JawaPos.com - Pandawara Group baru-baru ini memposting gambaran tentang kondisi pantai di Pesisir Loji, Kampung Cibutun, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
Dari postingan Pandawa Grup tersebut, kemudian menjadi viral dan mendapatkan sorotan publik usai menyebut Pantai Cibutun sebagai pantai terkotor no 4 di Indonesia.
Unggahan itu pun viral dan menuai reaksi di kalangan pengguna internet. Terlebih usai Ketua Karang Taruna Kecamatan Simpenan Deris Alfauzi melayangkan ketidaksetujuannya terhadap aksi Pandawara tersebut.
“Kami sangat menyayangkan tidak ada komunikasi terlebih dahulu karena ada tulisan bahwasannya pantai Cibutun itu pantai terkotor ke 4, kita sedang mempertanyakan apakah itu berdasarkan bukti-bukti yang ada, hasil observasi atau penelitian,” pungkas Deris, dikutip dari Radar Sukabumi pada Senin (2/10).
Untuk itu, Deris berharap Pandawara group membuat klarifikasi dalam waktu 2 x 24 jam. Jika permintaan itu tak dipenuhi, pihaknya akan mengambil langkah hukum.
“Termasuk somasi dan pelaporan, terkait dengan konten itu,” terangnya.
Seperti diketahui, Pandawara group membuat postingan tentang keadaan pantai Cibutun dalam rangka mengajak masyarakat untuk aksi bersih-bersih sampah pada 6 sampai 7 Oktober nanti.
Sementara itu, Kepala Desa Sangrawayang Muhtar dengan terang-terangan tidak memberi izin aktivitas bersih-bersih sampah tersebut. Hal itu lantaran pihak Pandawara tidak melibatkan pemerintah dalam kegiatan itu.
Padahal, lanjut Muhtar, jika Pandawara transparan sejak awal, pihak pemerintahan desa tentu mengizinkan.
“Kalau seperti yang kemarin yang dimusyawarahkan di desa itu saya enggak mengizinkan saya mah, harus melibatkan masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan membersihkan sampah pantai.
Sebagai contoh, pada tahun sebelumnya, di sepanjang pesisir Loji, hampir dua ribu orang dari seluruh kabupaten terlibat dalam kegiatan bersih pantai,” bebernya.
Selain itu, Muhtar juga mengaku pihak Pandawara seolah mencemarkan Desa Sangrawayang dengan unggahannya di media sosial.
“Sedangkan kalau di Desa Sangrawayang ada tiba-tiba, tidak mengerti saya juga. Bahkan masuk medsos, jadi seolah-olah desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, cemar nama baiknya,” tandasnya.
***