Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 September 2018 | 21.52 WIB

Mengenang Sejarah di Lubang Buaya

Sumur Maut yang ada di Lapangan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur - Image

Sumur Maut yang ada di Lapangan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur

JawaPos.com - Lubang Buaya di Cipayung, Jakarta Timur dikenal sebagai tempat yang memiliki sejarah bagi rakyat Indonesia. Lubang Buaya pun sangat identik dengan Sumur Maut yang diketahui tempat disiksanya para pahlawan bangsa.


Nama Lubang Buaya diketahui diambil dari legenda yang telah ramai tentang buaya-buaya di sungai sekitar kawasan tersebut. Adapun yang paling menyisakan bekas adalah Sumur berdiameter 75 sentimeter sedalam 12 meter tempat pembuangan korban dengan lampu merah menyala.


"Kami melengkapi banyak hal kalau diikuti proses museum dulu dan sekarang. Fasilitas semakin ditambah seperti tv edukasi yang menjelaskan keterangan diorama untuk memudahkan pengunjung," jelas salah satu pengelola museum Paseban Lubang Buaya, Arifin saat ditemui di lokasi, Sabtu (22/9).


Tidak hanya itu, Lubang Buaya pun menyediakan ruang teater bagi masyarakat yang ingin menonton tragedi G30SPKI atau Gerakan 30 September, Partai Komunis Indonesia. Disediakan pula, toko kecil untuk membeli makanan ringan dan minuman untuk menemani tur di Museum Lubang Buaya.


Sesuai dengan sejarahnya, Arifin menceritakan bahwa dibalik peristiwa G30SPKI atau Gerakan 30 September, Partai Komunis Indonesia ada 7 orang yang perlu diberikan apresiasi mendalam. Ketujuh orang tersebut merupakan korban pembuangan di Sumur Maut.


"Sesuai kisahnya ya mereka dulu disiksa kan di Lubang Buaya dan bahkan yang telah tewas masih diabisin sampai meninggal, memang kalau kita bayangkan sungguh tragis," tutur Arifin.


Ada 3 orang petinggi TNI AD yang memang terlibat dalam peristiwa naas ini, yaitu Letjen Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, dan Brigjen DI Panjaitan. Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Harris Nasution awalnya berhasil lolos beserta ajudannya bernama Andreas Tandean. Sedangkan yang masih hidup lainnya yaitu Mayjen S. Parman, Mayjen R. Suprapto, dan Brigjen Sutoyo.


Dalam salah satu wilayah, ada ruangan yang dinamakan rumah penyiksaan. Berawal dari keteguhan prinsip S. Parman yang tidak bersedia menandatangani Dewan Jenderal. Dewan Jenderal adalah sebutan untuk kelompok jenderal yang diisukan hendak berkhianat pada Presiden Sukarno dan pemerintah Republik Indonesia.


Arifin menyatakan, menurut sejarahnya setelah disiksa separah-parahnya para korban pun diseret dan akhirnya dimasukkan paksa ke Sumur Maut. Bahkan, untuk memastikan bahwa korban telah meninggal anggota PKI menembaki korban.


Peristiwa tersebut dapat disaksikan secara lengkap dalam diorama-diorama yang tersedia di Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya. Tidak perlu khawatir, untuk biaya masuk pengunjung hanya dikenakan biaya Rp 4.000 dan biaya parkir Rp 2.000 saja.


"Kami harapkan agar para pengunjung yang datang memang penasaran akan sejarah dibaliknya. Sehingga, pesan yang kami sampaikan lewat diorama dan relik bisa sedikitnya menggambarkan ketegangan peristiwa tersebut," tandasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore