Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Mei 2023, 13.30 WIB

Palasik

W.S. DJAMBAK - Image

W.S. DJAMBAK

Isu mengenai kematian anak Sidin dengan lekas berembus hingga seluruh kampung. Besar dugaan, anaknya disesap palasik, sesosok penganut ilmu hitam yang menjadikan bayi sebagai mangsa dengan cara mengisap pada ubun-ubun. Biasanya ia keluar dalam bentuk sepotong kepala yang terbang mencari mangsa. Kadang bisa juga dalam wujud manusia biasa –yang memangsa hanya dengan cara melihat.

Anak yang disesap palasik hampir tidak bisa dibedakan dari anak normal, sebab tidak adanya bekas luka luar, melainkan ubun-ubunnya yang lunak itu cekung tak berdetak. Wajahnya pucat, kotorannya berbau sangat busuk dan tak berhenti menangis.

Di kedai kopi Mak Subin, bapak-bapak yang main domino asyik bergunjing –mengalahkan gunjingan para wanita di tempat tukang sayur. Paduko, salah seorang pengunjung kedai itu –sambil mengode mandan-nya– mengangkat tinggi batu balak enam dan mengempaskan kuat hingga meja kayu itu bergetar. Kopinya yang masih penuh sampai tumpah sedikit.

”Pasti Biyai,” ucapnya yakin.

Lawannya yang jengkel karena kaget membalas dengan pukulan yang lebih keras hingga kopi Paduko tinggal separo tanpa sempat diminumnya.

”Jangan mengada-ada.”

Paduko diam, namun dalam hati ia yakin bahwa penyebab kegemparan di kampungnya adalah ulah palasik yang berwujud seorang wanita tua yang sehari-hari dipanggil dengan nama Biyai.

Di kampung itu, tak ada yang tidak mengenal beliau. Orang-orang hanya memanggilnya Biyai, sebuah sapaan untuk menyebut ibu dalam bahasa Minang –yang sudah langka dijumpai– selain amai, mandeh, dan bundo, tanpa mengetahui nama aslinya. Usianya ditaksir sudah menginjak kepala tujuh mau menjelang delapan puluh.

Sudah berpuluh tahun beliau hidup sebatang diri menempati sebuah rumah gadang usang milik kaumnya yang sudah punah, sebab di kaumnya, hanya ia dan adiknya yang –sudah meninggal– berjenis kelamin perempuan. Anak dari adiknya hanya seorang laki-laki yang tidak berguna. Biyai sendiri tiada beranak, pun suami sudah lama tidak. Sepupu sepersukuannya pun semuanya laki-laki, yang berarti tidak bisa meneruskan nasab suku yang diturunkan dari garis ibu.

Rumah gadang yang ditempatinya juga sudah tak lagi layak disebut rumah gadang. Sudah reyot; dinding yang dijalin dari bambu yang dibelah sudah rompong dimakan rayap. Hanya pucuk gonjongnya yang masih tetap runcing menikam bulan purnama ketika tanggal empat belas setiap bulan Hijriah dengan latar Gunung Marapi dan Singgalang yang menjulang lancang.

Untuk menyambung hidup, sehari-hari Biyai berjualan sayuran yang dipetik dari belakang rumahnya. Kadang kalau ada permintaan, beliau juga mengurut (salah urat, terkilir, dan urut capek bisa dilakukannya). Untuk upah, Biyai tidak pernah mematok harga. Berapa pun bayaran dari pasien yang diobatinya selalu diterima dan langsung ia masukkan dalam kantong di sebalik kutang usang miliknya. Ada yang menyelipkan uang seribuan, lima ribuan, bahkan kalau mujur, bisa mendapat uang sepuluh ribu dua lembar –yang pada masa itu tahun 90-an sudah termasuk jumlah yang besar.

Wajahnya yang keriput berparut dengan tubuh kurus bungkuk berpunuk membuat siapa pun yang baru mengenalnya bergidik jijik. Selain itu, kepandaiannya dalam ilmu kebatinan semakin meyakinkan orang kalau beliau adalah seorang palasik. Terlebih Biyai memang memiliki kegemaran berkunjung ke rumah-rumah orang yang habis melahirkan.

Kendati demikian, ketika Biyai datang, tuan rumah tidak bisa serta-merta mengusir begitu saja. Adalah aib bagi mereka jika tamu tersinggung –biasanya menggunakan sindiran halus mengusir alih-alih secara langsung. Oleh sebab itu, biasanya mereka –terkecuali Sidin dan beberapa orang yang (awalnya) tidak begitu percaya takhayul– mengalungkan jimat guna tangkal palasik pada bayi yang baru lahir, agar sekalipun palasik datang, si bayi tetap aman.

***

Selang beberapa hari dari peristiwa anak Sidin meninggal akibat disesap palasik, kampung itu kembali dihebohkan lagi dengan kemunculan palasik secara nyata.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore