Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Maret 2026, 19.28 WIB

Macet 35 Km ke Gilimanuk, Warga Kaliakah Raup Rezeki dari Kopi hingga Ojek Dadakan

Aktivitas warga yang mengais rejeki menjadi ojek dadakan di Perempatan Tugu Kaliakah, Kecamatan Negara, Minggu (15/3/2026). (I Gde Riantory Warmadewa/Jembrana Express) - Image

Aktivitas warga yang mengais rejeki menjadi ojek dadakan di Perempatan Tugu Kaliakah, Kecamatan Negara, Minggu (15/3/2026). (I Gde Riantory Warmadewa/Jembrana Express)

JawaPos.com - Teriknya matahari siang menyengat jalur nasional Denpasar–Gilimanuk, tepatnya di kawasan Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.

Di sepanjang jalan, antrean kendaraan terlihat memanjang tanpa henti. Truk, bus, hingga mobil pribadi terjebak dalam kemacetan yang nyaris tak bergerak. Mesin kendaraan tetap menyala, namun laju perjalanan praktis berhenti. Kemacetan menuju Pelabuhan Gilimanuk bahkan dilaporkan mencapai sekitar 35 kilometer.

Meski situasi tersebut membuat para pemudik kelelahan, kondisi berbeda justru dirasakan sebagian warga setempat. Antrean panjang kendaraan itu membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk meraup penghasilan tambahan.

Di sepanjang bahu jalan Desa Kaliakah, sejumlah warga terlihat berdiri menawarkan berbagai dagangan sederhana. Ada yang membawa termos berisi kopi, ada pula yang menjajakan nasi bungkus, air mineral, hingga camilan ringan.

Berdasarkan pantauan Jembrana Express (Jawa Pos Group) di lokasi pada Minggu (15/3), makanan seperti nasi jinggo, kopi hangat, air mineral, dan aneka camilan laris dibeli sopir truk maupun pemudik yang sudah berjam-jam menunggu di antrean menuju pelabuhan.

Salah satu pedagang dadakan yang terlihat sibuk adalah Wayan Netri (48). Ia tampak menuangkan kopi dari termos ke gelas plastik untuk para pembeli yang berhenti di pinggir jalan.

Sejak pagi, Netri memilih berjualan setelah melihat kemacetan panjang yang tidak biasa sampai menjalar ke wilayah desanya. Menurutnya, melihat banyak sopir truk terjebak antrean membuatnya merasa iba.

“Tumben macetnya sampai ke Desa Kaliakah ini. Kasihan lihat para sopir truk yang harus menunggu lama, jadi kami tawarkan kopi dan makanan untuk pemudik,” ujarnya.

Netri menuturkan, aktivitas berjualan ini bukan semata untuk mencari keuntungan, tetapi juga sebagai bentuk membantu para pemudik yang kelelahan selama perjalanan.

Di tengah antrean kendaraan yang nyaris tak bergerak, sebagian penumpang bus maupun kendaraan travel bahkan memilih turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Pemandangan orang berjalan di sisi jalan sambil membawa tas pun menjadi hal yang lumrah pada hari itu. Melihat situasi tersebut, beberapa warga kemudian memanfaatkan peluang dengan membuka jasa ojek dadakan.

Salah satunya Ketut Oki (46). Awalnya ia hanya melintas di kawasan itu setelah mengantar istrinya bekerja. Namun ketika melihat banyak pemudik berjalan kaki menuju pelabuhan, ia mencoba menawarkan jasa antar menggunakan sepeda motor.

“Saya coba tawarkan jasa ojek, ternyata mereka sangat antusias. Tarifnya bervariasi, sesuai keikhlasan saja karena niatnya juga membantu,” katanya.

Dalam sekali perjalanan, Oki bisa memperoleh bayaran sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu dari pemudik yang ingin lebih cepat sampai ke pelabuhan. “Kemarin saya dapat dua orang. Hari ini sampai jam 11.00 Wita sudah dapat dua lagi,” tambahnya.

Selain warga yang membuka jasa secara spontan, pengemudi ojek yang biasa mangkal di sekitar kawasan itu juga turut menawarkan bantuan kepada pemudik.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore