Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Oktober 2017 | 20.30 WIB

Cewek Cantik Zaman Now, Bangun Jaringan Listrik di Bumi Cendrawasih

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Parasnya cantik, perawakan pun menarik. Namanya Putty Annisa Anugerah. Putty, begitu dia disapa, merupakan bagian dari program Patriot Energi Tanah Air (PETA) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkatan pertama dan kedua.


PETA merupakan program untuk melistriki daerah-daerah terpencil dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).


Penggiat di program ini tidak hanya sekadar memiliki kemampuan dalam merancang infrastruktur kelistrikan, tapi juga harus memiliki jiwa sosial tinggi. Sebab, para ahli-ahli listrik ini ditempatkan di desa-desa terpencil.


Bagi wanita lulusan Fisika Universitas Indonesia (UI) ini tidak pernah terbayang jika sebagian hidupnya akan diberikan untuk mengabdi kepada negeri melalui program PETA. Bagi Putty, ada sebuah kebanggaan bisa membangun dan berbagi kepada mereka yang ada di daerah terpencil, khususnya yang belum mendapat aliran listrik.


Perjalanan membangun listrik di daerah terpencil ini dimulai dari kampung/Desa Pund, Distrik/Kecamatan Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Desa itu terletak di dataran tinggi yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini.


Desa Pund merupakan salah satu desa yang berada di ‘pedalaman’ Papua. Desa itu itu jauh dari kesan mewah. Letaknya pun ada di tengah hutan yang dikelilingi sungai yang cukup besar dan deras. Penduduk di kawasan itu tidak lebih dari 40 rumah.


Selama di Desa Pund, perempuan kelahiran Jakarta, 16 Juli 1992 ini setiap pekannya selalu mengajar anak-anak di Papua. Dalam mengajar ini Putty pun harus melewati perjuangan cukup berat. Dia harus menumpuh jalanan yang terjal sepanjang 5 km.


Meski demikian, dirinya mengaku senang bisa mengajar anak-anak di pedalaman Papua. Baginya, anak-anak di Papua generasi yang cerdas dan perlu dikembangkan potensinya. "Senang ya mengajar anak-anak di Papua, walau kadang kita butuh anak ekstra sabar," ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (28/10)


Selain itu, Putty bersama satu rekannya juga mencarikan dana bantuan dari luar negeri demi memenuhi kebutuhan sekolah bagi masyarakat. Mereka beruntung, ada dermawan asal Jepang yang rela memberikan sebagian rezekinya bagi anak-anak di Cendrawasih.


"Iya kita dapat bantuan dari Jepang sekitar Rp 10 juta lebih yang kita gunakan untuk beli sepatu, baju sekolah, dan alat tulis. Mereka itu jarang pakai seragam, Mas," tuturnya.


Selain itu, dirinya juga membantu warga Desa Pund untuk mengelola perkebunannya. Sebagian dari mereka mendapatkan penghasilan dari berkebun dan beternak.


Berbekal pengalaman dan informasi yang dia peroleh selama di Jakarta, Putty memberikan penyuluhan secara lebih mendalam tentang pengelolaan perkebunan.


Nantinya, hasil panen seperti coklat, akan langsung didistribusikan kepada tenkulak. "Aku mengelola kopi, cokelat, di sana banyak. Kita kan punya kemampuan informasi yang lebih baik. Jadi kita kasih penyuluhan, bantuin jualin, kemudian bantu update ke Jakarta. Sebenernya coklat Papua sudah terkenal, kalau setiap bulan ada tengkulak yang dateng untuk ambil biji coklat yang sudah dijemur," jelas dia.


Berjalannya waktu, kata Putty, PLTS di Desa Pund berhasil dibangun. Masyarakat di sana pada akhirnya dapat menikmati listrik yang selama ini mereka nikmati dari genset saja.


Masyarakat Desa Pund akan mendapat 300 watt setiap rumahnya. Mungkin itu jumlah yang tak seberapa. Namun bagi mereka, listrik menjadi nyawa baru menuju masa depan yang lebih cerah.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore