Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksi indeks dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada pekan depan dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah hingga berada di kisaran Rp17.600-Rp18.000 per dolar AS.
Secara teknikal, indeks dolar AS bergerak pada area support 99,200 dan resistance 101,700. Menurutnya, penguatan indeks dolar menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
"Untuk rupiah sendiri, saya sudah membuat rilis kemarin di hari Jumat dan internal itu salah satu fundamentalnya itu resnya dalam minggu depan di 17.600 sampai di 18.000 karena melihat USD-nya ke 101,700," ujar Ibrahim dalam rekaman suara yang diterima, Minggu (21/6).
Ibrahim menjelaskan pergerakan dolar AS dan rupiah dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perkembangan geopolitik global, kebijakan politik Amerika Serikat, kebijakan bank sentral AS, hingga faktor supply dan demand.
Dari sisi geopolitik, ia menyoroti perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki tahap pertama selama 60 hari. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan sanksi ekonomi.
Namun, situasi di Timur Tengah masih dinilai rentan karena pascagencatan senjata, Israel dan Lebanon masih terlibat aksi saling serang. Kondisi itu, menurut Ibrahim, meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Ia mengatakan Iran juga mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz apabila kesepakatan yang mencakup perdamaian antara Israel, Lebanon, dan Palestina tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Selain itu, perwakilan Amerika Serikat, Iran, dan Pakistan dijadwalkan melanjutkan perundingan tahap kedua di Jenewa, Swiss, yang akan membahas nota kesepahaman terkait reaktor nuklir dan Selat Hormuz.
Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump meminta tidak ada pungutan transit selama proses negosiasi berlangsung dan memperingatkan tindakan yang dapat menghambat lalu lintas perdagangan internasional.
Ibrahim menilai perkembangan geopolitik tersebut berpotensi mengangkat harga minyak dunia, memperkuat indeks dolar AS, serta memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim menilai arah kebijakan bank sentral AS di bawah kepemimpinan Kevin Walsh akan lebih hawkish dengan fokus pada pengendalian inflasi agar tetap berada di target 2 persen.
"Arah kebijakan moneter Kevin Walsh itu diprioritaskan yang pertama adalah suku bunga tetap dengan sinyal kemungkinan besar akan dinaikkan," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Israel vs Irlandia di UEFA Nations League: The Green Army Curi Kemenangan Tandang
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022