
Warga membeli BBM di salah satu SBPU di Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax naik. Perubahan harga itu dinilai untuk menjaga stabilitas neraca keuangan PT Pertamina (Persero).
Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo meminta Pemerintah membuat mitigasi dampak kenaikan harga Pertamax. "Salah satunya dengan memastikan subsidi berjalan tepat sasaran. Langkahnya dengan ketegasan penegakan hukum," ujar Hadi Ismoyo melalui sambungan telepon, Rabu (10/6).
Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga untuk BBM nonsubsidi untuk Pertamax (RON 92) yang sebelumnya Rp 12.300 naik menjadi Rp 16.250. Begitu juga dengan Pertamax Green (RON 95) berubah dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000.
Menurut Hadi, Pertamina dalam beberapa bulan terakhir telah menanggung beban biaya yang cukup besar menyusul terjadinya kenaikan crude internasional sekitar 30 sampai 50 persen akibat perang Timur Tengah.
“Untuk BBM Pertamax selama ini Pertamina sudah nombok rata-rata dikisaran Rp 4500 per liter. Konsumsi Pertamax sekitar 12 Juta KL per tahun. Artinya Pertamina harus nombok Rp 54 triliun per tahun dalam neraca laba rugi Pertamina,” kata Hadi.
Hadi menyebut di tengah gejolak politik global, Pertamina terpapar dua front sekaligus. Front pertama terkait kenaikan harga minyak mentah dan kenaikan harga dolar. Sampai saat ini, dia melihat belum ada arahan yang cukup jelas dari pemerintah dalam alokasi APBN untuk menambal kerugian yang dialami pemerintah.
Padahal Pertamina terus membutuhkan cash flow untuk menjaga pasokan minyak mentah, BBM, dan LPG dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional.
“Jadi, keputusan Pertamina tersebut dilakukan karena tidak ada pilihan lain. Sementara dengan lahirnya Perpres 26 Tahun 2026, juga antara lain memberi tugas Pertamina dan BLU lain untuk menjaga pasokan energi dengan segala manuver yang diperlukan,” ujar Hadi.
Kekhawatiran kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan yakni terjadinya migrasi konsumen Pertamax ke Pertalite. Hal ini karena rata-rata kendaraan yang mengonsumsi Pertamax masih dapat beralih ke Pertalite. Untuk mencegah itu, pemerintah termasuk BPH Migas bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menjamin subsidi tepat sasaran.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022