
Ilustrasi usaha logistik/(Istimewa)
JawaPos.com - Tingginya biaya logistik kembali menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha nasional di tengah tekanan ketidakpastian global dan eksternal sepanjang tahun ini.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya meningkatkan biaya operasional dunia usaha, tetapi juga menekan daya saing produk ekspor Indonesia serta menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia, Yukki Nugrahawan Hanafi, menegaskan bahwa persoalan biaya logistik nasional perlu dilihat secara komprehensif dan tidak semata-mata dibebankan pada sektor transportasi dan logistik saja.
“Biaya logistik yang tinggi justru merupakan dampak dari persoalan struktural, khususnya belum meratanya pembangunan ekonomi nasional meskipun harus kita akui telah banyak kebijakan pemerintah yang dilakukan," kata Yukki di Jakarta, Rabu (18/5).
Permasalahan struktural ini, kata dia, mencakup ketimpangan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah, tata kelola regulasi dan birokrasi yang belum efisien, hingga munculnya biaya ekonomi informal akibat lemahnya penegakan hukum.
"Kuncinya adalah membangun struktur ekonomi yang lebih seimbang melalui industrialisasi, hilirisasi, dan pemerataan pusat pertumbuhan ekonomi nasional, bukan hanya terbatas membangun infrastruktur fisik,” terangnya.
Yukki menjelaskan, aktivitas ekonomi nasional saat ini masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, terutama Pulau Jawa. Padahal banya sektor-sektor berpotensial dan unggul berada di luar Pulau Jawa, seperti sektor pertambangan, perikanan, dan perkebunan.
Kondisi ini memicu ketidakseimbangan arus barang dan perdagangan (trade imbalance) yang pada akhirnya mendorong tingginya biaya logistik nasional, dimana banyak armada truk, kapal, dan kontainer kembali tanpa muatan (empty backhaul).
Lebih lanjut, Yukki juga menyoroti struktur perdagangan Indonesia yang masih didominasi impor CIF (Cost, Insurance & Freight) dan ekspor FOB (Free on Board), sehingga banyak nilai tambah logistik, pelayaran, dan asuransi justru dinikmati pihak luar negeri.
Akibatnya, Indonesia kerap hanya menjadi pemasok komoditas dan manufaktur tanpa menguasai rantai nilai logistik dan perdagangan internasionalnya sendiri.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022