Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Desember 2025, 13.15 WIB

Bahtera

Dinar menjauh ke dapur, terpaksa berhadapan dengan piring-piring kotor sekeluarga yang hampir setinggi tubuhnya. Meskipun setiap hari piring-piring dicuci, entah kenapa tum­pukannya selalu lebih ba­nyak daripada jumlah orang-orang serumah. Tetapi yang paling membikinnya heran, kenapa pekerjaan ini selalu menjadi tugas para perempuan?

Sejak kejayaan bisnis jual beli kopra Moses redup, mereka tak lagi pakai pembantu. Setiap makanan yang masuk ke perut seluruh anggota keluarga ada­lah hasil bisnis Anung sebagai rentenir. Meskipun bunga yang diterapkan terbilang tinggi, ada saja orang-orang desa yang terpaksa berutang. Dinar per­nah melihat ibunya menyita motor, TV, kulkas, hingga ranjang tidur tetangga tersebab tak mampu lagi sekadar membayar bunga. Anak si tetangga, Moneka, adalah te­man masa kecilnya. Kejadian ini membekukan pertemanan mereka. Makin sering Anung menyita barang-barang, makin tinggi pula kemungkinan Dinar kehilangan teman.

Seseorang datang selagi ia masih mencuci piring. 

”Kamu dan Gala belum ada rencana ngekos lagi?” tanya Hosea sambil membuka tu­dung saji. 

”Papa maunya kami tinggal di sini,” sahut Dinar tak acuh. Suara air keran ditingkahi suara hujan. 

Hosea berkata, ”Nanti kalau tinggal mama di rumah ini, biar aku dan Jihan saja yang merawat mama dan mengurus rumah.” 

Dinar mematikan keran, me­natap sang kakak. ”Emangnya sakit papa separah itu?” 

”Kamu tidak perhatikan se­ta­hun ini dia sudah lima kali kumat?” 

Dinar mengelapi tangan yang basah dengan serbet, lalu bersandar di pinggiran bak cuci piring. ”Aku enggak mau tinggal di sini selamanya. Nanti aku minta modal ke mama buat nyicil rumah di kota.” 

Hosea pura-pura tersedak. ”Modal? Gila, aku aja anak laki tidak menuntut modal.” 

”Kamu kan dapat rumah ini.” 

”Rumah ini mau aku jadikan kos-kosan. Kamar-kamarnya mau ditambah. Aku akan jual dua ladang buat renovasi.” 

”Papa bilang aku akan dikasih modal kalau salah satu ladang laku terjual. Siapa tahu Hajah Nur tertarik.” 

”Omong kosong.” Hosea ber­diri sambil menatap sang adik dengan pandangan men­ce­mooh. ”Kamu punya suami. Biar suami kamu yang me­mikirkan rumah dan modal buatmu. Lihat Ayumi tuh.” 

Setelah mengatakan itu, Ho­sea meninggalkan dapur de­ngan langkah-langkah tegas. Dinar membalik badan ke arah bak cuci piring kembali, namun benaknya kini terganggu oleh pertengkaran kecil itu. Gelom­bang panas merayapi rongga dadanya. Baru saja ia menya­lakan keran dengan jengkel, pipa air tiba-tiba patah. Air memancur dalam tekanan keras ke arah wajahnya. Ia tak sempat menghindar. Rambut dan bajunya basah kuyup bah­kan sebelum ia sadar apa yang terjadi. Ia menjauh dari keran yang bocor, kelimpungan mencari sesuatu untuk me­nyum­bat. Ia menemukan ser­bet, tapi air gagal dihentikan. Me­nyumbat pakai kanebo bahkan lebih parah sebab kanebo yang licin tidak bisa bertahan di ujung pipa dengan tekanan air tinggi. Dinar mulai memanggil-manggil ibunya dan Jihan. Mereka datang de­ngan tergopoh, mengira ada kebocoran tabung gas atau semacamnya. Ekspresi ngeri tergambar di wajah kedua perempuan itu melihat kondisi dapur. Pada akhirnya ketiga perempuan itu basah kuyup karena berusaha meng­hen­tikan guyuran air. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore