
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (22/6), setelah sebelummya ditutup melemah 7 poin menjadi Rp 17.801 per dollar AS pada perdagangan Jumat (19/6).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar AS didorong sentimen laporan indeks kinerja saham global Morgan Stanley Capital International (MSCI)
"Untuk perdagangan (22/6) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.800 - Rp 17.850," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (22/6).
Ia menjelaskan, Pasar Indonesia memang tengah mengalami tekanan dan volatilitas tinggi akibat sikap wait and see pelaku pasar. Investor global dan institusi menahan diri sembari menunggu dua keputusan krusial dari MSCI untuk melihat apakah status Indonesia dipertahankan di emerging market dan apakah pembekuan konstituen akan dicabut.
“Jika MSCI memutuskan penurunan peringkat. Terlebih lagi, pada pengumuman rebalancing sebelumnya, MSCI sempat membekukan penambahan konstituen saham baru untuk Indonesia akibat kekhawatiran terkait struktur kepemilikan dan transparansi free float,” Ujarnya.
Ibrahim mengatakan, MSCI menyatakan peringkat kriteria arus informasi Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review. Keputusan ini diambil setelah MSCI kembali menyuarakan kekhawatiran terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham tanah air.
“Penurunan peringkat ini mencerminkan minimnya transparansi pada data kepemilikan saham dan aktivitas pasar. Kondisi tersebut dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar serta membatasi kemampuan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar (free float) yang sebenarnya dari perusahaan-perusahaan tercatat,” ujarnya.
Selain isu transparansi, MSCI juga menyoroti keterbatasan pada pasar valuta asing yang kerap menjadi hambatan bagi para investor. Dalam laporanya, MSCI mengungkap tidak ada pasar mata uang lepas pantai yang efisien, dan terdapat berbagai batasan pada pasar mata uang domestik di Indonesia.
Namun, MSCI mengumumkan posisi Indonesia masih berada di level negara berkembang atau Emerging Market, karena Indonesia mendapat sejumlah keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.
“Hal itu menjadi salah satu faktor MSCI masih mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat memberikan sinyal penurunan kelas sehingga membuat pasar kembali optimis arus modal asing akan kembali membanjiri pasar keuangan Indonesia,” ucapnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Skor Azerbaijan vs Liechtenstein di Liga Nations UEFA: Milli Menang Tipis Kejar Promosi
Prediksi Skor Wales vs Norwegia di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022