
Sebuah perahu nelayan melintas di pantai Ampenan, Kota Mataram, kemarin (17/7). Ampenan merupakan wisata andalan Kota Mataram. Nelayan_IVAN-LOMBOK-POST_Lombok-Pos
JawaPos.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo diminta untuk membuat kebijakan yang pronelayan. Sejumlah kebijakan pada masa lampau yang tidak pronelayan dapat dianulir atau dicabut.
Permintaan itu dikemukakan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Timur. Dewan Penasihat HNSI Jawa Timur Bambang Haryo Seokartono mengatakan, Edhy Prabowo jangan ragu untuk mencabut sejumlah kebijakan yang menyengsarakan nelayan dalam negeri.
Dia mencontohkan pelarangan penangkapan benur lobster yang teruang dalam Permen KP No. 56 Tahun 2016. “Larangan penangkapan benur lobster ini mengakibatkan ribuan nelayan kehilangan mata pencarian. Negara kehilangan potensi ekonomi, termasuk dari ekspor hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun,” ungkap Bambang Haryo dalam keterangan persnya, Selasa (24/12).
Dia menegaskan bahwa Indonesia merupakan sumber lobster terbesar di dunia meskipun biota laut bernilai tinggi ini sebenarnya endemik dari Pulau Christmas, Australia.
Potensi benur lobster Indonesia diperkirakan mencapai 2-3 miliar per tahun. Di Lombok Tengah saja potensinya mencapai 300 juta ekor per tahun. Data Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) menyatakan terdapat 20 lokasi potensial sumber lobster di seluruh Indonesia.
“Begitu melimpah benur lobster, nelayan kita bisa memanen selama 10 bulan sepanjang tahun,” papar Bambang Haryo.
Sebagai perbandingan, kata Bambang, potensi benur lobster di Vietnam hanya sekitar 2-3 juta ekor per tahun. Nelayan di sana hanya bisa memanen 1-2 bulan saja. Anehnya sejak pelarangan, ekspor lobster Vietnam justru melonjak padahal negara itu sangat bergantung dari impor benur dari Indonesia.
“Potensi ekonomi benur lobster di Indonesia mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun apabila per ekornya dihargai sekitar Rp 50 ribu. Kalau benur ini dibudidayakan hingga ukuran 500 gram harganya bisa mencapai Rp 500 ribu sehingga potensi ekonominya jauh lebih besar lagi,” jelas Bambang Haryo.
Dia mengatakan, benur lobster justru harus segera ditangkap oleh nelayan sebab jika tidak akan habis dimakan oleh predatornya, seperti ikan kakap, kerapu, dan ikan karang.
Berdasar penelitian Prof Dr Clive Jones, peluang hidup benur lobster hanya 0,01 persen atau hanya 1 dari 10.000 lobster yang mampu bertahan hidup di alam liar.
Ironisnya, sebelumnnya ada larangan menangkap benur lobster dan membolehkan penangkapan lobster ukuran besar. Padahal lobster seukuran itu merupakan potensi indukan dan pejantan. “Lobster ukuran itu sudah mampu menyesuaikan diri dengan habitat di perairan Indonesia, seharusnya tidak ditangkap agar bisa berkembang biak secara alami,” ujar kata anggota Komisi V DPR periode 2014-2019 itu.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
