
Serangan beruang madu belum bisa diatasi. Masyarakat juga tidak pernah beraksi. Hanya pasrah mengharap solusi dari pemerintah.
JawaPos.com – Perpaduan keindahan panorama pantai dan pohon di garis pantai Kecamatan Bidukbiduk, Kabupaten Berau berbanding terbalik dengan kondisi kebun kelapa di area perkampungan masyarakat.
Kondisinya banyak yang rusak dan koyak akibat serangan hama beruan madu. Hama yang dilindungi kelestariannya oleh negara. Menurut Kepala Kampung Giring-Giring Kecamatan Bidukbiduk, Irvand Kiay, pohon-pohon kelapa yang masih menghasilkan buah, sudah jarang terlihat.
“Makanya sekarang (serangan beruang madu) sampai ke (kebun) dekat permukiman, karena di dalam sudah habis. Di pinggir jalan aja itu yang terlihat masih subur, padahal di dalam habis,” katanya dikutip dari Berau Post (Jawa Pos Grup), Jumat (30/3).
Irvand mengatakan, kondisi terparah kerusakan kebun kelapa milik masyarakat terjadi di Kampung Tanjung Perepat. Berikutnya yaitu Kampung Bidukbiduk, Pantai Harapan, Giring-Giring, hingga ke Teluk Sulaiman, Kecamatan Bidukbiduk.
“Kalau mau dihitung susah. Karena yang dirusak ini pohonnya, tidak langsung merata satu kebun yang dirusaknya,” katanya.
Dia menduga, serangan beruang madu ke perkebunan kelapa masyarakat dikarenakan habitatnya di hutan telah rusak. Cadangan makanan yang diandalkan semakin menipis, sehingga memaksa beruang madu menyerang kebun kelapa masyarakat.
“Mungkin karena ada alihfungsi lahan. Karena di sini (Bidukbiduk) ada HPH (Hak Pengusahaan Hutan). Yang tertua oleh PT Desy Timber,” ungkapnya.
Meski begitu, dia mengatakan hal itu sekadar dugaannya saja. “Karena harus ada penelitian untuk memastikannya. Tapi kami menduganya seperti itu,” jelasnya.
Irvand menceritakan, Jamaluddin, salah seorang warga yang kebun kelapanya dirusak oleh beruang madu mengaku tak bisa berbuat banyak. Ketika datang, beruang madu itu langsung mengoyak pohon dengan kuku kaki dan tangannya yang panjang-panjang.
“Takut juga mau langsung usir. Kukunya panjang, tajam. Enggak mungkin juga kami tembak,” katanya.
Padahal menurut dia, potensi pendapatan dari berkebun kelapa sangat menjanjikan. Dirinya dan warganya sudah merasakan manfaatnya.
Berkebun kelapa tidak terlalu susah. Buah yang dihasilkan pun cukup banyak. Satu pohon muda, bisa menghasilkan hingga 50 buah sekali panen.
“Seperti investasi. Kami seperti menabung dengan berkebun kelapa ini. Kami bisa sekolahkan anak sampai kuliah, dari hasil berkebun kelapa saja. Karena untuk kebutuhan sehari-hari, masih bisa dipenuhi dengan hasil tangkapan ikan juga,” ungkap pria paruh baya ini.
Oleh karena itu, masyarakat sangat mengharapkan Dinas Perkebunan Berau punya cara jitu untuk mengatasi masalah hama beruang madu tersebut. Pasalnya, produksi kelapa di Giring-Giring dan Teluk Sulaiman, termasuk empat kampung lainnya di Kecamatan Bidukbiduk, sudah dilirik pihak ketiga untuk dikembangkan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
