
Indonesia didorong mempercepat transisi energi bersih setelah krisis di Selat Hormuz akibat konflik Iran memicu lonjakan harga energi global. (dok. PGN)
JawaPos.com - Indonesia didorong mempercepat transisi energi bersih setelah krisis di Selat Hormuz akibat konflik Iran memicu lonjakan harga energi global. Gangguan distribusi minyak dan gas dunia tersebut dinilai menjadi peringatan bahwa ketergantungan pada energi fosil impor membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap gejolak geopolitik internasional.
Di tengah tekanan harga minyak dan LNG yang terus meningkat, percepatan penggunaan energi terbarukan dipandang semakin penting untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik sekaligus memperkuat keamanan energi jangka panjang.
Policy Strategist Cerah, M. Dwiki Mahendra, menilai langkah pemerintah yang saat ini fokus mengendalikan konsumsi BBM dan mencari pasokan energi alternatif, termasuk dari Rusia, masih bersifat jangka pendek. Menurut dia, Indonesia seharusnya memanfaatkan situasi krisis ini untuk mempercepat transformasi menuju energi bersih.
“Seharusnya pendekatan kerja sama bilateral yang telah dilakukan dapat pula diterapkan lebih gencar oleh Pemerintah Indonesia dalam mendorong proses transisi ke energi terbarukan, terkhusus dalam situasi krisis saat ini. Melalui langkah tersebut, percepatan energi terbarukan, kendaraan listrik, PLTS atap, serta elektrifikasi rumah tangga dipandang sebagai cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor yang harganya sangat fluktuatif,” kata Dwiki dalam keterangannya, Minggu (17/5).
Menurut Dwiki, kerja sama internasional yang dijalankan Indonesia seharusnya tidak hanya berorientasi pada pengamanan pasokan energi, tetapi juga diarahkan pada alih teknologi energi terbarukan, pembiayaan berbunga rendah, dan penguatan industri hijau nasional.
Selain itu, forum multilateral seperti G20, ASEAN, hingga berbagai skema pendanaan iklim dinilai perlu dimanfaatkan lebih optimal untuk menarik pembiayaan hijau. Dukungan tersebut dianggap penting guna mendukung target pemerintah membangun kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt (GW) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional.
“Krisis Hormuz telah membuktikan bahwa energi fosil rentan terhadap situasi geopolitik yang membentuk ketergantung terhadap rute pasok yang stabil. Kerentanan tersebut hanya dapat dijawab secara permanen oleh transisi energi,” tambah Dwiki.
Dalam laporan terbaru Komisi Transisi Energi atau Energy Transitions Commission (ETC) berjudul Lessons on Energy Security after the Hormuz Crisis: How Accelerating the Clean Energy Transition Builds Resilience Against Future Price Shocks, disebutkan bahwa krisis energi kali ini menunjukkan pentingnya kesiapan sistem energi alternatif di berbagai negara.
ETC memperkirakan percepatan penggunaan energi alternatif dapat memangkas permintaan minyak dan gas global lebih dari 20 persen pada 2035.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Sidang Kasus Pemuda Dipukul Pengusaha Buah di Surabaya, Saksi Sebut Tak Melihat Kejadian Jelas
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Toulouse vs Lille di Liga Prancis: Les Dogues Berpeluang Sikat Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Bali United vs PSS Sleman: Dominikus Dion Harap Super Elja Main Pede
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
