
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung (tengah) dalam Media Gathering Kemenkeu, Bogor, Kamis (1/10). (Dok Djati Waluyo/JawaPos.com).
JawaPos.com – Angka inflasi Indonesia sebesar 3,28 persen secara tahunan masih berada dalam rentan yang ditargetkan oleh pemerintah. Yaitu 2,5 persen plus minus 1.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan angka inflasi tersebut masih belum terlalu berdampak terhadap daya beli masyarakat. Angka tersebut masih berada dalam rentang target.
“Inflasi (di angka) itu masih di dalam target range, artinya dia itu belum terlalu berdampak kepada daya beli. Belum terlalu berdampak pada decision making orang di dalam belanja, karena masih terjaga,” ujar Juda dalam Media Gathering Kementerian Keuangan, Bogor, Kamis (1/10). Juda melanjutkan inflasi yang mendekati batas atas target belum memberikan pengaruh dalam pengambilan keputusan apakah mau investasi dan konsumsi.
Menurutnya, inflasi Indonesia masih cenderung lebih baik dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Ia menyebut bahwa penentuan target inflasi di kisaran 2,5 plus minus 1 persen memang by design untuk menjaga daya beli masyarakat.
Ia mencontohkan jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada beberapa waktu lalu mengalami kenaikan maka akan berdampak langsung ke masyarakat khususnya inflasi pada sektor pangan.
“Tapi at the same time kita bisa menjaga fiskal karena apa? Karena kita coba melakukan efisiensi-efisiensi di pengeluaran-pengeluaran yang lain. Jadi memang kita mencoba untuk melakukan keseimbangan antara kita menjaga daya beli, menjaga growth dengan menjaga keseimbangan fiskal,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat inflasi pada September 2026 sebesar 3,28 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2025 atau year on year (yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan inflasi Indonesia secara bulanan tercatat sebesar 0,30 persen pada September 2026. Atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31.
Ateng menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan September 2026 dengan andil inflasi 0,26 persen dan tingkat inflasi sebesar 0,88 persen.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022