
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Kali pertama lelaki tua itu terlihat di bangku taman sambil mengupas sebuah delima. Tangannya yang keriput menyibak kulit delima yang mulus. Dengan pisau yang mulai berkarat, bulir-bulir merah itu terburai dan lelaki tua itu menampungnya dalam cangkir plastik bekas kopi merek S.
---
SEEKOR anjing duduk tak jauh dari lelaki tua itu. Lelaki tua tersenyum memperlihatkan giginya yang sedikit kuning, pun senyum Joana. Agak khawatir. Pukul enam, sebagaimana kebiasaan yang belakangan Joana lakukan, dia sudah mengikat tali sepatu lari, memakai kaus dan celana pendek khusus lari, memasang airbud dan playlist untuk joging pagi. Sirene kereta api dari Stasiun Cawang masih terdengar, belum tertimpa polusi suara dan polusi udara. Langit belum sempurna terang, matahari masih berselimut kabut, tapi pengap dalam pikirannya harus lekas dia gusah agar harinya tidak suram. Lari pagi satu jam, mengelilingi kompleks menjadi katalis terbarunya. Terlebih tak jauh dari kompleksnya, sebuah taman dengan rerimbunan lebat sudah boleh dikunjungi.
”Mungkin dia pembunuh?!”
Kota besar ini sering membuat gila banyak orang, hingga pembunuhan lebih sering terdengar dari kegembiraan. Sepagi ini lelaki tua itu membawa senjata tajam! Joana berhenti, mengamati sebentar, menarik napas lebih panjang, dan berniat putar balik pulang.
Udara taman yang bersih dan kaya oksigen mengisi paru-parunya. Meski hatinya belakangan rumpang, dia tidak mau mati oleh sakit hati. Sudah dua bulan ini rumahnya menjadi neraka kecil yang andai tidak diikat oleh peraturan agama, Joana akan mudah mengajukan cerai dan pergi dari suaminya. Agama selalu merepotkan, batin Joana. Sebab untuk berpisah saja, sedemikian runyam. Bilapun dia harus mengajukan cerai, di mana keluarganya tampak tanpa cela, harmonis dan sempurna, yang tampak seperti cadik di tengah danau tenang tanpa ombang-ambing, dia pun akan diserang pertanyaan.
”Gila kamu, Joana! Mau cari apa lagi!”
”Redian itu 1 dari 1.000 lelaki sempurna di dunia ini!”
”Tampan! Karier mapan!”
”Kamu lepaskan Redian, semuanya akan mendekati!”
Rasanya rumah bukan lagi tempatnya pulang. Tempat Joana bisa melepaskan semua keluh seharian bekerja. Rumah kini menjadi sekadar toilet dan hotel kapsul, Joana hanya butuh tidur dan mandi di sana. Tidak lagi peduli bila Redian masih hidup dan tinggal seatap dengannya. ”Silakan diambil kalau kalian merasa Redian itu lelaki sempurna!”
Joana sejenak berhenti, mengencangkan ikatan tali sepatu yang kendur. Lelaki tua itu masih mengumpulkan bulir delima yang terjatuh dekat kaki. Lelaki tua itu mungkin sudah sedemikian lama hidup di jalan, berkawan debu dan polusi, sehingga makanan terbuka yang terjatuh dan mungkin saja tersentuh kuman-virus tampak tak mempan pada tubuh sepuh itu. Beberapa kali lelaki tua itu mengusap debu dan menyorongkan bulir delima ke mulutnya. ”Tuhan memang adil!” batin Joana. Tubuh yang terlalu dimanja memang menjadi bumerang, sekali kena kuman bisa langsung ambruk.
Menjadi istri di tengah keluarga tenang adalah sebuah kebahagiaan. Ternyata, tidak. Kesempurnaan membuatnya sadar dia bukan lagi manusia, melainkan sebuah boneka pajangan. Redian dengan statusnya dan Joana dengan segala kesempurnaan. Redian dan Joana seperti dua yang kebetulan menginap satu kamar dalam sebuah love motel. Bila butuh mendekat. Bila tidak, diam mengerjakan kebutuhan masing-masing. Redian bukanlah lelaki di depan Joana.
”Aku hanya guling temannya tidur! Bukan istri!” Joana kerap mengumpati Redian.
”Minta pisah saja!”
”Sudah! Tapi tidak mungkin bercerai!”
Selalu demikian. Dan dua bulan yang lalu mereka memutuskan untuk memisah kamar. Tinggal seatap tanpa harus merecoki kamar masing-masing. Entah sampai kapan, Joana pun tidak memutuskan.
”Mumpung masih pagi, ya!” lelaki tua itu menyapa Joana yang tidak begitu jauh.
Joana hanya mengangguk.
***
Dua hari kemudian Joana menyaksikan lelaki tua itu duduk lebih pagi dari kemarin. Selain si anjing, kini ditemani perempuan yang sama tuanya. Lelaki tua dengan kemeja biru tua tak cukup cerlang, sedangkan si perempuan tua duduk dengan blus merah terang. Cukup mencolok dengan selilit kalung emas di lehernya. Sungguh pemandangan pagi yang cukup ganjil, batin Joana. Mereka berdua berbagi bangku. Menjadi tua tidak menghalangi keduanya untuk berkasih laiknya pasangan muda. Bahkan rasanya Joana tidak pernah menyaksikan pasangan muda berkencan di taman, seperti mereka. Kalaupun ada, Joana lebih sering duduk berdekatan dengan wajah yang terjerat layar masing-masing. Dekat, tapi begitu jauh. Sejatinya jauh, meski tubuhnya rapat. Perempuan tua menguliti jagung rebus dan lelaki tua itu menumpukan kaki kanan pada kaki kirinya. Seolah dia menantikan jagung rebus itu sempurna terkupas. Joana tersenyum kecil, delima kemarin pastilah untuk perempuan tua itu. Ah, betapa bahagianya hidup sampai tua berdua demikian.
Joana kerap membayangkan hal senada: hidup sampai tua menyerang, tetapi cinta dan setia tetap bermuara kepada Redian tanpa surut sesenti pun. Bila kaya sudah dicapai, Joana dan Redian termasuk keluarga kaya, maka cinta sampai tua adalah cita-cita. Meski Joana tahu, setia sama kilasnya dengan kabut. Ketika matahari sudah sedemikian naik, kabut gegas kabur. Dan tidak ada yang abadi di kota besar, kabut, setia, cinta…. Semua selalu dalam konsep.
Joana pagi itu lari delapan putaran. Tiap melewati bangku di mana lelaki tua dan perempuan tua itu berbisik banyak hal. Termasuk jagung rebus yang sempurna dikupas, tapi sudah mulai kecut dan basi.
”Jagung semalam,” jawab perempuan tua.
”Kalau sayangku ke kamu bisa awet, kenapa jagung ini tidak!”
Joana berhenti, ingin menuntaskan tawa. Joging bisa kacau bila diteruskan dengan pingkal di perut. Namun Joana merasa itu tidaklah sopan. Meski bukan kali pertama bertatapan dengan lelaki tua, tetaplah mereka asing bagi Joana. Kebetulan saja taman baru ini menyatukan mereka. Perempuan tua itu menimpali dengan pukulan kecil di bahu lelaki tua.
Taman pagi itu dipenuhi wangi. Oleh kemesraan yang disepuh mentari pagi. Juga benar-benar wangi oleh kembang yang semarak mekar. Teratai di kolam mulai rekah. Rimbun kenikir juga melingkari tiang-tiang merah bangunan jembatan berbentuk angka delapan. Kumbang-kumbang kecil merubung. Got di sekitar taman yang sejadinya akan diresmikan oleh gubernur tepat di hari ulang tahun kota ini, pun masih jernih. Belum menghitam oleh sampah. Belum busuk oleh kuah bakso. Mungkin warga pun mulai sadar, taman kecil tak jauh dari stasiun commuter line ini bisa dijadikan obat mata di tengah serangan monoksida. Dan Joana (tentu orang lain pun) bisa dengan mudah menyeret badannya untuk lari pagi dan menyiapkan hari tanpa emosi.
Pukul tujuh, Joana akan memasukkan dua lembar roti tawar gandum pada liang toaster. Ditinggalkan sambil menuju kulkas. Kulkas setinggi badan Joana dua pintu itu kini diisi ala kadarnya. Joana memilih mengisinya dengan roti tawar gandum, telur, dan sayur untuknya sendiri. Dan dia tidak peduli, Redian hendak mengisinya dengan apa. Kaleng bir, set makan malam yang kadang cepat basi, atau minuman-minuman soda aneka merek. Klak! Dua lembar roti tawar mencelat keluar. Dan pintu kamar bawah, tempat Redian tidur terpisah, terbuka.
”Berapa kali hari ini?” Redian penuh basa-basi.
”Delapan! Ada meeting pagi!” tukas Joana.
Joana lekas meraih dua lembar roti tawar yang sedikit gosong. Dan membawanya ke kamar bersama sebutir apel. Sarapannya menjadi kurang sedap bila kebetulan Redian bangun pagi. Kadang Joana ingin sekali menjadi kelelawar. Ketika siang, Redian bekerja dan Joana tertidur. Tapi mereka masih tetap dua manusia dengan jam kerja tak jauh berbeda.
***
Joana masih terus joging pagi hari. Redian masih seperti itu. Entah sudah berapa bulan mereka menjadi demikian. Joana dan Redian sama-sama irit bicara. Hanya sekali sapa kalau kebetulan bersipongang tatapan. Pernikahan dan janji suci mereka rasanya sudah hampir kedaluwarsa. Rumah tangga mereka tetap tampak sempurna dari luar. Ibarat istana pasir, yang sejatinya renggang dan bila ombak datang, berhamburanlah semuanya! Semua tetap sama, kecuali taman itu yang kini mulai ditandai oleh banyak orang sebagai tempat joging yang asri dan sepi. Bila semua orang menganggap taman itu sepi, dan oleh sebab itu ke sana untuk lari pagi, maka tidak ada kata sepi. Sepi kembali sembunyi dalam konsep di kepala. Berkali-kali Joana harus mengganti rute lari sebab taman itu begitu riuh, meski pagi masih begitu keruh.
”Lelaki tua itu sudah tidak terlihat lagi!”
Joana suatu pagi menyadarinya. Rasanya ganjil sebab joging paginya tidak lagi ditemani oleh lelaki tua yang tidak diketahui namanya itu. Taman yang di awal begitu wangi pun mulai menjadi bekas aktivitas manusia kota. Beberapa botol minuman terserak di bawah bangku. Bekas jajanan. Jalan setapak yang muncul tidak pada tempatnya, seolah manusia itu begitu susah diatur untuk setia pada paving bata yang dibuat sebagai trek lari.
Joana tersenyum pahit. Pagi itu larinya sepuluh kali memutari taman. Hari ini dia tidak ada meeting pagi dan bisa pukul sepuluh sampai kantor. Sambil mengusap keringat di dahi dan lehernya, Joana menjauhi taman yang semakin siang semakin banyak orang datang. Yang lari, juga yang menggelar dagangan berupa minuman dan sarapan, juga yang sekadar memotret.
Tak jauh dari taman, di kelokan sebelum dia menuju gerbang perumahan, Joana mendengar suara anjing kaing-kaing. Begitu keras. Orang-orang mengerumuni mulut gang yang begitu sempit. Andai tidak ada keriuhan pagi, Joana pastilah tidak sadar ada gang sempit di sana. Joana mendekat sambil melihat jam tangannya.
”Seorang lelaki tua mati di rumahnya sendirian,” seorang menjelaskan tanpa diminta. ”Anjingnya yang menemani di akhir hidupnya!”
Benar saja! Itu adalah lelaki tua yang kerap duduk di taman, di kala Joana lari pagi. Lelaki itu mati sendirian di rumah petak tak seberapa luas, tak ada keluarga yang menemani. Dan diperkirakan meninggal semalam. Tetangga yang terganggu oleh kaing-kaing anjing yang kemudian menemukannya. Kaing-kaing itu yang mengabarkan kematian lelaki tua.
”Pantas sejak semalam, si anjing itu berisik sekali. Kukira mau kawin!”
Joana mencoba melongokkan kepala. Bukankah ada perempuan tua yang beberapa kali Joana saksikan!? Apakah keduanya mati di saat bersamaan? Atau perempuan tua itu diserang pikun hebat, hingga lupa kalau suaminya meninggal? Sejurus kemudian seorang perempuan tua tergopoh-gopoh mendekat dengan tangisan juga teriakan histeris.
”Ooooh! Kukira mereka pasangan suami istri,” Joana tak bisa menahan kalimatnya.
”Bukan! Mereka sama-sama duda dan janda tua!” seorang menjawab. ”Kami berharap mereka menikah saja. Tapi katanya mana ada pernikahan untuk lelaki dan perempuan tua.”
”Ahhhh!”
”Mereka rukun. Meski tidak disatukan pernikahan! Sayang, perempuan itu tidak ada di sisi lelaki tua untuk kali terakhir!”
”Setidaknya ada anjingnya! Lelaki tua itu tidak harus mati di tengah sepi.”
Joana tertunduk sebentar. Memanjatkan doa untuk lelaki tua agar lapang jalan ke surga, dan perempuan tua juga anjing itu diberi penghiburan yang besar. Di tengah-tengah rapalan doa, wajah Redian samar terbayang. (*)
---
TEGUH AFFANDI
Sehari-hari bekerja sebagai editor di salah satu penerbit di Jakarta. Pernah menjadi pemenang sayembara cerpen majalah Femina, Green Pen Award Perhutani, dan Pena Emas Program Pemberdayaan SDM Strategis Nurul Fikri. Kumpulan cerpen pedananya, Arum Manis, terbit pada Mei 2022 di Gramedia Pustaka Utama.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
