Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 22 Mei 2018 | 02.40 WIB

Memori Pahit Susy Susanti di Piala Thomas dan Uber 1998

Susy Susanti - Image

Susy Susanti

JawaPos.com - Bergulirnya Piala Thomas dan Uber 2018 mengingatkan legenda hidup bulu tangkis putri Indonesia Susy Susanti akan peristiwa kelam tepat 20 tahun lalu. Mengikuti perhelatan Piala Thomas dan Uber 1998 di Hongkong, Susy kala itu harus bertempur dalam kondisi pikiran kalut karena tragedi Mei 1998 sedang berkobar.


Dikenal sebagai salah satu peristiwa terburuk yang menghiasi rekam jejak bangsa Indonesia, Susy jelas masygul hati. Betapa tidak, peristiwa kerusuhan massal yang diwarnai aksi pembunuhan, pembakaran, dan pemerkosaan itu menyasar orang-orang beretnis Tionghoa.


Susy, yang juga keturunan Tionghoa, tak luput dari sasaran amuk. Prestasi medali emas di Olimpiade Barcelona 1992 yang pernah diraihnya hingga meroketkan bulu tangkis Indonesia ke puncak dunia seakan dilupakan begitu saja. Susy tak ubahnya seperti warga Tionghoa lain yang kala itu dinilai wajib dilaknatkan dari muka Bumi Pertiwi tanpa alasan logis.


"Ya panik bukan main lah. Saya selalu telepon ke rumah, lalu terakhir dapat kabar rumah saya mau dibakar. Rumah yang di Tasikmalaya sudah kena lemparan batu. Tapi untungnya tetangga-tetangga melindungi dengan bilang kalau itu bukan rumah saya," kata Susy dengan raut wajah muram. 


Semangat membara dan pikiran yang fokus untuk memenangkan Piala Uber pun lenyap. Konsentrasi Susy pecah, kalah oleh rasa takut dan kecewa yang menyergap. "Padahal waktu pergi, kami dilepas secara baik-baik oleh Presiden Soeharto," kenang Susy lagi.


Meski sedang berada di negeri orang, keselamatan Susy dan para atlet lain yang juga berdarah Tionghoa ternyata tidak sepenuhnya aman.


Tersebar pesatnya kabar tragedi Mei 1998 ke seluruh dunia membuat Susy dan yang lainnya juga dipandang sinis oleh orang-orang di Hongkong. Seluruh mata dengan pandangan jijik dan menghakimi seakan terus mengikuti pergerakan mereka.


"Sampai kami kalau pakai jaket, harus dibalik supaya tulisan Indonesia tidak terlihat. Sudah seperti itu pun kami masih disorakin oleh satu gedung. Kejadian di Indonesia waktu itu juga berimbas ke kartu kredit kami. Semua diblokir. Kami tidak bisa makan, dan nyaris diusir dari hotel. Akhirnya Direktur Sinar Mas Gandi Sulistianto bawa uang cash," ujar Susy.


Rentetan peristiwa itu pun berbuntut pada hasil tim Uber Indonesia di partai final. Bersua musuh bebuyutan Tiongkok, Susy dan kawan-kawannya harus rela kalah dengan skor 1-4. Susy termasuk pemain yang gagal menyumbang poin.


Buruknya peristiwa Mei 1998 bahkan sampai membuat Susy ditawari suaka di Hongkong. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Susy menafikkan dirinya sebagai bangsa Indonesia sejati. Istri Alan Budikusuma itu tetap pulang dengan kepala tegak.


"Saya bilang bahwa bahwa baik atau buruk, Indonesia tetap negara saya. Seluruh keluarga ada di sana, dan saya mau pulang," ujar Susy yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI.


Hingga detik ini, isu rasialis memang masih kerap kali merebak dan memicu aksi tak menyenangkan. Mulai dari bullying di kalangan pelajar hingga propaganda politik, etnis Tionghoa harus diakui masih kerap jadi sasaran tembak. Kendati demikian, Susy tidak gentar.


Baginya, isu rasialis tidak lebih dari sekadar isu murahan yang dipakai sekelompok manusia degil demi kepentingan oknum atau golongan tertentu.


"Saya bisa bilang bahwa saya adalah seorang nasionalis. Kenapa? Karena saya sudah berbuat (menyumbang prestasi, Red) untuk negara saya," ujarnya mantap.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore