Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 Juni 2026 | 21.01 WIB

Pertamax Tembus Rp 16 Ribu Lebih, Cuitan Lama Partai Gerindra soal Kurs dan BBM kembali Viral

Rupiah melemah hingga Rp 18.200 dan Pertamax naik di atas Rp 16 ribu. Cuitan lama Gerindra soal kurs dan BBM kembali viral. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Rupiah melemah hingga Rp 18.200 dan Pertamax naik di atas Rp 16 ribu. Cuitan lama Gerindra soal kurs dan BBM kembali viral. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp 18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya memicu kekhawatiran ekonomi, tetapi juga membuka kembali arsip perdebatan politik lama di media sosial.

Dalam beberapa hari terakhir, warganet ramai mengunggah ulang sejumlah cuitan lama akun resmi Partai Gerindra yang pernah mengkritik kondisi ekonomi nasional saat masih berada di luar pemerintahan.

Jejak digital tersebut kembali menjadi bahan diskusi publik karena dinilai kontras dengan kondisi saat ini ketika Prabowo Subianto telah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Salah satu unggahan yang paling banyak dibagikan ulang berasal dari akun resmi Partai Gerindra pada 23 April 2018. Saat itu, akun @Gerindra merespons keluhan seorang pengguna media sosial mengenai kurs dolar yang mendekati Rp 14.000.

Dalam balasannya, akun tersebut menulis:
“Wah, sudah mau 14 ribu, ya? Padahal Presidennya bukan pak @prabowo.”

Cuitan tersebut kala itu menjadi bagian dari kritik politik oposisi terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo menjelang Pemilu 2019. Pelemahan rupiah sering dijadikan indikator untuk menyoroti kinerja ekonomi pemerintah saat itu.

Rupiah Melemah, Publik Pertanyakan Konsistensi Narasi Politik

Delapan tahun berselang, kondisi yang terjadi justru memunculkan pertanyaan baru di ruang publik. Ketika nilai tukar rupiah berada pada level yang lebih lemah dibandingkan periode yang pernah dikritik, banyak warganet mempertanyakan konsistensi narasi politik yang dahulu digunakan untuk menyerang pemerintah.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana jejak digital dapat kembali menjadi sorotan ketika situasi yang pernah dikritik muncul dalam konteks pemerintahan yang berbeda.

Di berbagai platform media sosial, unggahan lama tersebut beredar luas dan memancing diskusi mengenai hubungan antara dinamika ekonomi global, kebijakan pemerintah, serta penggunaan indikator ekonomi sebagai alat kritik politik.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore