Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Juni 2024 | 05.53 WIB

Melihat Proses Pengolahan Emas di Martabe Agincourt Resources (1)

Proses pengolahan emas di tambang Martabe, PT Agincourt Resources, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

 

JawaPos.com - Tambang emas Martabe yang dioperasikan oleh PT Agincourt Resources (Member of Astra) (PTAR) berlokasi di Kelurahan Aek Pining, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ditemukan oleh Normandy (JV dan Anglo) pada 1997, Martabe diakuisisi oleh G-Resources Ltd. pada 2009 dan dimulai pembangunan pabrik pengolahan beserta infrastrukturnya pada 2010.

Penuangan emas awal dan pelepasan air sisa proses ke Sungai Batang Toru dimulai pada 2012. Empat tahun berselang, atau pada 2016, Martabe diakuisisi oleh sebuah konsorsium yang dipimpin oleh EMR Capital. Barulah pada 2018, Martabe diakuisisi oleh PT Danusa Tambang Nusantara yang merupakan anak perusahaan PT Astra International Tbk.

General Manager Operation PT Agincourt Resources, Rahmat Lubis memaparkan, secara kepemilikan, saat ini PT Danusa Tambang Nusantara memegang 95 persen saham dengan komposisi PT United Tractors Tbk (60 persen) dan PT Pamapersada Nusantara (40 persen). Sedangkan 5 persen sisa saham dipegang oleh PT Artha Nugraha Agung, perusahaan daerah milik Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, dengan komposisi PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (Pemprov) sebesar 30 persen dan PT Tapanuli Selatan Membangun (pemerintah lokal) sebesar 70 persen.

Luas wilayah kontrak karya (KK) tambang emas Martabe mencapai 130.252 hektare (Ha) mencakup Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, serta Kota Wilayah Padangsidimpuan. "Per Januari 2022, luas wilayah operasional tambang emas Martabe di Kabupaten Tapanuli Selatan saja sebesar 502 Ha," kata Rahmat.

Tambang emas yang ditetapkan sebagai objek vital nasional (obvitnas) melalui SK Menteri ESDM No. 2684.K/90/MEM/2015 tertanggal 7 April 2015 ini menyimpan sumber daya emas hingga 6,2 juta ons dan perak sebanyak 59 juta ons (September 2023). Adapun kapasitas penggilingan pabrik pengolahannya mencapai 7 juta ton bijih per tahun, untuk menghasilkan 200.000 ounce emas dan 1-2 juta ounce perak per tahun.

"Total karyawan dan mitra kerja ada sebanyak 3.328 orang, dengan persentase perempuan 22,54 persen," imbuh Rahmat.

Secara umum, tambang emas Martabe mencakup areal eksplorasi atau penambangan, pabrik pengolahan, dan fasilitas penunjang. Pekan lalu, dari Senin (3/6) sampai Rabu (5/6), JawaPos.com berkesempatan menilik proses pengolahan emas di Martabe.

Area pengolahan di tambang emas Martabe, PT Agincourt Resources, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Saat ini, tambang emas Martabe mengoperasikan tiga pit atau lorong bukaan, yaitu Pit Purnama yang dibuka pada 2011, Pit Baruna yang dibuka pada 2016, serta Pit Ramba Joring yang memiliki elevasi paling tinggi dibuka pada 2017. "Berapa ore yang mengandung emas dan berapa waste yang akan kita buang, datangnya dari pit semua," jelas Mika Purba, Mining Manager PT Agincourt Resources.

Selain ketiga pit yang sudah beroperasi, tambang emas Martabe juga memiliki dua pit yang belum dihitung cadangannya dan belum beroperasi, yaitu Pit Uluala Hulu dan Pit Horas. Mika menjelaskan, secara garis besar, ore atau bijih yang ditambang kemudian diangkut menggunakan eskavator untuk dibawa ke crusher atau mesin kompresi, pemecah material.

Dari primary crusher dan secondary crusher, ore yang lebih halus kemudian dimasukkan ke dalam grinding mills. Hasilnya, kemudian masuk proses Carbon-in-Leach (CIL), dan proses pengolahan selanjutnya hingga menjadi bullion. Sementara tailing atau limbah tambangnya didetoksifikasi terlebih dahulu sebelum dialirkan ke Tailing Storage Facilities (TSF).

"Air sisa pengolahan tetap akan kita pompakan ke WPP (IPA), sesuai standar baku mutu, Ph-nya, metal contain-nya, baru dialirkan ke sungai," lanjut Mika.

Rata-rata produksi ore dan waste per hari mencapai 20.000 BCM (Bank Cubic Meter), dengan orenya di rentang 8.000-9.000 BCM (dikalikan densitas 2,2 berarti setara 20.000-23.000 ton). Sedangkan sisanya atau setara 40.000-50.000 ton berupa tailing yang akan dibuang ke TSF untuk konstruksi bendungan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore