
Ilustrasi. JENAZAH PEMBUNUHAN
JawaPos.com - Peristiwa ibu dan bayi meninggal dunia kembali terjadi di Papua. Kali ini kejadian memilukan itu menimpa seorang ibu yang menjalani persalinan di Rumah Sakit Tingkat II Marthen Indey, Jayapura pada Jumat (26/12)-Sabtu (27/12). Pasca kejadian itu, pihak rumah sakit menggelar pertemuan dengan Dinas Kesehatan Papua dan mengungkap kronologi kejadian.
Kepala Rumah Sakit Tingkat II Marthen Indey Kolonel Ckm Rudy Dwi Laksono menjelaskan bahwa pertemuan dengan Dinas Kesehatan Papua merupakan langkah cepat untuk membedah sisi teknis medis atas kejadian itu. Tujuannya untuk memastikan penanganan pasien sudah sesuai prosedur dan untuk meluruskan spekulasi serta informasi yang beredar di masyarakat.
”Kami melibatkan Dinas Kesehatan Papua untuk mengampu dari sisi teknis medis. Kami ingin memastikan secara transparan apakah ada kekurangan atau memang semua sudah sesuai prosedur. Ini adalah bentuk komitmen kami terhadap transparansi kasus kematian ibu dan anak,” ungkap Kolonel Rudy.
Kepada awak media, David Randel Christanto sebagai dokter spesialis yang menangani pasien menduga penyebab pasien meninggal dunia adalah cardiac arrest atau henti jantung mendadak yang dipicu oleh emboli air ketuban. Kondisi itu merupakan komplikasi persalinan yang langka namun sangat fatal. Sebab, air ketuban masuk ke dalam aliran darah ibu.
”Kami telah memberikan edukasi kepada pihak suami mengenai kondisi ini. Kejadiannya sangat cepat, pasien tiba-tiba mengalami apneu (henti nafas) dan seluruh wajah membiru saat proses pembukaan hampir lengkap,” terang David.
Secara terperinci, pihak Rumah Sakit Tingkat II Marthen Indey pun menjelaskan kronologi dan tahap demi tahap penanganan pasien. Pada pukul 09.40 WIT kemarin, pasien tiba dengan rujukan untuk rencana induksi persalinan. Kondisi awal ibu dan janin dilaporkan dalam keadaan baik. Kemudian pada pukul 11.00-1300 WIT, petugas medis mengedukasi pasien dan suami mengenai opsi operasi sesar (SC).
Namun demikian, pihak keluarga memilih tetap menjalani proses persalinan normal dengan melakukan induksi. Pada pukul 13.00-23.00 WIT proses induksi berjalan sesuai dengan tahapan. Tim medis memastikan detak jantung janin dan kondisi ibu dipantau secara berkala setiap jam, petugas juga memastikan kondisi ibu dan bayi stabil.
Pada pukul 02.30 WIT dini hari tadi, ketuban pasien pecah secara spontan dan berwarna jernih. Pembukaan sudah mencapai 9 sentimeter. Tidak lama, pukul 02.32 WIT secara mendadak pasien mengalami apneu, wajah membiru (sianosis), dan nadi melemah. Tim medis segera melakukan tindakan darurat berupa RPJ, pemasangan oksigen, dan injeksi epinefrin.
Pukul 03.17 WIT, David tiba di ruang penanganan pasien dan melakukan pemeriksaan mendalam untuk mengupayakan penyelamatan secara maksimal. Langkah itu dilakukan di hadapan suami pasien. Pada pukul 03.55 WIT, pihak rumah sakit menyatakan pasien telah meninggal dunia. Lantaran pihak keluarga masih berduka, pertemuan dengan pihak rumah sakit akan dilaksanakan pada Senin mendatang (29/12).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ketua Komisi II DPR Usulkan Gaji PNS lewat Koperasi Hanya untuk Pegawai Pusat
Tak Hanya Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala BPK Perwakilan Jawa Tengah
Prediksi Skor Estudiantes vs Flamengo: Panas Menuju Final Copa Libertadores
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante: Granotes Paksa Tuan Rumah Berbagi Poin
Menkop Pastikan Gaji PNS Lewat Koperasi Mulai Tahun Ini, Tak Perlu Tunggu 2027
Prediksi Skor Garudayaksa FC vs Arema FC: Singo Edan Kembali ke Jalur Kemenangan
Prediksi Skor Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga: Lini Pertahanan Rapuh Jadi Ancaman Tuan Rumah
KPK Terima Pengembalian Uang Rp 800 Juta dari Hercules Berkaitan Kasus Suap HGB Summarecon
Prediksi Skor Le Mans vs Toulouse: Duel Seru Tim Papan Bawah Demi Lolos Zona Degradasi
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022