Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Agustus 2026 | 01.00 WIB

Degradasi Lahan Pertanian Tembus 40 Juta Hektare, Bioteknologi Mikroba Jadi Salah Satu Solusi Pemulihan Tanah

Ilustrasi teknologi pertanian terkini bantu pemulihan tanah dari kemungkinan degradasi unsur hara. (Agriculture Dive) - Image

Ilustrasi teknologi pertanian terkini bantu pemulihan tanah dari kemungkinan degradasi unsur hara. (Agriculture Dive)

JawaPos.com - Degradasi tanah pertanian masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi sektor pangan Indonesia. Luas lahan yang mengalami penurunan kualitas bahkan disebut telah melampaui 40 juta hektare, kondisi yang berdampak pada produktivitas pertanian dan menyulitkan petani mempertahankan hasil panen secara konsisten.

Di tengah tantangan tersebut, pemanfaatan teknologi hayati atau bioteknologi berbasis mikroba mulai banyak diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan untuk memulihkan kesehatan tanah pertanian. Isu tersebut menjadi salah satu sorotan dalam pameran teknologi pertanian INAGRITECH 2026.

Berbagai pelaku industri menampilkan inovasi yang berfokus pada peningkatan kualitas lahan, termasuk pemanfaatan pupuk hayati yang mengandalkan mikroorganisme alami untuk memperbaiki ekosistem tanah. 

Salah satu teknologi yang diperkenalkan mengombinasikan 18 jenis mikroba alami dengan fungsi berbeda di dalam tanah. Mikroba tersebut berperan membantu menguraikan unsur hara, menambat nitrogen dari udara, menghasilkan senyawa yang mendukung pertumbuhan tanaman, hingga membantu menekan perkembangan patogen penyebab penyakit.

Beberapa mikroba yang digunakan antara lain Azotobacter sp, Azospirillum sp, dan Streptomyces sp. Pendekatan ini dikembangkan sebagai upaya mengembalikan keseimbangan biologis tanah yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan kualitas akibat berbagai faktor, termasuk penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.

Ketergantungan terhadap pupuk kimia dinilai mampu meningkatkan kandungan unsur hara makro dalam jangka pendek. Namun, penggunaan yang tidak terkendali dapat mengganggu populasi mikroorganisme tanah dan merusak ekosistem alami yang berperan penting dalam menjaga kesuburan lahan.

Ketika keseimbangan biologis tanah terganggu, kemampuan tanaman menyerap nutrisi menjadi kurang optimal sehingga produktivitas pertanian berpotensi menurun. Karena itu, pemanfaatan pupuk hayati mulai dipandang sebagai salah satu pelengkap praktik budidaya untuk membantu memulihkan kondisi tanah.

Produsen Pupuk Hayati Dinosaurus menyebut formulasi yang dikembangkan tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki kesehatan tanah, tetapi juga berpotensi menekan biaya produksi serta meningkatkan hasil panen hingga 30 persen, meski capaian tersebut dapat berbeda bergantung pada kondisi lahan, jenis tanaman, dan teknik budidaya yang diterapkan.

Founder Pupuk Dinosaurus Freddy Wijaya mengatakan, persoalan degradasi lahan perlu mendapat perhatian lebih luas karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan sektor pertanian nasional.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore