
Ilustrasi ludruk. Dok. Radar Sidoarjo/JawaPos
JawaPos.com–Ludruk merupakan sebuah seni pertunjukan yang berasal dari daerah Jawa Timur. Pertunjukan itu mengalami transformasi dari yang awalnya dikenal dengan ludruk bandhan, lerok, ludruk besutan, hingga ludruk sandiwara yang dikenal saat ini.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Samidi menjelaskan, istilah ludruk ditemukan dalam rujukan teks di sekitar awal abad 20. Pada zaman itu ludruk diperkirakan sudah bertransformasi menjadi kesenian.
”Pada masa sebelumnya, ludruk merupakan sebuah pertunjukan, tetapi bukan bagian dari kesenian murni yang ditonton dan dikomersialisasikan,” ujar Samidi.
”Kesenian murni itu kan sebuah penampilan estetis yang dalam tanda kutip dikomersilkan, dijual. Ketika ada keramaian, orang nanggap ludruk, nikahan nanggap ludruk, selametan kampung nanggap ludruk, nah itu artinya dijual,” tambah dia.
Sebagai sebuah kesenian, lanjut Samidi, ludruk selalu berubah dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ludruk juga mengadopsi teater komersial yang berkembang pada saat itu, seperti komedi stambul, wayang wong (wayang orang), ketoprak, dan opera-opera Jawa.
”Kesenian itu bergerak mengikuti sekelilingnya, dia beradaptasi, mengadopsi dari kesenian lain dan ditambah kreativitas seniman,” terang Samidi.
Samidi menambahkan, ada sumber yang menyebutkan bahwa ludruk itu berarti badut. Muncul pula dugaan dulu, ludruk merupakan pertunjukan atau tontonan yang dilakukan dengan cara berpindah dari satu rumah ke rumah atau ngamen. Pertunjukan itu diperankan waria dengan satu atau dua pengiring.
”Ludruk kemudian menguat menjadi kesenian yang bergenre teater atau drama di sekitar tahun 1930-an. Mulai banyak bermunculan kelompok atau grup ludruk di daerah-daerah,” tutur Samidi.
Dia menambahkan, pada masa ini, Cak Durasim merupakan tokoh yang berperan dalam transformasi ludruk sebagai bentuk kesenian murni yang komersial. Ludruk pun akhirnya tak hanya menjadi hiburan. Melalui ludruk, ada pembelajaran yang dapat diperoleh penonton. Pelaku seni ludruk juga mulai menyisipkan kritik sosial melalui lawakan.
”Di sini memang ada skenario, tetapi improvisasi dari para pelawak yang paling utama dalam melontarkan kritik sosial,” jelas Samidi.
Cak Durasim, menurut Samidi, ditangkap tentara Jepang karena kritiknya yang dianggap membahayakan Jepang dan akhirnya meninggal dalam penjara.
”Karena perannya dalam kesenian ludruk, namanya pun diabdikan menjadi nama Gedung Taman Budaya Jawa Timur,” papar Samidi.
Pada era sekarang, ludruk sudah tidak banyak lagi dipertunjukkan. Menurut Samidi, hal itu karena perubahan selera masyarakat dan ketidakmampuan kelompok seni ludruk bersaing dengan hiburan lain yang instan.
”Tapi saya percaya, ludruk masih akan tetap eksis apabila pemerintah, komunitas lokal, dan pihak-pihak yang peduli pada kesenian dapat bersinergi dalam melestarikan kesenian ini,” ucap Samidi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
