
Ilustrasi teknologi pertanian ubah lahan pesisir jadi lahan produktif. (Istimewa)
JawaPos.com - Lahan pesisir yang selama ini dianggap kurang produktif akibat tingginya kadar garam kini mulai dilirik sebagai sumber pangan masa depan. Itu dilakukan melalui penerapan teknologi pertanian berbasis riset.
Salah satunya di kawasan pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dikembangkan menjadi ekosistem terpadu sumber pangan. Dengan teknologi pertanian, menggabungkan budi daya padi tahan salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut, dalam satu hamparan lahan.
Pendekatan teknologi pertanian ini menjadi salah satu upaya menjawab tantangan ketahanan pangan di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, intrusi air laut, dan berkurangnya lahan pertanian produktif di wilayah pesisir.
Baca Juga:Pemerintah Genjot Hilirisasi Lewat 870 Ribu Hektare Perkebunan Rakyat, Fokus Kakao hingga Kelapa
Program itu diluncurkan di kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang, melalui kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kabupaten Batang, dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
Sebagai tanda dimulainya implementasi program, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin serta penanaman benih padi biosalin bersama petani setempat. Program ini dijalankan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI.
Program Minapadi Salin mengandalkan inovasi teknologi pangan yang dikembangkan melalui riset BRIN. Teknologi pertanian tersebut memungkinkan budidaya padi biosalin pada lahan dengan tingkat salinitas tinggi yang sebelumnya sulit dimanfaatkan secara optimal.
Tak hanya padi, lahan yang sama juga digunakan untuk pemeliharaan ikan nila salin. Sistem ini kemudian diperkuat dengan budidaya rumput laut jenis Gracilaria verrucosa yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu tumbuh baik di perairan pesisir.
Dengan pendekatan terintegrasi tersebut, satu kawasan mampu menghasilkan beberapa komoditas sekaligus sehingga potensi pendapatan masyarakat menjadi lebih beragam. Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi menegaskan, program ini menjadi bukti hasil penelitian dapat diterapkan secara nyata untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.
“BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” kata Yopi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022