JawaPos.com - Hari-hari yang berat bagi Nissan tampaknya masih belum akan terlewati. Usai berakhirnya diskusi merger dengan Honda pekan lalu, Nissan menguraikan strategi pemulihan perusahaan yang diperbarui.
Merger yang diusulkan, yang bernilai sekitar USD 60 miliar, secara luas dipandang sebagai opsi penyelamat potensial bagi Nissan, yang telah menghadapi penurunan penjualan selama bertahun-tahun dan kekacauan internal yang melibatkan para eksekutif puncak.
Setelah upaya bersanding dengan Honda gagal, Nissan tampaknya makin "rungkad". Nissan mengungkapkan langkah-langkah pemangkasan biaya yang bertujuan memulihkan stabilitas keuangan.
Perusahaan berharap dapat memangkas biaya sekitar JPY 400 miliar (sekitar Rp 43,6 triliun lebih) pada akhir tahun fiskal 2026. Dilansir dari MotorAuthority, Kamis (27/2), komponen utama strategi Nissan melibatkan pemotongan kapasitas produksi global sekitar 20 persen, menguranginya dari 5 juta menjadi 4 juta kendaraan.
Hal ini akan langsung berdampak terhadap pengurangan tenaga kerja sekitar 9.000 karyawan dan penutupan tiga pabrik. Pabrik pertama yang akan ditutup berada di Thailand, dijadwalkan ditutup pada tahun fiskal 2025.
Lokasi dua pabrik lainnya belum diumumkan. Pabrik yang tersisa mungkin akan mengalami konsolidasi lini produksi dan penyesuaian pola shift. Di AS, pabrik Nissan di Smyrna, Tennessee, dan Canton, Mississippi, akan mengurangi shift.
Langkah-langkah ini akan membantu menurunkan titik impas Nissan dari 3,1 juta kendaraan saat ini menjadi 2,5 juta kendaraan, dengan perusahaan yang bertujuan mencapai margin operasi yang stabil sebesar 4 persen.
Selain pemangkasan biaya, Nissan berfokus pada peningkatan efisiensi. Perusahaan ini bertujuan untuk mempercepat waktu pengembangan kendaraan dan meningkatkan penghematan biaya melalui kesamaan yang lebih besar antar model.
Kendaraan pertama yang dikembangkan dengan pendekatan yang efisien ini akan diluncurkan pada tahun fiskal 2026. Nissan juga memperluas jajarannya dengan model plug-in hybrid baru untuk memanfaatkan permintaan konsumen yang terus meningkat terhadap mobil hybrid.
Selain itu, Nissan mengumumkan rencana untuk melakukan tinjauan strategis guna menjajaki kemitraan baru. Pada 12 Februari, produsen kontrak asal Taiwan, Foxconn, mengonfirmasi bahwa mereka tengah berdiskusi dengan Nissan dan terbuka untuk mengakuisisi saham sebagai bagian dari kolaborasi apa pun.
Nissan juga dilaporkan tengah berunding dengan perusahaan teknologi untuk kemungkinan kemitraan, mirip dengan kolaborasi Honda dengan Sony, yang menghasilkan terciptanya merek kendaraan listrik gabungan mereka, Afeela.