Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Oktober 2022 | 03.48 WIB

Bukit Krapyak, Padusan, yang Menyimpan Banyak Pintu ke Dimensi Lain

KERAP HILANG: Cerita pendaki yang hilang di Bukit Krapyak sering terdengar. Ada yang bisa kembali, ada pula yang ditemukan tak bernyawa. (Tim Rescue untuk Jawa Pos) - Image

KERAP HILANG: Cerita pendaki yang hilang di Bukit Krapyak sering terdengar. Ada yang bisa kembali, ada pula yang ditemukan tak bernyawa. (Tim Rescue untuk Jawa Pos)

Di balik keindahan Bukit Krapyak di Desa Padusan, Pacet, Mojokerto, tersimpan kekuatan magis. Beberapa makam dan petilasan berada di sana. Termasuk jejak Raja Majapahit Prabu Brawijaya V.

---

KEINDAHAN alam Bukit Krapyak mengundang banyak pengunjung. Termasuk para pencinta alam. Mereka biasanya datang untuk nge-camp atau berkemah. Jika kurang hati-hati, pengunjung bisa tersesat, terpisah dari rombongan, atau hilang. Seperti bulan lalu, seorang mahasiswa asal Pasuruan hilang selama lebih dari dua pekan.

Saat korban yang datang bersama temannya dilaporkan hilang, tim rescue langsung diterjunkan ke sana. Dibutuhkan waktu 16 hari sebelum petugas menemukan mahasiswa yang hilang tersebut dalam keadaan tidak bernyawa. Beberapa orang mengaitkannya dengan aktivitas korban yang terekam kamera salah seorang pengunjung.

Dalam rekaman itu, korban dengan mudahnya melangkahkan kakinya ke titik di atas petilasan Prabu Brawijaya V. Bambang Hadi Purnomo yang terlibat dalam evakuasi korban menyampaikan, beberapa kemungkinan bisa terjadi. ”Kalau dilihat di rekaman, tatapan korban kosong. Dia sempat ditawari kopi, tapi hanya terdiam,” kata Bambang.

Menurut dia, camping ground di Bukit Krapyak tidak layak dibuat wisata. Hal tersebut tidak terlepas dari unsur magis di sana. Banyak makam keramat hingga petilasan Prabu Brawijaya V yang tidak bisa dibuat main-main. Salah satu makam yang terkenal di sana adalah makam sosok yang disebut Sunan Krapyak. Konon, beliau adalah orang yang memiliki hubungan dengan Mataram. Sunan Krapyak menyebarkan agama Islam di kawasan tersebut.

Beliau juga betah tinggal di sana. Bahkan sampai mendirikan padepokan. Bambang menjelaskan, sebagian besar santri Sunan Krapyak adalah makhluk jin. Keberadaannya di Bukit Krapyak tidak terlepas dari hubungannya dengan Majapahit. Mengingat, di sana banyak petilasan Majapahit. Sunan Krapyak yang memiliki nama lain Sunan Pangkat juga dibantu pengikutnya. Salah satunya adalah Eyang Wadak. Banyak versi cerita terkait dengan keberadaannya di Bukit Krapyak. Ada yang menyebut untuk membawa masuk agama Islam ke Majapahit.

Bambang menyebut tempat tersebut sebagai jalur pertapaan. Berbagai energi ada di sana, sama dengan aneka tujuan masyarakat yang berkunjung ke sana. ”Ada juga tempat yang justru dibuat untuk mencari pesugihan,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, di Bukit Krapyak ada banyak portal dimensi. Jika menembus portal tersebut, kita bisa masuk ke dimensi lain. Bisa jadi, saat kita jalan, medannya terlihat datar dan lurus saja. Namun, secara realitas apa yang dilewati itu justru berbeda. Akibatnya, mereka yang masuk ke dimensi lain bisa jatuh ke jurang. Orang yang terlempar ke dimensi lain biasanya sudah tidak sadar. Wajahnya datar dan cenderung tidak merespons orang lain.

Gunung memang menjadi tempat yang memungkinkan terjadinya peristiwa tersebut. Kondisi fisik yang terkuras membuat orang mudah masuk ke dimensi lain. Apalagi mereka yang dalam perjalanan tidak fokus dan asupan oksigen berkurang. Akibatnya, otak sering berimajinasi. ”Ditambah lagi itu tempat wingit,” jelas Bambang.

Kekuatan tidak baik di Bukit Krapyak lebih mendominasi. Di sana banyak spot yang bisa digunakan untuk ritual yang kurang baik. Tidak terkecuali untuk pesugihan. Kata Bambang, berdasar keterangan warga lokal, sering ada penampakan wong abang. Kulit dan rambutnya merah seperti api.

Bambang juga mengulang cerita warga setempat, ada orang yang diketahui hilang selama 11 tahun, tetapi bisa kembali. Hanya, ingatannya hilang. Namun, wajah dan sebagainya masih sama seperti 11 tahun sebelumnya.

Saat ada kabar pendaki yang hilang, warga sekitar sudah meyakini korban masuk dalam dimensi lain. Hal itu sesuai dengan kejadian sebelumnya. Karena itu, saat ini camping ground ditutup. Mengingat, kawasan tersebut rawan. ”Sebelum yang terakhir juga ada yang hilang, tapi balik lagi dan selamat,” ujar Bambang. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore