Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Oktober 2025 | 19.11 WIB

60 Penulis ‘Menelisik Lampung’ Penuh Warna

Cover buku. (Istimewa) - Image

Cover buku. (Istimewa)

seruit tanpa ikan-

 

bagiku, meninggalkan lampung

laksana meninggalkan bayang

tentangmu di setiap penjuru

 

detik mencumbu menit

aku kan dicumbu rindu

“sappai puhala luot, kabut!”

Seruit adalah khas makanan orang Lampung. Terbuat dari sambal dicampur terasi, kemudian diremas-remas dengan terong, ikan (nila, emas, baung). Biasanya seruit disantap bersama-sama keluarga dekat. Lazimnya pula dalam makan bersama (pesta adat/keluarga); cuak mengan. Cabai yang dipilih dan diulek dari cabai yang pedas. Sehingga saat makan nasi dan seruit, yang menikmatinya hingga keluar keringat alias luwah iting

Ini salah satu karya dari 60 penulis Lampung yang menelisik Lampung dan keLampungan, melalui perspektif ataupun tafsir ulang secara personal. Mereka adalah orang Lampung yang telah pula menetap sangat lama. Para penulis sudah cukup memiliki pengalaman atau terlibat langsung dalam kebudayaan yang ada di daerah ini. Bahkan menjadi bagian tidak terpisah dari kebersamaan budaya/adat kebiasaan orang Lampung. 

Adat-adat yang juga menjadi perhatian para penulis, di antaranya sebambangan (adat kawin lari) yang ditunjukkan Devin Cumbuan Putri melalui puisi “Lapah Sebambangan”, bahwa “adat tak bisa dilipat begitu saja/sebambangan tak hina” (hlm 14). Penulis ini juga mengangkat adat pepadun di Kotabumi, Lampung Utara. Tentang penenun (perajin) ditulis Dira Saputra lewat puisinya bertajuk “Benang Emas Lampung”. 

Tentang “Panaragan” nama daerah di Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, terdapat dalam puisi “Panaragan” karya Hendri Firmansyah (hlm 40). Dalam tangkapan imaji Hendri, dikatakan “langkah-langkah di tanah itu tak sembarang,/tiap jejak adalah titah, adalah ajaran./tiyuh berdiri bukan karena batu dan papan/tapi karena nilai yang berlintas zaman//sesat agung, suara tua masih bergaung,/tentang kejujuran,/tentang marwah yang tak pernah lung”. 

Selain soal adat (budaya) juga piil dalam buku ini juga menyorot tempatan yang ada di sini. Misalnya, Bandara Raden Intan II, (kota) Tanjungkarang, Tegal Mas, Krakatau, dan nama-nama tempatan lain di Provinsi Lampung. 

Tentang rumah sebagai tempat menetap dan persinggahan (bagi etnis Lampung juga Melayu, rumah adatnya terbuat dari kayu dan biasanya bertangga) dikisahkan sangat menarik oleh Iin Zakaria lewat puisi “Rumah Abu” (hlm 74). Iin tak asing dalam dunia kesenian di Lampung: ia pendongeng, pembaca puisi, dan penyair! 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore