Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Juni 2021 | 19.09 WIB

Rupiah Bisa Tersungkur dan Bunga KPR Naik jika Taper Tantrum Terjadi

Ilustrasi mata uang rupiah dan dollar AS. - Image

Ilustrasi mata uang rupiah dan dollar AS.

JawaPos.com - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) saat ini sedang menyoroti risiko taper tantrum dari perekonomian Amerika Serikat terhadap wacana kenaikan suku bunga bank sentral AS. Sebab, hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, kebijakan pengetatan bunga acuan dari AS memicu investor untuk menghindari aset yang berisiko tinggi seperti pasar modal dan surat utang di negara berkembang.

Bhima bercerita taper tantrum atau kejutan di pasar pernah terjadi tahun 2013 lalu yang membuat arus deras modal asing keluar atau terjadi capital outflow. Indonesia yang masuk sebagai fragile five atau 5 negara yang rentan terhadap fluktuasi global mengalami kemrosotan nilai tukar Rupiah yang dalam.

"Pada Mei 2013 nilai tukar Rupiah ada di kisaran 9.700 per dollar AS, kemudian melemah hingga 14.700 per dollar AS September 2015. Pelemahan Rupiah sangat dalam bahkan tembus 51,5 persen pada periode tersebut," ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Selasa (8/6).

Bhima menuturkan, jika taper tantrum kembali terjadi pada 2022, maka bukan tidak mungkin Rupiah melemah hingga 17.000 dollar AS. Sejauh ini Bank Indonesia berharap pada cadangan devisa yang dipupuk oleh penerbitan utang.

"Tentu ini sangat riskan menghadapi guncangan normalisasi kebijakan Fed," imbuhnya.

Bhima melanjutkan, dampak lainnya adalah risiko merosotnya rating utang luar negeri Indonesia karena besarnya tekanan pada sisi kemampuan bayar utang berbentuk valas. Pelemahan kurs membuat beban utang meningkat, tapi tidak disertai dengan naiknya minat investor global membeli surat utang negara berkembang.

"Pemerintah pun terdesak untuk naikkan bunga utang yang baru diterbitkan untuk menjaga agar kepemilikan asing tidak merosot tajam," tuturnya.

baca juga: Pemerintah Waspadai Risiko Taper Tantrum Tahun Depan

Bhima menambahkan, efek kenaikan suku bunga the Fed bahkan diperkirakan akan dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia dalam bentuk penyesuaian bunga kredit. Bank Indonesia juga akan melakukan kenaikan bunga acuan juga mengikuti langkah the Fed.

"Pemilik KPR dan pinjaman bank jadi semakin mahal. Kalau ada yang mau ambil KPR sekarang momen yang pas, sebelum ada kenaikan suku bunga the Fed," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore