
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan stok BBM dalam negeri aman di tengah konflik di Timur Tengah. (YouTube Kementerian ESDM)
JawaPos.com-Pemerintah memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap aman meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas dan berdampak pada penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional. Salah satunya adalah mengalihkan sumber impor minyak mentah dari kawasan lain yang tidak melalui jalur tersebut.
“Kita sudah mengalihkan sumber pasokan ke Amerika atau ke negara-negara yang tidak melalui Selat Hormuz. Sementara menyangkut BBM, yang kita impor bensin itu dari Asia Tenggara dan tidak ada dari Timur Tengah,” kata Bahlil dalam keterangannya, Kamis (5/3).
Selanjutnya, ia memastikan bahwa cadangan BBM di dalam negeri saat ini dalam kondisi aman. Cadangan tersebut mampu memenuhi kebutuhan dalam 23 hari ke depan.
Pemerintah juga, kata dia, menambah pasokan dari wilayah seperti Afrika, Australia, dan Amerika Serikat guna menjaga suplai kilang-kilang dalam negeri. Hal ini untuk menjaga ketersediaan BBM nasional secara aman dan terjamin.
"Dengan kata lain, tidak benar stok BBM akan habis dalam sekitar 2 hari. Pemerintah menjamin masyarakat dapat merayakan Idul Fitri dengan tenang dan tidak perlu khawatir kekurangan pasokan BBM," ujar Bahlil.
’’Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita menjelang Hari Raya Idul Fitri aman, termasuk dengan LPG. Jadi tidak perlu ada keraguan sekalipun terjadi dinamika global,” tukasnya.
Sebelumnya, eskalasi konflik antara Iran dan Israel serta Amerika Serikat (AS) yang berujung pada penutupan Selat Hormuz diprediksi akan mendorong lonjakan signifikan harga minyak mentah dunia. Bahkan, harga minyak disebut bisa menembus USD 100 per barel jika perang meluas dan berlangsung lama.
Ekonom Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menjelaskan kenaikan harga minyak sudah mulai terasa sejak serangan pertama ke Iran terjadi. Dampaknya mulai dirasakan dunia secara langsung.
“Jadi serangan pertama ke Iran itu sudah menaikkan harga sampai USD 67 per barel. Kemudian naik lagi menjadi USD 70 dan setelah penutupan akan mencapai USD 80-an,” ujar Fahmy saat dihubungi, Senin (2/3).
Menurutnya, dampak langsung dari peperangan di kawasan Timur Tengah hampir pasti mendorong harga minyak dunia melonjak cukup besar. Kawasan ini merupakan pusat produksi dan distribusi energi dunia.
Ia menegaskan, skenario terburuk akan terjadi apabila konflik semakin meluas dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lama. Salah satu dampak signifikan adalah harga minyak mentah berpotensi naik. ’’Ya, kalau perang meluas, Selat Hormuz ditutup dan berlangsung lama, maka harga bisa naik sampai USD 100 per barel,” tandasnya. (*)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
