Dinar menjauh ke dapur, terpaksa berhadapan dengan piring-piring kotor sekeluarga yang hampir setinggi tubuhnya. Meskipun setiap hari piring-piring dicuci, entah kenapa tumpukannya selalu lebih banyak daripada jumlah orang-orang serumah. Tetapi yang paling membikinnya heran, kenapa pekerjaan ini selalu menjadi tugas para perempuan?
Sejak kejayaan bisnis jual beli kopra Moses redup, mereka tak lagi pakai pembantu. Setiap makanan yang masuk ke perut seluruh anggota keluarga adalah hasil bisnis Anung sebagai rentenir. Meskipun bunga yang diterapkan terbilang tinggi, ada saja orang-orang desa yang terpaksa berutang. Dinar pernah melihat ibunya menyita motor, TV, kulkas, hingga ranjang tidur tetangga tersebab tak mampu lagi sekadar membayar bunga. Anak si tetangga, Moneka, adalah teman masa kecilnya. Kejadian ini membekukan pertemanan mereka. Makin sering Anung menyita barang-barang, makin tinggi pula kemungkinan Dinar kehilangan teman.
Seseorang datang selagi ia masih mencuci piring.
”Kamu dan Gala belum ada rencana ngekos lagi?” tanya Hosea sambil membuka tudung saji.
”Papa maunya kami tinggal di sini,” sahut Dinar tak acuh. Suara air keran ditingkahi suara hujan.
Hosea berkata, ”Nanti kalau tinggal mama di rumah ini, biar aku dan Jihan saja yang merawat mama dan mengurus rumah.”
Dinar mematikan keran, menatap sang kakak. ”Emangnya sakit papa separah itu?”
”Kamu tidak perhatikan setahun ini dia sudah lima kali kumat?”
Dinar mengelapi tangan yang basah dengan serbet, lalu bersandar di pinggiran bak cuci piring. ”Aku enggak mau tinggal di sini selamanya. Nanti aku minta modal ke mama buat nyicil rumah di kota.”
Hosea pura-pura tersedak. ”Modal? Gila, aku aja anak laki tidak menuntut modal.”
”Kamu kan dapat rumah ini.”
”Rumah ini mau aku jadikan kos-kosan. Kamar-kamarnya mau ditambah. Aku akan jual dua ladang buat renovasi.”
”Papa bilang aku akan dikasih modal kalau salah satu ladang laku terjual. Siapa tahu Hajah Nur tertarik.”
”Omong kosong.” Hosea berdiri sambil menatap sang adik dengan pandangan mencemooh. ”Kamu punya suami. Biar suami kamu yang memikirkan rumah dan modal buatmu. Lihat Ayumi tuh.”
Setelah mengatakan itu, Hosea meninggalkan dapur dengan langkah-langkah tegas. Dinar membalik badan ke arah bak cuci piring kembali, namun benaknya kini terganggu oleh pertengkaran kecil itu. Gelombang panas merayapi rongga dadanya. Baru saja ia menyalakan keran dengan jengkel, pipa air tiba-tiba patah. Air memancur dalam tekanan keras ke arah wajahnya. Ia tak sempat menghindar. Rambut dan bajunya basah kuyup bahkan sebelum ia sadar apa yang terjadi. Ia menjauh dari keran yang bocor, kelimpungan mencari sesuatu untuk menyumbat. Ia menemukan serbet, tapi air gagal dihentikan. Menyumbat pakai kanebo bahkan lebih parah sebab kanebo yang licin tidak bisa bertahan di ujung pipa dengan tekanan air tinggi. Dinar mulai memanggil-manggil ibunya dan Jihan. Mereka datang dengan tergopoh, mengira ada kebocoran tabung gas atau semacamnya. Ekspresi ngeri tergambar di wajah kedua perempuan itu melihat kondisi dapur. Pada akhirnya ketiga perempuan itu basah kuyup karena berusaha menghentikan guyuran air.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
