya, dari puluhan bonek yang tertangkap, ternyata ada satu yang ternyata bukan merupakan fans Persebaya Surabaya. Bahkan dia mengaku sebagai Aremania. Polisi dan puluhan bonek yang ditangkap pun melongo mendengar pengakuan sang Aremania itu.
Namanya adalah M. Imron, 25. Pria asal Gondanglegi, Malang itu ditangkap saat bentrok dengan polisi di depan Balai Pemuda. Dia kepergok akan menyerang polisi saat itu. Dengan hanya memakai kaos hitam, tanpa atribut Persebaya, korps berseragam cokelat awalnya tidak menyangka Imron akan menyerang. Untungnya, sebelum melukai polisi dia berhasil ditangkap.
Nah, yang sedikit lucu adalah saat polisi meminta para pendemo yang diamankan ditanya soal kota asalnya. Yang berasal dari luar kota diminta untuk angat tangan. Imron ikut angkat tangan juga saat itu. Karena wajahnya paling babak belur diantara pendemo lain, polisi memintanya untuk berdiri.
’’Kamu dari mana?'' teriak salah seorang polisi kepadanya. Imron tidak menjawabnya, dia diam sambil melirik kerumunan di sebelahnya. ''Kamu dari mana, diam saja,'' teriak polisi itu makin keras.
Tubuhnya gemetar, suara lirih meluncur dari mulutnya. ''Saya dari Gondanglegi pak,'' ungkapnya. Sontak, kalimat itu membuat 75 bonek lainya melongo dan menatapnya. Imron makin gemetar melihat tatapan marah bonek-bonek itu.
Mata Imron berkaca-kaca saat polisi menanyakan apakah dia bonek atau bukan. Imron diam. Polisi bertanya lagi sampai tiga kali, dalam suasana hening Imron akhirnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menjawab pertanyaan polisi.
“Saya Aremania, bukan Bonek pak,'' jawabnya.
Sontak, suara gemuruh menggerutu keluar dari mulut para pendemo yang diamankan itu. Polisi terpaksa membentak para pendemo untuk tenang kembali.
Saat ditanya Jawa Pos, Imron mengatakan dia tidak tahu kalau Kamis malam kemarin Bonek menggelar demo. Dia dan teman-temannya saat itu hanya duduk-duduk di sekitaran Taman Apsari. Kebetulan saat itu Bonek sedang berorasi di depan Grahadi.
Nah, entah kenapa Imron tertarik ikut. Dia ikut-ikutan terprovokasi saat itu. Kerusuhan pecah. Imron makin terbawa dan berada di garis depan penyerangan terhadap polisi.
Karena tanpa atribut, polisi tidak mencurigai Imron. Hingga akhirnya korps berseragam cokelat berhasil menangkapnya usai kepergok akan memukul salah satu polisi di depan Balai Pemuda. ''Saya menyesal, saya benar-benar takut sekarang mas,'' ujarnya. (rid)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
