
Sastrawan Goenawan Mohamad menjadi pembicara dalam diskusi buku BJ. Habibie: Di Tengah Arus Transformasi Politik Indonesia Karya R. William Liddle di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com – Setelah sukses dalam peluncuran pertama di Jogjakarta, Manurung: Sebuah Montase kembali diperkenalkan ke publik. Kali ini Jakarta dipilih menjadi tuan rumah. Peluncuran ini sekaligus menandai cetakan kedua dari novel yang ditulis Sastrawan, intelektual, dan pejuang demokrasi Goenawan Mohamad (GM).
Yang menjadikannya menarik, pada peluncuran ini tak hanya diisi dengan sesi tanda tangan atau ulasan novel. Petikan dari novel yang terbit di 2025 ini turut dibacakan secara apik dan epik oleh aktor Syam Anchoe Amar dan Ruth Marini, di ruang teater Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (26/4). Tamu undangan seolah turut dibawa ke dalam setting novel tahun 1970-an yang ada di Eropa, oh, bahkan Bekasi.
Novelis Ayu Utami menilai novel kedua GM ini “sangat GM”. Suasana utama yang dibangun berbentuk renungan yang murung, sama seperti novel sebelumnya. “Yang bukan mustahil mengakibatkan pemilihan judul dan nama tokoh Manurung. Murung, renung, Manurung. Bener begitu nggak mas?” candanya disambut tawa tamu yang hadir.
Menurut dia, novel karya GM meski murung tapi memiliki perbedaan besar dengan novel depresif. Pada novel depresif, tokoh utama seolah tidak bisa keluar dari masalah. Padahal, bisa saja kalau sedikit lagi usaha. Hanya tertahan pada level depresi mental. “Kalau murungnya GM itu murung yang tokoh utama bisa keluar dari masalahnya. Dan saya lebih suka ini. Seperti harus tetap menjalani hidup meski terseok-seok,” ungkapnya.
Selain itu, kata dia, bentuk fragmen dan suasana murung ini punya dasar filosofis yang dalam. Yaitu, kesadaran akan “kemustahilan bahasa”. Bahwa bahasa, satu-satunya sarana berpikir manusia, sebenarnya tidak memadai dan tidak bisa dipercaya 100 persen.
Novel Manurung sendiri mengambil waktu era Perang Dingin. Ayu menilai tema ini sangat penting. Agar, orang tahu dan tidak lupa bahwa perang dingin yang dianggap babak sejarah baru dunia dan kemenangan demokrasi, ternyata tidak hanya membawa kebaikan saja. Tetapi juga melahirkan perang-perang baru, kekejaman baru, sering atas nama agama dan etnisitas, serta kapitalisme-liberalisme yang tanpa penantang sehingga menimbulkan ketimbangan-ketimpangan baru yang semakin lebar.
Cerita Manurung ini berlapis. Ayu mengaku harus membaca sampai tiga kali untuk benar-benar memahami dan memberikan ulasan terkait kisah Karel Manurung, sang tokoh utama novel ini, mencari adiknya Yosef yang hilang. Abang adik ini adalah eksil Indonesia di Eropa. Ayah mereka dibunuh dalam peristiwa penumpasan PKI 1965-1966.
Karel terdampar di Jerman Timur, sementara Yosef di Cekoslovakia. Dua negara Blok Timur yang kini telah tidak ada. Jerman Timur bersatu dengan Republik Federal Jerman. Sementara, Cekoslovakia terpecah menjadi Ceko dan Slovakia.
Cerita semakin menarik ketika Karel direkrut menjadi informan Stasi, badan intelijen Jerman Timur yang terkenal sangat represif. Apalagi, Karel juga mendapat tugas rahasia kecil dari badan intelijen untuk “menghidupkan kembali komunisme” di Indonesia.
“Membuat novel ini bernuansa spionase yang lembut,” katanya.
Sementara itu, Yosef justru terlibat demonstrasi anti Uni Soviet di Praha tahun 1968. Suatu peristiwa yang dikenang sebagai Musim Semi Praha yang singkat dan berakhir tragis.
Baca Juga: Nyanyi Sunyi dari Sudut Palestina
Tak hanya menyajikan kisah yang menarik, sebagaimana tulisan-tulisan GM yang lain, karya ini tak bisa tidak menekankan pada perenungan. Perenungan filosofis yang biasa terdapat dalam Catatan Pinggir atau esai-esai GM dihadirkan dalam bentuk dialog atau surat-menyurat antar tokoh-tokoh novel.
Misalnya, kritik pada kapitalisme yang banyak muncul dalam percakapan mengenai arsitektur dan kota antara Karel dan atasannya di Bauakademie, Farhad Hamedani, seorang pelarian dari Iran.
“Kenapa arsitektur jadi percakapan penting di Berlin? Di seberang Tembok, di dunia borjuis, orang menganggap arsitektur kecerdasan mendesain gedung dengan gaya ini atau itu. Di sini tidak. Di sini arsitektur perjuangan menciptakan ruang agar manusia saling percaya, saling ketemu, saling membantu.” (hal.53)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
